Home » Review » Berita » 20 Nama Indonesia dalam 500 Tokoh Islam Dunia

20 Nama Indonesia dalam 500 Tokoh Islam Dunia

Baru-baru ini sejumlah tokoh Muslim Indonesia mendapat aspresiasi sebagai tokoh Muslim berpengaruh di dunia Islam. Kiprah mereka di bidangnya masing-masing dinilai telah membawa perubahan yang berdampak signifikan bagi dunia Islam secara umum. Total ada 20 nama tokoh Muslim Indonesia dinilai berpengaruh. Dan penting juga diingat, sebagian besar dari 20 nama itu adalah tokoh yang menyuarakan pesan-pesan kedamaian dalam Islam.

Apresiasi itu bernama The Muslim 500: The World’s 500 Most Influential Muslims 2016. Lembaga yang menginisiasi apresiasi tahunan itu adalah The Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC) yang berbasis di Amman, Jordania. Dan publikasi kali ini adalah yang ketujuh.

Dari 500 nama tokoh yang masuk dalam daftar, panitia membaginya menjadi dua kelompok, yaitu kelompok top 50 dan kelompok final 450. Kelompok pertama umumnya diisi kepala negara dan pemimpin keagamaan, sementara di kelompok kedua diisi tokoh-tokoh dari berbagai bidang.

Ada 4 nama tokoh Muslim asal Indonesia yang masuk dalam daftar kelompok pertama. Mereka adalah Presiden Joko Widodo, KH. Said Aqil Siradj, Din Syamsuddin, dan Habib Lutfi Yahya. Nama pertama berada di urutan ke-11, nama kedua berada di urutan ke-18, nama ketiga berada di urutan ke-44, dan nama terakhir berada di urutan ke-48.

Nama Jokowi menjadi spesial karena dialah presiden pertama Indonesia yang bukan berlatar militer dan bukan berasal dari keluarga elite politik. Jokowi juga dinilai sebagai politisi yang sukses dan bersih, seperti yang ia tunjukkan saat menjadi Walikota Surakarta dan Gubernur DKI Jakarta. Kebiasaan blusukannya pun menjadi sorotan karena itu dinilai menjadi caranya untuk dekat dengan masyarakat, selain untuk mengecek implementasi kebijakan di lapangan. Pada publikasi tahun lalu nama Jokowi sudah masuk dalam daftar. Saat itu ia berada di urutan yang sama pada tahun ini: ke-11.

Nama Said Aqil Siradj tampaknya sudah langganan masuk dalam daftar tokoh Muslim berpengaruh. Namanya sudah tercatat sejak 2010 (urutan ke-19), 2011 (ke-17), 2012 (ke-19), 2013 (ke-15), 2014/2015 (ke-17). Said dinilai berpengaruh karena ia adalah Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Ketum PBNU), organisasi Islam terbesar di Indonesia dan satu dari sekian organisasi Islam paling berpengaruh di dunia. Said juga dinilai punya perhatian yang kuat pada isu kebebasan beragama dan anti-diskiriminasi. Dia adalah satu dari sekian nama yang lantang mengutuk tindakan intoleransi kelompok Islam tertentu yang menolak keberadaan gereja yang marak terjadi beberapa tahun lalu.

Sama seperti Said, nama Din Syamsuddin sudah sering masuk dalam daftar The World’s 500 Most Influential Muslims, seperti pada 2009 (ke-35), 2010 (ke-39), 2011 (ke-400, 2012 (ke-39), 2013 (ke-33), dan 2014/15 (ke-27). Din menjadi tokoh yang penting dan berpengaruh karena kiprahnya di berbagai bidang. Dia terpilih menjadi Pengurus Pusat Muhammadiyah dalam dua periode 2005-2015. Dia juga Ketua Umum MUI Pusat, anggota Strategic Vision Russia-Islamic World, Ketua the World Peace Forum, dan petinggi di lembaga dialog antar-agama dan antar-kebudayaan lainnya. Dalam bidang akademik, dia dinobatkan menjadi Profesor Pemikiran Politik Islam di UIN Jakarta.

Nama Habib Luthfi bin Yahya baru kali ini masuk dalam daftar. Sosok yang dilahirkan 10 November 1947 itu sangat besar dinilai berpengaruh karena beberapa kiprahnya. Habib Luthfi, misalnya, adalah ketua umum perkumpulan tarikat yang diakui di lingkungan NU. Dia juga Ketua Umum MUI Jawa Tengah dan pemimpin spiritual tarikat Ba Alawi di Indonesia. Kapasitas keilmuan Habib Luthfi semakin diakui setelah mengunjungi Makkah and Madinah untuk menuntut ilmu. Di dua kota suci itu, ia mendapat ijaaza (otoritas) dalam berbagai ranah keilmuan Islam, termasuk hadis dan sufism.

Ukuran yang Digunakan

Rangking ini dibuat RISSC untuk mengukur pengaruh tokoh Muslim di dunia Islam secara umum atau sebagiannya. Yang dimaksud RISSC dengan berpengaruh di sini adalah mereka yang memiliki kekuasaan (kultural, finansial, politik, ideologi, dan sebagainya) dan memberi dampak yang penting bagi dunia Islam.

“Pengaruh dari seorang ulama terlihat dari cara mereka melayani umat dan mempengaruhi keyakinan, gagasan, dan perilaku umat. Atau pengaruh dari penguasa terlihat dari cara mereka membentuk faktor-faktor sosial-ekonomi di mana orang menjalani hidup mereka. Atau seniman yang membentuk budaya populer,” tertulis di kata pengantar apresiasi itu.

