Home » Khazanah » Dunia Islam » Maman Imanulhaq Faqih: Santri Pesantren Tidak akan Berani Mengkafirkan
Kirab Santri Nasional Foto: jpnn.com

Maman Imanulhaq Faqih: Santri Pesantren Tidak akan Berani Mengkafirkan

Tanggal 22 Oktober resmi ditetapkan pemerintah sebagai Hari Santri Nasional. Beberapa saat sebelum resmi ditetapkan, ada gerakan yang mengajak umat Islam untuk belajar di pondok pesantren: Ayo Mondok.

Di media sosial, gerakan ini dituduh kalangan puritan sebagai agenda Islam Liberal. Hal ini lantaran kalangan Islam Liberal, yang memang mayoritasnya lulusan di berbagai pondok pesantren, ikut mendukung dan mensosialisasikan gerakan ‘Ayo Mondok’ ini.

Gerakan ‘Ayo Mondok’ yang pararel dengan pengukuhan Hari Santri Nasional ini awalnya diinisiasi oleh kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Lalu kemudian banyak organisasi Islam yang tergabung dalam Lembaga Persaudaraan Ormas Islam (LPOI) ikut mendukung pengukuhan Hari Santri ini.

Seperti dimuat di laman resmi www.harisantri.id, mereka adalah NU, Syarikat Islam Indonesia (SII), Persatuan Islam (PERSIS), Al Irsyad Al Islamiyyah, Mathlaul Anwar, Al-Ittihadiyah, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Ikatan DA’I Indonesia (IKADI), Azzikra, Al-Washliyah, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), dan Persatuan Umat Islam (PUI).

Apakah betul tuduhan sebagian umat Islam bahwa ‘Ayo Mondok’ dan pengukuhan Hari Santri ini agenda Islam Liberal? Apakah Hari Santri ini akan membelah umat Islam menjadi dua kelompok: santri dan non-santri? Kenapa Hari Santri mengambil momen Resolusi Jihad 22 Oktober 1945?

Berikut wawancara Madina Online via telepon dengan KH. Maman Imanulhaq Faqih, Anggota DPR Komisi 8 yang juga pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan, Majalengka, Jawa Barat (13/10).

Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan, apa kesan Anda terhadap Hari Santri Nasional?

Pertama, Hari Santri jadi bukti janji Jokowi terhadap dunia pesantren dan santri khususnya. Tapi tidak cukup sekadar penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri, lebih dari itu Jokowi harus merealisasikan juga Nawacita nomor 1 dan 8 tentang kehadiran negara untuk mengusung nilai-nilai agama yang transformatif dan penuh kedamaian. Karena itu menjadi penting untuk memberdayakan kembali titik-titik pusat Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Dengan prinsip ini seharusnya tidak boleh ada lagi penyegelan serta penghancuran masjid dan gereja. Dan kekerasan atas nama agama harus dihentikan.

Kedua, dari sisi santri, ini suatu kebanggaan bagi kami dan menjadi momentum penting agar santri kembali bangkit. Apalagi momentum ini bertepatan juga dengan Resolusi Jihad, maka kami ingin menandai kebangkitan santri.

Kebangkitan itu dimulai dari keinginan untuk menginventarisasi kembali apa yang disebut sebagai pesantren values. Nilai-nilai pesantren yang digali dari beberapa pesantren dan tokoh pesantren, baik mereka yang menjadi ulama besar, ahli tarekat, politisi, lain sebagainya. Seperti dari Wahid Asy’ari, misalnya. Dan itu akan menjadi sumbangsih penting bagi gerakan kebangkitan santri.

Ketiga, hari santri ini akan menjadi perayaan kita semua.

Menurut Anda, kenapa Hari Santri mengambil momentum Resolusi Jihad? Bukankah selama ini kata “jihad” konotasinya buruk?

Tujuannya, saya kira, untuk melakukan koreksi total kepada orang yang selama ini mengidentikkan jihad dengan perang. Jihad itu bentuk kesungguhan kita dalam melakukan perubahan. Dalam konteks santri itu harus dimulai dengan pendidikan. Pendidikan di pesantren yang terbukti sudah lama menjadi ciri khas sistem pendidikan di Indonesia terbukti telah melahirkan tokoh-tokoh yang penuh karakter. Dari mulai tingkat bawah di desa sampai nasional.

