Home » Khazanah » Sejarah » Manuskrip Kuno itu…

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 3, Tahun 1, Maret 2008)

Manuskrip tebal beraksara Jawa itu tergeletak di meja Institut Malaiologie, Universitas Cologne, tempat saya melakukan riset sejak 2006 lalu, atas beasiswa Yayasan Alexander von Humboldt, Jerman. Saya sendiri tidak bisa mengidentifikasi teksnya, setebal 832 halaman. Yang pasti, manuskrip dengan kertas Eropa sebagai alas naskahnya ini tentu sudah berumur ratusan tahun. Lembaran-lembaran kertasnya pun terkelupas di mana-mana.

Manuskrip Kuno itu…

Pertengahan Februari 2008 lalu, Institut Malaiologie membeli manuskrip itu dari seorang penjual barang antik di Yogyakarta yang menawarkannya lewat Ebay, sebuah situs jual-beli online, seharga 199 dolar AS atau sekitar 134 Euro. Ini bukan yang pertama. Januari 2007 lalu, lembaga yang sama juga membeli sebuah salinan manuskrip Arab yang menjadi topik penelitian saya, berjudul Ithaf al-Dhaki, dari seorang penjual barang antik online di Amsterdam – dengan harga lebih mahal: 695 Euro! Manuskrip yang berasal dari Istanbul, Turki, ini memang tidak ditulis dalam salah satu bahasa daerah di Indonesia. Tapi pengarangnya, Ibrahim al-Kurani, yang juga guru sejumlah ulama asal Nusantara, khususnya Abdurrauf ibn Ali al-Jawi asal Aceh, jelas menulisnya dalam konteks sosial-keagamaan di Melayu pada pertengahan abad ke-17 lalu.

Institut Malaiologie hanya salah satu dari beberapa lembaga di Jerman yang menaruh perhatian terhadap kajian atas manuskrip-manuskrip ketimuran (oriental manuscripts). Bahkan, khusus untuk kajian wilayah Nusantara, lembaga ini baru memulainya setelah Edwin Wieringa duduk sebagai Profesor bidang Filologi Indonesia dan Kajian-kajian Islam pada 2004 lalu.

Yang bisa dibilang terdepan dalam hal ini adalah Universitas Leipzig. Seperti bisa dilihat dalam situsnya (www.islamic-manuscripts.net), Perpustakaan Universitas Leipzig telah mengoleksi sekitar 3.200 manuskrip asal Turki dan Arab, yang sebagian besar isinya tentang masalah-masalah keislaman. Sejak 2006, melalui Institute of Oriental Studies-nya, Universitas Leipzig juga telah memulai program digitalisasi manuskrip-manuskrip Arab dan Persia, serta memfasilitasi akses terhadap teks-teks digital tersebut secara online.

***

Dari waktu ke waktu, masyarakat akademis di Eropa memang telah menunjukkan minatnya untuk mengkaji manuskrip – tidak hanya yang berasal dari Nusantara, melainkan juga dari wilayah Timur lainnya seperti Arab, Iran, dan Turki. Saat ini, sejumlah besar manuskrip tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di Eropa, seperti Leiden, Berlin, dan London. Semuanya menjadi sumber kajian bagi siapa pun yang berminat terhadap studi-studi ketimuran.

Setahu saya, salah satu kekuatan tradisi keilmuan di Eropa memang pada kajian atas sumber-sumber lokal berupa manuskrip. Inilah yang antara lain membedakannya dari tradisi keilmuan di negara-negara lain seperti Amerika dan Australia, yang lebih mengedepankan aspek-aspek sosiologis dan antropologis.

