Home » Review » Isu Media » Bangka Pos Diprotes Karena Pemberitaannya Menyudutkan Ahmadiyah

Bangka Pos Diprotes Karena Pemberitaannya Menyudutkan Ahmadiyah

Sebagai salah satu pilar demokrasi, media diharapkan berperan sebagai pengingat bagi penguasa yang berbuat lalim kepada kelompok minoritas. Karena itu, karya-karya jurnalistik yang diproduksi media harus diarahkan untuk memastikan hak-hak sipil warga tidak dilanggar oleh siapapun.

Salah satu hak sipil yang tidak boleh dilanggar adalah hak untuk bebas beragama dan berkeyakinan.

Sayangnya, masih banyak media yang lalai dengan khittahnya itu. Kala pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan masih sering dijumpai di Indonesia, media seringkali memposisikan diri sebagai entitas yang “netral’. Malah tidak jarang media memberikan dukungan terhadap pelanggaran hak sipil itu.

Satu media yang terakhir ini menjadi sorotan penggiat kebebasan beragama dan berkeyakinan adalah Bangka Pos. Media online daerah yang tergabung dalam jaringan Kompas-Gramedia itu dinilai tidak berimbang dalam pemberitaan terkait upaya pengusiran jamaah Ahmadiyah di Kabupaten Bangka oleh kelompok tertentu yang didukung Bupati Bangka Tarmizi Saat.

Untuk mengetahui pandangan Bangka Pos tentang Jamaah Ahmadiyah Bangka, bisa dilihat melalui dua tautan ini: Polemik Ahmadiyah dan Ahmadiyah. Pada tautan yang pertama ada tiga berita yang dimuat. Sedangkan tautan kedua ada lebih dari 70 berita yang dimuat.

Dari penelusuran singkat melalui dua tautan di atas, Bangka Pos tampak diskriminatif dan bermasalah.

Dalam sisi jumlah pemberitaan, terhitung Bangka Pos hanya memberi porsi pemberitaan yang sangat sedikit bagi versi Jamaah Ahmadiyah Bangka. Secara persentase mungkin hanya 10 persen dari total pemberitaan yang dimuat.

Sebaliknya, Bangka Pos memberikan porsi pemberitaan yang lebih banyak dari perspektif Bupati Bangka dan pihak-pihak yang berseberangan dengan Jamaah Ahmadiyah Bangka.

Sementara dari sisi konten, pemberitaan Bangka Pos pun terlihat bermasalah. Alih-alih memberi dukungan kepada Jamaah Ahmadiyah Bangka yang hak-hak sipilnya dilanggar, bahkan hendak diusir, Bangka Pos justru seperti berpihak kepada Bupati Bangka dan pihak-pihak yang menampakkan sikap intoleransi dengan menolak keberadaan jamah Ahmadiyah di Bangka.

Karena sikap Bangka Pos itu, penggiat Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) Tantowi Anwar menyatakan kritiknya. Lebih jauh, Towik, begitu dia akrab disapa, mengajak warga jika menemukan pemberitaan yang berpotensi mencabut hak-hak beragama dan berkeyakinan untuk melaporkannya kepada Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). (Dari gafatar ke Ahmadiyah, Dampak Berita Terhadap Pengusiran Warga)

Melihat pemberitaan Bangka Pos terkait Jamaah Ahmadiyah Bangka yang tidak berimbang itu, Pengurus Pusat Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) mengambil langkah. Kemarin (3/2) Kepala Hubungan Eksternal JAI Pusat, Kandali Achmad Lubis dan tim menemui Pimpinan Redaksi Bangka Pos.

Kunjungan tim JAI Pusat dari Jakarta itu ditemani intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU) Zuhairi Misrawi. Zuhairi selama ini dikenal sebagai tokoh yang punya jaringan pertemanan yang luas serta lintas kelompok dan agama. Zuhairi pun kerap bersuara bila ada tindakan intoleransi dan kekerasan bermotif agama yang menyasar kelompok manapun.

Kandali menuturkan alasan mengapa mengajak Zuhairi ikut serta dalam pertemuan dengan Pimpinan Redaksi Bangka Pos itu. Kandali mengaku beberapa hari yang lalu dalam satu kesempatan di Jakarta ia dan Zuhairi berbicara soal upaya pengusiran jamaah Ahmadiyah Bangka oleh Bupati Bangka. Dalam pertemuan itu juga keduanya menyinggung pemberitaan Bangka Pos yang terkesan miring terhadap Jamaah Ahmadiyah Bangka.