Jadi, Resolusi Jihad ini artinya kita akan terus melakukan jihad. Perjuangan melalui pendidikan. Termasuk pendidikan Islam yang ada di pesantren. Tujuannya untuk menumbuhkan nasionalisme. Dalam pandangan pesantren, antara Islam dan nasionalisme itu saling menguatkan dan saling mengokohkan. Ketika kita membela Islam, maka kita harus membela bangsa dan negara kita. Ketika kita memajukan negara, maka itu artinya kita sedang merealisasikan atau mengimplementasikan nilai-nilai Islam.

Jihad adalah metode, cara, alat yang kita pakai untuk perubahan dan peradaban yang lebih adil, setara, makmur, sejahtera. Jihad yang kita maksud bukan turun ke jalan dengan senjata tajam, dan teriak-teriak tidak karu-karuan.

Musuh kita hari ini bukan musuh riil berupa pasukan-pasukan militer. Musuh kita adalah ide dan gerakan-gerakan yang sulit terdeteksi terkait degradasi moral dan tayangan-tayangan media yang tidak mendidik. Jihad kita adalah melalui advokasi terhadap masyarakat. Mendidik dan memberikan akses pendidikan kepada masyarakat. Inilah hebatnya Hari Santri itu.

Tadi Anda mengatakan bahwa pesantren adalah sistem pendidikan khas Indonesia. Apa yang khas dari pesantren dan santri di Indonesia?

Santri adalah kelompok anak muda yang belajar di sebuah tempat yang namanya pesantren. Kita berbeda dengan tempat lain itu karena, pertama, dari motivasi atau niat santri itu betul-betul dia karena Allah (li Allahi Ta’ala). Tidak pernah berpikir kalau di pesantren itu kita ingin dapat ijazah, gelar atau jabatan. Yang penting belajar adalah kewajiban. Ketaatan adalah nilai yang kita junjung tinggi. Maka muncullah karakter mau bekerjasama dan sebagainya.

Kedua, pesantren penuh dengan kemandirian. Di pesantren saya, Al-Mizan, misalnya, ada santri yang hanya berbekal dorongan dari orangtua tanpa dana dan sebagainya. Tapi dia bisa menyelesaikan tidak hanya pendidikannya di pesantren tapi juga kuliahnya. Mulai dia masuk MTS lalu belajar di SMA itu saran saya sampai dia kuliah dan selesai. Itu semua penuh kemandirian. Dia memang butuh uang dan dia bekerja keras untuk itu dan tidak mengabaikan niat awal, yaitu pendidikan.

Ketiga, ciri khas dari pesantren adalah bagaimana nilai-nilai agama ini menjadi sebuah nilai yang sangat transformatif dan emansipatoris. Sehingga tidak pernah mempertentangkan agama dengan kebudayaan serta kearifan lokal dan tidak juga dengan negara.

Dalam konteks inilah sebenarnya kita punya ciri khas. Beda dengan di negara yang lain. Lembaga pendidikan agama lain, misalnya, hanya mendidik soal agama saja dan tidak terlibat dalam proses-proses transformasi di tengah masyarakat. Karena itu hari ini kita bisa melihat Sudan, Irak, Yaman yang didera konflik.

Kita tidak bisa memungkiri, misalnya, orang sekelas Wahbah al-Zuhaili, ulama Syria terkemuka dan pengarang tafsir Al-Munir serta kitab-kitab fikih, pun dia betul-betul hanya seorang ulama atau kiai. Tapi di Indonesia, seorang ustad yang hanya beberapa tahun di pesantren dia bisa menjadi motor bagi sebuah perubahan besar. Dia akan bicara soal pertanian, perdagangan, dan sebagainya. Nah inilah sebenarnya karakter yang muncul dari sebuah komunitas khas Indonesia bernama pesantren yang di dalamnya ada para santri.

Sebelum Hari Santri resmi ditetapkan, ada gerakan yang mengajak umat Islam untuk belajar di pondok pesantren: Ayo Mondok. Di media sosial, gerakan ini dituduh banyak kalangan puritan sebagai agenda Islam Liberal. Komentar Anda?

Santri itu dididik untuk mengusai ilmu-ilmu agama yang mendasar. Soal nanti pandangan mereka berbeda-beda, ada yang lebih konservatif dan juga ada yang, anggaplah, lebih liberal itu soal lain. Tapi keliberalan seorang santri itu berbeda dengan liberal an sich. Keliberalannya itu biasanya tidak pernah terlepas dari teks (Al-Quran dan hadis, red.).