Tengok Perpustakaan Leiden misalnya. Koleksi manuskrip ketimuran, dan khususnya Indonesia, di Perpustakaan ini termasuk salah satu yang terbesar di dunia. Voorhoeve (1980), Iskandar (1995), dan Wieringa (1998 & 2007) adalah contoh sarjana yang menyusun katalog sebagai pintu masuk untuk mengkaji manuskrip-manuskrip asal Indonesia yang dikoleksi Perpustakaan Leiden, baik yang berbahasa Arab, Melayu, Minangkabau, atau lainnya. Saya beruntung mendapat kesempatan untuk melakukan penelitian di Universitas Cologne, yang relatif dekat ke Leiden. Berkali-kali saya bolak-balik ke sana, jika saya perlu membaca beberapa manuskrip.

Di Jerman sendiri, dukungan terhadap berbagai kajian manuskrip ini diberikan langsung, baik oleh Pemerintah Federal maupun Pemerintah Jerman sendiri. Mereka misalnya memberikan dukungan finansial terhadap Program “The Union Catalogue of Oriental Manuscripts in German Collections” (KOHD), sebuah proyek yang bertujuan untuk mendaftarkan semua manuskrip ketimuran yang ada di Jerman, dan mengelolanya agar bisa diakses oleh siapa pun.

***

Pada akhir Desember 2007 lalu, saya membaca berita bernada sedikit provokatif di Gatra edisi 6, yang menurunkan berita soal “perburuan” manuskrip kuno Indonesia oleh mereka yang disebut sebagai para “Peneliti Malay” Negeri Jiran. Saya kira agak berlebihan untuk mengatakan bahwa para pembeli manuskrip kuno itu sebagai “pencuri”, meskipun saya juga setuju bahwa pihak Indonesia sendiri jelas lebih berhak memiliki, mengelola, serta mengkaji khazanah warisan leluhurnya itu.

Masalahnya, kita di Indonesia sendiri – baik secara pribadi maupun kelembagaan – hingga kini tidak memberi perhatian sepatutnya terhadap pelestarian manuskrip-manuskrip kuno tersebut. Para peneliti di Universitas Islam Nasional (UIN), tempat saya mengajar, misalnya, belum banyak yang tertarik mengkajinya. Lalu, upaya katalogisasi dan digitalisasi manuskrip yang telah dilakukan di berbagai wilayah seperti Jawa Barat, Palembang, Sumatra Barat, Sulawesi Selatan, dan Aceh, nyaris selalu bergantung pada bantuan lembaga-lembaga donor asing. Belum lagi sikap tertutup masyarakat pemilik manuskrip: karena menganggap manuskrip-manuskrip itu hanya benda keramat, anak-cucu mereka pun tidak pernah mengetahui kearifan apa yang terkandung di dalamnya, sampai semuanya itu musnah dimakan rayap!

Kalau kondisi kita masih demikian, alih-alih menganggap pembeli manuskrip itu pencuri, saya malah cenderung berterima kasih kepada mereka. Berkat merekalah manuskrip-manuskrip itu kini masih terpelihara dan dapat dibaca siapa pun.

By the way, tentu saja saya bukan tidak khawatir bahwa suatu saat semua manuskrip itu beralih tangan, pindah ke negara-negara lain. Itu bukan pula berarti saya tidak peduli bahwa anak-anak bangsa menjadi perlu biaya mahal untuk mengakses warisan moyang mereka sendiri. Bukan, bukan itu masalahnya! Saya hanya lebih khawatir bahwa tinta-tinta yang sudah lama mengering itu akhirnya tidak dapat dibaca lagi. Atau kertas-kertas yang memang lapuk itu tidak bisa dibuka lagi, hingga kita tidak pernah bisa tahu lagi sejarah kearifan para pendahulu kita sendiri.

Nah, dari pada menyalahkan atau mencari pihak lain sebagai “kambing hitam”, mungkin akan lebih baik jika kita bersama segera belajar dan berkompetisi secara sehat untuk membangun tradisi keilmuan yang berbasis pada manuskrip. Kalau tidak, jangan kebakaran jenggot jika orang lain mendahului kita!***

*Penulis adalah dosen UIN Jakarta. Kini sedang menjadi Peneliti Tamu pada The Alexander von Humboldt-Stiftung, Institut Malaiologie, Universitas Cologne, Jerman.

 

Komentar