Ada 13 kategori yang ditetapkan untuk menentukan apakah para tokoh yang mendapat apresiasi itu benar-benar berpengaruh. Kategori-kategori itua dalah pemikiran, politik, hubungan antar-agama, penceramah, pilantrofi, isu sosial, bisnis, sains dan teknologi, seni dan budaya, media, dan seterusnya.

Namun, seperti diakui panitia publikasi ini sendiri, kategori politik dan pemimpin keagamaan adalah dua kategori yang paling diunggulkan dari 13 kategori yang ada. Karena itu, nama-nama yang masuk dalam top 50 secara umum adalah nama-nama kepala negara dan nama para pemuka agama.

Lalu, apa ukuran yang digunakan untuk menilai seorang tokoh Muslim itu pengaruh? Ada dua ukuran yang digunakan, yaitu aspek kuantitatif dan aspek kualitatif.

Aspek kuantitatif digunakan untuk melihat seberapa banyak jumlah orang yang dipengaruhi, jumlah buku yang ditulis, jumlah penjualan, dan seterusnya. Sementara aspek kualitatif digunakan untuk melihat kualitas si tokoh dan seberapa lama pengaruh itu dirasakan. Prestasi yang diukir sejak lama seorang tokoh tentu menjadi perhatian lebih dibandingkan prestasi yang baru diukir dalam beberapa tahun.

Tokoh Islam Damai

Setidaknya ada 16 nama tokoh Muslim asal Indonesia yang masuk dalam kelompok final 450. Pada kategori pemikiran ada nama Achmad Mustofa Bisri dan Syafii Maarif. Selain berpengaruh di organisasinya masing-masing (NU dan Muhammadiyah), keduanya juga dinilai sebagai sosok yang konsisten mempromosikan dialog dan perdamaian antar-agama serta menolak keras segala bentuk kekerasan berbasis agama.

Dalam kategori politik ada nama-nama seperti Anis Matta, Prabowo Subianto, dan Megawati Sukarnoputri. Kategori penceramah ada Tuti Alawiyaah, Abdullah Gymnastiar, dan Quraish Shihab.

Sementara dalam kategori pilantropi ada nama Haidar Bagir. Untuk isu sosial ada Husein Muhammad. Kategori Media ada Goenawan Mohamad. Lalu untuk sains dan tekhnologi ada Tri Mumpuni.  Seni dan budaya ada dua nama adik-kakak, yaitu Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa. Kategori pelantun al-Quran ada Maria Ulfah.

Lalu, apa yang bisa dibanggakan dari masuknya sejumlah nama tokoh Islam berpengaruh asal Indonesia dalam publikasi The World’s 500 Most Influential Muslims 2016? Sekurangnya ada dua hal.

Pertama, hingga kini Islam Indonesia tampaknya tidak pernah berhenti memproduksi tokoh-tokoh yang nama dan prestasinya bergema melintasi batas-batas negara. Akulturasi Islam dan kearifan lokal budaya Nusantara diduga membuat umat Islam Indonesia berbeda dengan umat Islam di negara-negara lain, yaitu umat Islam Indonesia dikenal lebih fleksibel.

Menurut Direktur Institute on Culture, Religion, and World Affairs, Boston University, Robert W. Hefner, terdapat tiga keistimewaan Islam Indonesia. Pertama, sistem pendidikan madrasah yang terbuka terhadap pembaruan gagasan, tidak konservatif, dan inovatif. Kedua, organisasi masyarakat Islam yang didirikan turut berkonstribusi besar dalam rangka memperbaiki masyarakat. Ketiga, arah perpolitikan umat Islam Indonesia dianggap sangat moderat dan adaptif.

“Muslim di Tanah Air dinilai Hefner menerima gagasan dan sistem konstitusi dan mayoritas tidak bertentangan dengan Islam. Disamping itu, umat Islam juga berperan dalam memberikan kemajuan terhadap bangsa dan negara melalui dukungan politik, sosial, dan pendidikan,” tulis Republika Online.

Kedua, mengulang tulisan di atas, sebagain besar nama yang masuk dalam daftar tokoh Muslim berpengaruh di atas, pernah juga masuk dalam daftar nama-nama “Tokoh Islam Damai” yang dirilis Majalah Madina pada Juni 2008. Nama-nama itu adalah Achmad Mustofa Bisri, Syafii Maarif, Abdullah Gymnastiar, Quraish Shihab, Haidar Bagir, dan Helvy Tiana Rosa.

Mereka ini, menurut Majalah Madina, adalah kalangan yang menjadikan wajah Islam tampak sejuk dan indah. Mereka inilah orang-orang yang berusaha menjadikan Islam benar-benar rahmat bagi sekalian alam.

“Memang di luar sana ada banyak kelompok yang atas nama Islam menyerang, merusak, mengobrak-abrik kaum yang mereka anggap sesat. Tapi, ada banyak pula orang yang berusaha mengingatkan bahwa Islam sebetulnya adalah ajaran yang membawa nilai-nilai kedamaian, keharmonisan, dan keindahan,” tulis Redaksi Majalah Madina. Nama-nama yang tersebut di atas adalah sebagian dari nama yang secara terbuka menyuarakan gagasan-gagasan yang mendukung kedamaian.[]

Irwan Amrizal

Komentar