Jadi, prinsip seorang santri itu dia akan selalu tergantung dan mengacu pada nilai teks itu. Dengan berpedoman pada teks, dia bisa berhubungan dengan kalangan non-muslim, berkreasi, dan tidak kehilangan sense of humor. Jadi jangan dianggap bahwa santri kalau liberal dia meninggalkan salat. Santri itu, seliberal Ulil Abshar Abdalla misalnya, itu sering puasa Senin-Kamis. Dia juga salat di awal waktu. Atau Abdul Moqsith Ghazali, dia menguasai ushul fikih dan bergaya bahasa dan tutur kata yang lemah lembut, tenang, dan sebagainya.

Jadi, kalau ada orang yang ketakutan bahwa santri itu diarahkan ke arah liberal, jawabannya justru yang ketakuatan itulah yang perlu dipertanyakan penguasaan mereka terhadap nilai-nilai agama. Sekarang ini berkat pesantren, Indonesia menjadi negara muslim terbanyak di dunia. Kenapa? Itu karena perjuangan pesantren lewat para wali dan kiai yang selalu berusaha untuk mengislamkan orang.

Sebaliknya, hari ini kelompok-kelompok non-santri, mereka yang hanya belajar beberapa hari atau menjadi artis lalu dengan modal judgment sedikit, dengan gampang mengkafirkan orang sekelas Quraisy Shihab, Said Aqil Siroj, dan sebagainya. Santri pesantren tidak akan berani mengkafirkan. Kalau debat atau berbeda pendapat itu tidak masalah, tapi tidak sampai mengkafirkan. Itu khasnya pesantren.

Beberapa kalangan mengkhawatirkan bahwa dikotomi antara santri dan non-santri akan punya dampak tertentu. Misalnya, hanya santri yang mampu menguasai ilmu-ilmu agama, sedangkan yang non-santri itu tidak diakui pemahaman atau keilmuan keislamannya. Komentar Anda?

Siapapun sebenarnya bisa disebut santri ketika dia memenuhi tiga karakter. Pertama, dia menguasai keilmuan agama, baik yang dia dapatkan di pesantren atau luar pesantren. Yang penting dia belajar sungguh-sungguh tentang ilmu agama (tafaqquh fiddin).

Kedua, dia mengamalkan ilmu agama itu. Bukan hanya sekadar wacana dan pemikiran. Ketiga, yang lebih penting, dengan ilmu agama itu dia mengembangkan sebuah nilai Islam yang toleran, pro terhadap perubahan, dan Islam yang membentuk peradaban.

Semua bisa menjadi santri. Dan itu dulu dilakukan oleh tokoh-tokoh di NU. Misalnya, ada santri yang dia hanya jadi pedagang. Tapi dia mempromosikan kesantriannya lewat berdagang dengan jujur. Jadi, menjadi santri ini tidak lantas akan membuat semacam pembatasan. Tapi justru menguatkan kembali values. Nilai karakter santri yang mengedepankan Islam yang penuh dengan cinta kasih, toleran, dan Islam yang selalu merujuk pada sebuah peradaban.

Bagaimana kita bisa hari ini masih percaya kepada Islam di Timur Tengah ketika mereka terus berperang? Ketika atas nama perbedaan suku dan mazhab mereka saling bunuh. Bagaimana kita berkiblat kepada Islam seperti di Arab Saudi yang tidak punya perspektif hak asasi manusia ketika penangganan tragedi Mina dan sebagainya.

Salah satu tanggung jawab besar hari ini adalah Islam Indonesia atau Nusantara sebagai alternatif. Dan itu dimulai dari memunculkan spirit santri untuk melakukan perubahan bukan hanya di Indonesia bahkan di dunia. Momentum Hari Santri ini akan menjadi semacam starting point bagi munculnya kiblat peradaban Islam dunia. Dan itu adalah Indonesia.

Islam memang lahir di negara Arab dan telah melahirkan tokoh-tokoh besar. Tapi hari ini yang bisa menjadikan nilai Islam menjadi sebuah wajah bagi perubahan itu adalah Islam Indonesia atau Nusantara.

Jadi, menurut Anda, santri itu tidak harus belajar di pesantren?

