Home » Review » Buku » A.R. Baswedan, Merajut Tenun Kebangsaan

A.R. Baswedan, Merajut Tenun Kebangsaan

Oleh Muhammad Husnil

(Penulis dan Penyunting)

Judul   : Biografi A.R. Baswedan: Membangun Bangsa, Merajut Keindonesiaan

Penulis : Suratmin dan Didi Kwartanada

Penerbit: Penerbit Buku Kompas

Cetakan: I, 2014

Pada 1930 sebuah foto memantik revolusi pikiran kalangan Arab di Hindia Belanda. Foto yang dimuat majalah Matahari terbitan Semarang itu menunjukkan seorang pemuda Arab mengenakan blangkon dan berbaju lurik. Saat itu blangkon dan baju lurik merupakan identitas orang Jawa. Lantas saja Abdul Rahman Baswedan, nama pemuda Arab itu, menjadi bahan pembicaraan di komunitasnya.

Menurut penelusuran Didik Kwartanada dan Suratmin, foto itu merupakan salah satu pelumas pendirian organisasi yang menyatukan komunitas Arab di Hindia Belanda: Persatuan Arab Indonesia, yang di kemudian hari berubah menjadi Partai Arab Indonesia (PAI). PAI inilah yang mendorong orang-orang Arab menerima Indonesia sebagai tanah air mereka. Abdul Rahman Baswedan adalah salah seorang pendiri sekaligus ketua pertama PAI.

Dalam hal kenegaraan A.R., panggilan akrab Abdul Rahman Baswedan, memang kukuh memilih Indonesia ketimbang Hadramaut. Bagi masyarakat Arab di Hindia Belanda pada 1930-an, pandangan A.R. ini dianggap aneh. Rata-rata mereka bermimpi kembali ke Hadramaut, tanah orang tua dan nenek moyang mereka. Saat itu Indonesia ini masih dicengkeram Belanda. Perjuangan A.R. dalam menanamkan kecintaan terhadap Indonesia kepada saudara sebangsanya di kalangan Arab sangat berarti dalam perjuangan kemerdekaan negeri ini.

Karena itu Biografi A.R. Baswedan; Membangun Bangsa, Merajut Indonesia ini sangat penting untuk melihat peran A.R. dalam ikut membangun bangsa ini. Secara materi, biografi ini merupakan pengembangan dan revisi buku Suratmin yang terbit terbatas pada 1989, Abdul Rahman Baswedan; Karya dan Pengabdiannya. Dengan beberapa perubahan dan penambahan materi, buku ini menceritakan lebih lanjut konteks dan perjuangan A.R. bagi Indonesia.

Tenun Kebangsaan

Lahir dari keluarga berada pada 9 September 1908 di Kampung Ampel, Surabaya, A.R. merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara. Sejak kecil, ia tumbuh dengan nada perlawanan terhadap sekat-sekat yang ada di sekelilingnya. Sekolah pertama kali di Al-Khairiyah, namun karena menemukan ketidakcocokan dengan guru-gurunya ia akhirnya pindah ke Al Irsyad di Jakarta yang dipimpin Syekh Ahmad Surkati. Dari Surkati, A.R. mendapatkan pemahaman kuat tentang persamaan derajat manusia.

Pada gilirannya, Surkati menyuntikkan cikal-bakal pemikiran A.R. tentang bagaimana menyatukan kalangan Arab Indonesia yang kerap bertengkar karena permasalahan strata sosial dalam masyarakat Arab. Saat itu, kalangan Arab di Hinda Belanda memiliki strata sosial sebagaimana di Hadramaut: sayid, gabili, syaikh, dhuafa. Bila sayid adalah keturunan Nabi, gabili merupakan keturunan kelas ksatria; syaikh keturunan ulama atau intelektual; dhuafa keturunan budak. Kondisi ini diperumit dengan adanya peraturan pemerintah Belanda yang membagi masyarakatnya ke dalam tiga kelas: kelas pertama Eropa atau kulit putih; kelas kedua keturunan Arab dan Tionghoa; kelas ketiga adalah pribumi. Selain itu, pemerintah Belanda juga menempatkan keturunan Arab dan Tionghoa dalam perkampungan tersendiri sehingga tak bercampur baur dengan warga bumiputera. Misalnya, ada perkampungan Arab di Surabaya dan ada juga Pecinan di berbagai kota.

A.R. keluar dari sekat-sekat itu dengan menjalin persahabatan dengan siapa pun, baik dari kalangan yang disebut kelas satu, kelas dua, maupun kelas tiga. Ia menghapus semua pembagian kelas dan strata sosial itu dari alam bawah sadarnya. Ia maklum, perjuangan menggapai kemerdekaan tak bisa hanya dilakukan sebagian orang. Semua kalangan yang ada di Hindia Belanda perlu bersatu mendukung gagasan kemerdekaan Indonesia.

Pada masa persemaian gagasan kemerdekaan Indonesia, A.R. bersahabat lekat dengan tokoh-tokoh Tionghoa yang mendukung kemerdekaan Indonesia, seperti Kwee Hing Tjiat, pemimpin redaksi Mata hari, Liem Koen Hian, pemimpin redaksi Sin Tit Po dan pendiri Partai Tionghoa Indonesia, dan Tjoa Tjie Liang, wartawan kawakan.

Berkat pergaulannya yang luas dan pembawaannya yang hangat, lewat PAI A.R. berhasil menyatukan kalangan Arab di Hindia Belanda dan juga menyadarkan mereka bahwa tanah air mereka Indonesia. Sebagaimana para pemuda dari berbagai suku bangsa yang bertekad bersatu dalam satu bangsa Indonesia lewat Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, A.R. menggagas Sumpah Pemuda Arab Indonesia pada 4 Oktober 1934 yang meneguhkan komitmen keindonesiaan mereka.

Sebelas tahun kemudian Indonesia merdeka dan keturunan Arab berhasil melebur menjadi bagian bangsa ini. A.R. sendiri ikut berjuang dengan menyembunyikan surat pengakuan kemerdekaan dari Mesir; surat pertama dari negara lain yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Kita lalu menyaksikan betapa banyaknya anak bangsa keturunan Arab yang turut mewarnai perjalanan negeri ini. Dengan mudah kita bisa menyebut mereka, seperti Ahmad Albar dan Ahmad Rafiq, keduanya penyanyi, Ali Alatas yang menjadi Menteri Luar Negeri, Quraish Shihab yang menjadi pakar tafsir Indonesia dan Menteri Agama, Fuad Hassan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan kini Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Kondisi ini tentu akan sulit terwujud bila tak ada gerakan perjuangan yang dirintis A.R. Dengan PAI, A.R. sebenarnya mendorong proses merajut tenun kebangsaan ini. Sebagaimana tenun yang elok terdiri dari beragam warna benang, Indonesia adiwarna karena didirikan oleh mereka yang berasal dari berbagai suku dan bangsa. A.R. membawa warna Arab dalam tenun bernama Indonesia.

Komentar