“Dari pertemuan itu kami sepakat mengunjungi Bangka Pos. Apalagi Mas Zuhairi penasaran dengan Pimpinan Redaksi Bangka Pos. Satu media yang termasuk dalam Grup Kompas,” urai Kandali kepada Redaksi Madina Online Irwan Amrizal (3/2) via telepon.

Di Bangka Pos, perwakilan Pengurus JAI Pusat dan Zuhairi ditemui tiga perwakilan Redaksi Bangka Pos. Yaitu  Daryono selaku pemimpin redaksi, Tariden Turnip selaku wakil pemimpin redaksi, dan Teddy Malaka selaku wartawan.

Di hadapan Pimpinan Redaksi Bangka Pos itu Kandali menyampaikan bahwa jamaah Ahmadiyah bukan komunitas terlarang. Dalam perjalanan sejarah bangsa ini, jamaah Ahmadiyah punya peran dalam pembangunan. Jamaah Ahmadiyah juga punya perhatian serius tentang kebhinekaan yang menjadi asas kehidupan berbangsa.

Terkait rencana pengusiran Jamaah Ahmadiyah Bangka oleh bupati, Kandali menyampaikan bahwa itu adalah pelanggaran hak sipil. Jamaah Ahmadiyah Bangka bukanlah warga ilegal. Terlebih tanah dan rumah yang dibeli Jamaah Ahmadiyah Bangka itu sudah sah sesuai hukum.

“Kami juga sampaikan bahwa motto Ahmadiyah itu love for all hatred for none. Artinya, kami ini organisasi yang mendahulukan cinta dan tidak akan membalas kebencian dengan kebencian,” ujar Kandali.

Kandali juga menceritakan pengalaman bagaimana jamaah Ahmadiyah di daerah lain yang diusir dari kampung halamannya sendiri. Jamaah Ahmadiyah yang terusir itu sampai saat ini terlunta-lunta di pengungsian. Karena pengalaman itu, Jamaah Ahmadiyah Bangka bersikeras tetap bertahan di Kelurahan Srimenanti apapun yang terjadi.

Atas dasar itu, Kandali meminta Pimpinan Redaksi Bangka Pos agar lebih berempati kepada Jamaah Ahmadiyah Bangka dalam setiap pemberitaannya. Tidak memojokkan dan juga memberikan Jamaah Ahmadiyah Bangka ruang untuk berbicara.

Sementara Zuhairi, menurut Kandali, memaparkan peranan penting Ahmadiyah di Eropa dan di Amerika Serikat. Di dua wilayah itu, kata Kandali, menirukan Zuhairi, jamaah Ahmadiyah tengah berjuang untuk memulihkan nama Islam yang tercemar akibat aksi terorisme yang membawa nama Islam.

“Di Amerika, Ahmadiyah bersama kelompok Islam lainnya menjadi motor perlawanan bagi kampanye Donald Trump yang sangat anti-Islam. Begitu juga di Eropa yang belakangan ini menguat islamopobia,” papar Kandali, mengutip Zuhairi.

Agar lebih berimbang terhadap Jamaah Ahmadiyah Bangka, Zuhairi berpesan agar pimpinan redaksi dan wartawan Bangka Pos lebih mengenali Ahmadiyah lebih dalam. Dengan cara sering-sering membuka sumber-sumber yang positif dan apresiatif terhadap Ahmadiyah di internet.

Dalam pertemuan yang, menurut Kandali, cair itu, ia melihat ada kesan positif dari perwakilan redaksi Bangka Pos. Daryono, misalnya, menyambut kedatangan perwakilan Pengurus JAI Pusat dan Zuhairi dengan ramah dan terbuka. Lebih jauh Daryono menyatakan bahwa ia menjadi lebih mengetahui Ahmadiyah dari uraian yang disampaikan.

Kunjungan Pengurus Pusat JAI ke Bangka Pos tidak sekali ini saja dilakukan. Kandali menegaskan bahwa Pengurus Pusat JAI akan mengagendakan kunjungan ke Bangka Pos secara berkala. []

Komentar