Iya, walaupun asalnya santri itu berasal dari pesantren. Tapi ke depan, nanti ada santri di pesantren virtual atau kosmopolitan. Ada pesantren yang mendidik santri lewat mekanisme yang berbeda dari yang sekarang. Tapi dia tetap memakai nilai-nilai santrinya atau kepesantrenannya seperti soal kemandirian, kejujuran, kesederhanaan. Idenya mirip Tasawuf Modern Buya Hamka.

Hari ini kita melihat pola santri yang sederhana ini justru di dunia modern, dalam perangkat-perangkat modern.

Sebagai anggota DPR, apa yang Anda lakukan untuk mensosialisasikan spirit kesantrian atau kepesantrenan ini?

Saya kebetulan di Komisi 8. Di komisi ini mitra kami adalah Kementrian Agama, Kementrian Sosial, Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Anak. Tiga kementrian ini selalu kami dorong agar harus mengusung spirit kemanusiaan. Agama harus jadi energi.

Di DPR kami menggali, pertama, problematika kehidupan di tengah masyarakat. Baik itu pendidikan, sosial, termasuk agama. Kedua, kami melahirkan rancangan undang-undang yang betul-betul mengusung nilai-nilai kesantrian. Misalnya, UU tentang Perlindungan Anak. Dalam menggodok UU ini kami, misalnya, mengacu pada KH. Mahruz Ali di Lirboyo, Jawa Timur.

Kenapa beliau bisa begitu dihormati dan dihargai, karena beliau tidak pernah tidur malam kecuali keliling terlebih dulu di pesantrennya. Mendeteksi apa yang terjadi kepada anak-anak atau santrinya. Itu kan cikal-bakal dari bagaimana UU Perlindungan Anak bahkan pengasuhan anak yang penting bagi kita. Sehingga kekerasan terhadap anak tidak boleh terjadi.

Nah, kita pun melihat bagaimana nilai-nilai kepesantrenan ini masuk menjadi sebuah kebijakan pemerintah. Sehingga apa yang dilakukan santri tentang pendidikan, perubahan sosial, penyelamatan masyarakat dari bahaya narkoba dan sebagainya itu menjadi bagian penting. Dan itu akan dijadikan masukan-masukan DPR kepada kementrian-kementrian. Dan kami berangkatnya dari spirit santri.

Di pesantren yang Anda asuh, Al-Mizan, ada perayaan khusus untuk menyambut Hari Santri?

Di Al-Mizan sendiri kami turun dengan 2000 santri dan seluruh staf pengajar. Kita akan jalan kaki mulai gerbang pesantren sampai ke arah tengah-tengah Jatiwangi. Kita akan ketemu juga sahabat-sahabat kita di Klenteng Jatiwangi. Kita akan menyapa teman-teman Tionghoa kita dan kelompok-kelompok non-Muslim. Kita pun akan bertemu beberapa santri yang memakai sepeda motor dan mereka akan berkeliling ke beberapa titik pesantren-pesantren tua di Majalengka. Seperti di Makam Kiai Abdul Khalid di Leuwimunding. Setelah itu datang juga ke Kiai Muhammad dan sebagainya.

Kami ingin mengatakan bahwa pembangunan tidak pernah terlepas dari peran kiai. Dan santri harus meneruskan perjuangan itu.

Kalau melihat laman panitia pusat Hari Santri (www.harisantri.id) banyak organisasi Islam yang terlibat dalam perayaan ini. Menurut Anda, ini perkembangan positif dalam konteks persatuan umat di mana perbedaan pandangan atau mazhab jadi lebih cair? 

Saya berharap ini menjadi momentum penting umat Islam untuk kembali menyatu. Tidak perlu lebur dalam satu lembaga. Lembaganya sih tetap. NU dengan NU-nya. Persis dengan Persis-nya. Tapi ada benang merah yang bisa ditangkap bahwa sesungguhnya hari ini kita lebih terjebak pada romantisme ritual, romantisme Ormas, tapi persoalan kemiskinan, pengangguran, anak-anak yang drop dari sekolah dan sulitnya akses kesehatan menjadi problem bagi umat Islam.

Musuh Islam bukan agama yang berbeda. Musuh ormas Islam bukan ormas yang lain. Musuh kita adalah kemiskinan, kebodohan, dan perpecahan itu sendiri. Hari Santri menjadi momentum penting kita untuk kembali menyatukan langkah ke depan agar umat Islam Indonesia lebih mewarnai, lebih dihargai, dan lebih tahu masa depan yang akan dicapainya. []

Komentar