Home » Khazanah » Dunia Islam » Hayu Prabowo: Siaga Bumi Menjadi Spirit Kalangan Lintas Agama untuk Berlomba dalam Kebaikan
Foto: viva.co.id

Hayu Prabowo: Siaga Bumi Menjadi Spirit Kalangan Lintas Agama untuk Berlomba dalam Kebaikan

Bersamaan dengan peringatan Hari Perdamaian dunia, kalangan lintas agama mendeklarasikan gerakan Indonesia Bergerak untuk Selamatkan Bumi (Siaga Bumi). Deklarasi ini, selain sebagai gerakan moral untuk peduli terhadap lingkungan dan perubahan iklim, juga bertujuan untuk meningkatkan kerukunan antarumat beragama. Para tokoh agama ingin menunjukkan kepada setiap umat beragama bahwa mereka bisa saling bekerjasama tanpa terhalangi oleh keyakinan masing-masing.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang gerakan Siaga Bumi, Warsa Tarsono dari Madina Online mewawancarai Dr. Hayu Prabowo, Ketua Tim Penggerak Siaga Bumi yang juga Ketua Lembaga Pelestarian Alam MUI. Wawancara dilakukan di sela-sela Rembug Nasional Tokoh Agama Menanggapi Perusakan Lingkungan dan Laju Perubahan Iklim, yang diadakan pada Kamis (15/10) di Balai Kartini, Jakarta.

Apa nilai strategis dari melibatkan kelompok agama dalam gerakan selamatkan bumi ini?

Selain untuk mengkampanyekan gerakan menyelamatkan bumi, tujuan lain gerakan ini adalah meningkatkan kerukunan hidup antarumat beragama. Kami ingin menunjukkan bahwa kita bisa melakukan kegiatan bersama dan untuk kepentingan bersama. Bumi yang kita tempati ini semakin hari kondisinya makin rusak. Saudara-saudara kita di Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi saat ini sedang menderita karena asap yang diakibatkan kebakaran hutan. Kemarau panjang, kekeringan, juga banjir kondisinya sudah semakin ekstrem. Nah, kami sebagai umat beragama ingin berkontribusi dalam hal ini.

Gerakan kami adalah gerakan moral. Melengkapi usaha yang dilakukan pemerintah. Gerakan ini harus bisa mengubah perilaku orang. Orang diubah perilakunya bisa melalui pendekatan yang memaksa yaitu melalui hukum, juga bisa dengan pendekatan persuasif. Pemerintah melakukannya dengan pendekatan hukum positif, kami dengan pendekatan moral. Dengan pendekatan persuasif keagamaan.

Kenapa gerakan ini baru muncul? Apakah kepedulian terhadap lingkungan ini merupakan kesadaran baru bagi kalangan agamawan?

Sebenarnya bukan kesadaran baru karena di masing-masing majelis agama sudah melakukannya sejak lama. Melalui dakwah atau ceramah, kalangan agamawan menyampaikan ajakan untuk memelihara lingkungan. Itu tugas kami. Ini bagian dari mengajak umat untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik, bukan kehidupan yang merusak.

Nah, gerakan Siaga Bumi ini merupakan upaya menyatukan gerakan yang ada di setiap agama. Kami berusaha membangun kekuatan agar isunya semakin besar dan dilihat umat. Baik itu untuk gerakan pelestarian lingkungannya maupun untuk kerukunan beragama.

Tadi Anda mengatakan memelihara lingkungan bagian dari ajaran agama. Bisa Anda jelaskan?

Kalau versi Islam, Islam itu agama yang rahmatan lil ‘alamin. Rahmatan lil ‘alamin berarti kita harus bisa memberi rahmat kepada semua orang. Semua orang itu bukan hanya Muslim tapi seluruh orang atau manusia. Bukan hanya manusia tapi juga binatang dan tumbuhan. Tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat.

Allah menciptakan manusia sebagai khalifatullah fil ardh harus bisa menjaga dan memelihara  bumi serta memberikan rahmat bagi semua orang.

Apa rencana gerakan ini ke depan?

Ada beberapa hal, pertama, kami akan membangun jejaring agar gerakan ini tidak hanya ada di pusat, tapi sampai ke daerah. Kedua, kami akan memberikan advokasi kepada pemerintah terutama mengenai peraturan-peraturan yang mungkin dari sisi moral perlu dimasukkan.

MUI sendiri telah membuat beberapa fatwa. Fatwa itu bisa untuk melengkapi undang-undang atau peraturan yang telah dibuat pemerintah. Banyak orang bilang, kalau undang-undang buatan manusia, tapi kalau fatwa dari Al-Quran dan hadis sehingga kalau melanggar kena dosa. Itu jadi sanksi moral buat sebagian orang karena seringkali ini lebih efektif. Perilaku orang bisa berubah.

Ada bukti bahwa fatwa itu efektif mengubah perilaku orang, terutama dalam konteks pemeliharaan lingkungan?

Ada. Contohnya di Institut Pertanian Bogor. Dengan adanya fatwa MUI sekarang para mahasiswa dengan mudah membuang sampah dengan teratur padahal dulunya susah. Sekarang para mahasiswa lebih tertib dalam membuang sampah karena mereka tahu buang sampah sembarangan itu hukumnya haram. Karena haram mereka takut. Walaupun tidak ada yang mengawasi mereka tetap buang sampah pada tempatnya. Jadi yang kami bangun memang moral. Jadi mereka seolah-olah diawasi oleh Yang Maha Kuasa.

Selain mengeluarkan fatwa, apakah ada program lingkungan yang sifatnya implemantasi di MUI?

Sekarang kami sedang bekerjasama dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan UNICEF membangun fasilitas air dan sanitasi. Air itu sangat penting buat umat Islam, baik untuk mandi, thaharah dan lain-lain. Kalau airnya kurang dan sanitasinya buruk itu juga berpengaruh terhadap kesehatan. Dan di banyak tempat, kalangan tidak mampu itu sanitasinya buruk sehingga mereka gampang kena penyakit. Anak-anaknya tumbuh tidak sempurna.

Kami juga telah mengeluarkan fatwa mengenai penggunaan zakat, shadaqah dan wakaf untuk pembangunan fasilitas air dan sanitasi. Tujuannya agar zakat, infaq, dan shadaqah juga bisa untuk membangun fasilitas air dan sanitasi.

Apakah ada kendala dalam kerjasama dengan kalangan lintas agama?

Tidak ada. Justru ini membangun spirit kami bersama. Spirit untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Misalnya, dari kalangan agama A sudah melakukan program A dan kalangan agama lain bisa melihat, mengadopsi, dan melakukannya secara lebih baik. Positifnya di situ. Kami juga tidak merasa leading sendiri.[]

Komentar