Home » Review » Berita » ANAS-GETOL: Aliansi Nasional Anti Syiah Membuat NKRI & Ukhuwah Islamiyah Terpecah-Belah
Deklarasi Aliansi Nasional Gerakan Toleransi di Bogor. Foto: kupasmerdeka.co

ANAS-GETOL: Aliansi Nasional Anti Syiah Membuat NKRI & Ukhuwah Islamiyah Terpecah-Belah

Warga Bogor menolak Deklarasi Aliansi Nasional Anti Syiah (Annas) Bogor yang akan dilangsungkan besok (22/11). Ratusan orang dari belasan organisasi masyarakat Bogor membuat gerakan tandingan. Jumat kemarin, mereka mendeklarasikan Aliansi Nasional-Gerakan Toleransi (ANAS-GETOL) di Taman Topi, Jalan Kapten Muslihat, Bogor (20/11).

Kendati baru dideklarasikan, gerakan ini sudah menuai hasil. Tak hanya mampu membuat kecut Annas tapi juga berhasil merangkul Walikota Bogor Bima Arya.

Menurut salah satu dekralator ANAS GETOL, Rachmat Imron Hidayat, gerakan ini dibentuk sebagai antitesis dan kontra terhadap Annas yang mengumbar kebencian.

“Kami ingin menjaga agar Bogor tetap toleran. Kalau Annas di Bogor dimuluskan nanti bisa menghilangkan toleransi di kota ini,” ujar Ketua Gerakan Pemuda Anshor (NU) Bogor ini kepada Madina Online (21/11).

Apalagi, sambungnya, Bogor baru-baru ini survei Setara Institute menempatkan kota hujan ini sebagai Kota Paling Tidak Toleran (baca: Bogor Dinilai Kota Paling tidak Toleran).

“Serangkaian kasus di Bogor dan terakhir survei Setara membuat kami segera merespons dan menyatukan visi dengan ormas-ormas lain dan membentuk ANAS GETOL,” katanya.

Mereka adalah Kujang Lima, Jaringan Aktivis ProDEM, Persatuan Mahasiswa Kota Bogor, GMNI Bogor Raya, BEM UNPAK, Jaringan Aktivis HMI, Gerakan Pemuda Ansor, Forum Mahasiswa Bogor, Kosgoro 57, ALMISBAT, Koalisi Rakyat Menggugat (KRM), IPABI, ANBTI.

“Ini bukti bahwa bukan hanya warga nahdliyyin semata tapi warga Bogor dan Indonesia ingin menjaga toleransi,” imbuhnya.

Tujuan dibentuknya ANAS GETOL ini untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menjaga Ukhuwah Islamiyah di Kota Bogor.

“Dalam undangan deklarasi Annas Bogor disebutkan bahwa Syiah bisa mengacak-acak NKRI. Justru merekalah yang bisa membuat NKRI dan Ukhuwah Islamiyah bisa terpecah belah,” tandasnya.

Menurut pria yang akrab disapa Kang Rommy ini, mazhab Syiah itu beragam. Tidak monolitik. Ada Syiah Rafidhah, Ghulat, dan Zaidiyah.

“Tidak semua Syiah sesat. Ada juga yang toleran. Ulama-ulama Sunni di  Al-Azhar Mesir pun mengakui adanya Mazhab Ja’fari yang adalah Syiah. Bahkan kalau kita lihat dalam literatur hadis, Imam Bukhari dalam kitabnya memasukkan satu riwayat yang perawinya itu kelompok Syiah yang toleran,” paparnya.

Dengan menentang gerakan-gerakan anti Syiah, lanjutnya, bukan berarti ia dan GP Anshor setuju dengan ajaran Syiah.

“Yang kami sayangkan itu kelompok Annas ini mengumbar kebencian. Bahkan KH. Hasyim Asyari, pendiri NU, sangat berhati-hati membicarakan Syiah. Dan beliau tidak mengajarkan kebencian,” jelasnya.

Sebelum dideklarasikan, ANAS GETOL telah melakukan beberapa pertemuan dengan pihak Pemerintahan Bogor dan aparat terkait (baca: Bima Arya tidak Mengizinkan Deklarasi Anti Syiah di Bogor). Dan kini hasilnya, menurut Kang Rommy, sudah mulai terlihat

Pertama, Annas sudah sedikit mengubah format acara. Sekarang lebih ke arah “pengajian”. Kedua, salah satu pengurus Annas sudah meminta maaf kepada Ketua Umum PBNU atas pencatutan logo NU.

“Bagi kami itu tidak cukup. Kami ingin ada permohonan maaf di media karena logo itu sudah kadung tersebar. Kami juga sedang melakukan konfirmasi (tabayun) bahwa ada beberapa pengurus Annas itu disinyalir orang-orang NU,” ulasnya.

Dua hal itu, menurutnya, memperlihatkan bahwa gerakan ANAS GETOL cukup berpengaruh.

“Mereka sepertinya sudah ketakutan. Gertakan yang kami lakukan sudah ada perubahan dan pengaruhnya,” ungkapnya.

Perubahan itu tak hanya tampak pada Annas tapi juga Walikota Bogor Bima Arya. Menurutnya, Bima tidak lagi mau kecolongan setelah dia mengeluarkan Surat Edaran yang berisi larangan bagi umat Islam Syiah Bogor untuk melakukan peringatan Asyura.

“Selain tidak mengizinkan acara Annas itu digelar di Balaikota Bogor, Bima juga beriktikad tidak akan hadir dalam acara besok untuk menjaga kertertiban umum,” tuturnya.

Bahkan, menurutnya, untuk mengobati kekecewaan warga Bogor dan kalangan nahdliyin atas terbitnya Surat Edaran itu, Bima dan Pemerintahan Kota Bogor akan memfasilitasi Haul Syuhada. Haul para pahlawan dan ulama di Balaikota bersama Habib Luthfi bin Yahya, Rais ‘Am Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Nahdliyyah.

“Setidaknya acara tersebut sebagai upaya meredam kegaduhan yang terjadi pasca Surat Edaran. Dia beriktikad baik untuk mengembalikan citra Bogor ini menjadi ramah dan toleran. Itu sebagai bentuk dukungan dia terhadap gerakan toleransi dan tidak mendukung Annas,” imbuhnya.

Menurutnya, hal ini dilakukan Bima karena berbagai respons negatif dari Surat Edaran itu. Mulai dari Komnas HAM, Wantimpres, dan masyarakat. Juga dari desakan dari gerakan ANAS GETOL.

“Sepertinya dia masih trauma. Dia belajar dari Surat Edaran lalu yang memancing adanya kekisruhan dan kegaduhan di Bogor. Juga adanya reaksi-reaksi dari kami,” ulasnya.

Kang Rommy berharap surat edaran itu dicabut oleh Bima. Karena, menurutnya, surat itu bersifat ambigu.

“Surat itu berisi larangan peringatan Asyura Syiah. Nah, ini juga bisa terkena bagi kalangan Sunni yang mau merayakan Asyura di 10 Muharram itu bisa saja malah dituduh sebagai Syiah. Ini menanamkan kebencian dan intoleransi,” pungkasnya.[Rifki]

Komentar