Home » Khazanah » Dunia Islam » Ghadir Khum, Konflik Sunni-Syiah yang Tidak Berujung

Ghadir Khum, Konflik Sunni-Syiah yang Tidak Berujung

Sampai saat ini, konflik antara kaum Muslim Sunni (Ahlus Sunnah wal Jamaah) dan Syiah masih lazim terjadi. Bahkan di Indonesia selama berpuluh tahun kedua kelompok ini bisa hidup berdampingan secara damai. Tapi kini kerap terdengar ketegangan antara keduanya.

Bila dilihat akar sejarahnya, awal pertikaian ini berlangsung sederhana. Ini semua dimulai dari apa yang dikenal sebagai peristiwa Ghadir Khum.

Ghadir Khum adalah suatu tempat di antara Madinah dan Mekkah. Di tempat itu  Nabi berkhotbah setelah menunaikan ibadah haji terakhir (haji wada). Itu terjadi pada 18 Dzulhijah tahun 10 Hijriah.

Kalangan Syiah meyakini peristiwa itu sebagai pengukuhan Ali bin Abi Thalib sebagai imam kaum muslim sepeninggal Nabi Muhammad. Keyakinan ini datang dari riwayat yang menggambarkan bahwa dalam peristiwa Ghadir Kum, sambil memegang tangan Ali, Nabi Muhammad bersabda:

Bukankah kalian bersaksi bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih berhak atas kalian, lebih dari diri kalian sendiri, dan Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya adalah maula bagi kalian? Maka barangsiapa menjadikan aku sebagai maulanya maka dia ini juga sebagai maulanya. Sungguh telah aku tinggalkan bagi kalian yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, maka kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah yang ada di tangan kalian dan ahlul bait-ku.

Baik Sunni maupun Syiah mengakui kebenaran riwayat itu. Namun yang menjadi pangkal persoalan adalah penyebutan ‘ahlul-baitku’ oleh Nabi Muhammad. Ada dua perbedaan penting antara kedua kubu ini mengenai konsep ‘ahlul-bait’.

Menurut kaum Sunni, ahlul bait adalah seluruh keluarga Nabi secara luas. Mencakup istri-istri, mertua, juga menantu dan cucu-cucu nabi.

Adapun kaum Syiah menganggap yang dimaksud dengan ahlul-bait terbatas pada Nabi Muhammad, Ali (menantu Nabi), Fatimah (anak Nabi, istri Ali), dan dua anak Ali atau cucu Nabi: Hasan dan Husain, serta keturunan mereka.

Kaum Syiah merujuk pada sebuah riwayat lain sebagai landasan keyakinan mereka. Pada suatu pagi, Nabi kedatangan Hasan, Husain, Fatimah, dan Ali. Mereka semua dipersilakan Nabi masuk ke rumahnya. Setelah itu Nabi membaca surah Al-Ahzab ayat 33 yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

Dengan dasar itu, kaum Syiah menganggap bahwa pernyataan Nabi di Ghadir Kum itu harus diartikan sebagai perintah kepada umat Islam untuk tunduk kepada Ali. Apalagi saat itu, Nabi memegang tangan Ali.

Tafsiran kaum Sunni berbeda dengan Syiah. Menurut mereka, apa yang dilakukan dan diucapkan Nabi di Ghadir Kum itu memang merupakan pengakuan atas kemuliaan keluarga Nabi, terutama Ali, tapi tidak berarti bahwa umat Islam harus memilihnya sebagai pemimpin tatkala Nabi sudah tiada.

Ketika Nabi wafat, tafsiran tentang peristiwa Ghadir Kum itu menimbulkan persoalan serius. Sejarah mencatat, umat Islam saat itu mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah pertama sepeninggal Nabi melalui musyawarah. Kalangan Syiah menganggap seharusnya yang menjadi khalifah setelah Nabi Muhammad adalah Ali Bin Abi Thalib, bukan Abu Bakar.

Bagi kaum Syiah, pengangkatan Abu Bakar –dan selanjutnya Umar bin Khattab dan Usman bin Afan– sebagai khalifah adalah pengingkaran atas risalah Nabi. Karena itu beberapa kalangan Syiah yang fanatik menjadikan ini sebagai salah satu dasar penghinaan terhadap Abu Bakar, Umar, Usman, dan sahabat-sahabat Nabi lainnya.

Bagi kalangan Sunni, pengangkatan Abu Bakar, Umar, dan Usman sebagai Khalifah bukanlah pengingkaran terhadap Nabi. Sebaliknya, mereka menganggap itu sebagai implementasi atas ajaran Nabi Muhammad yang senantiasa mengajarkan para sahabat untuk bermusyawarah dalam menentukan keputusan-keputusan penting. Termasuk dalam memutuskan kepemimpinan.

Perbedaan itu terus berlanjut sampai sekarang. Karena itu, ketika di awal Oktober lalu, sejumlah organisasi Syiah di Indonesia –misalnya Ikatan Jamaah Ahlul Bait– menyelenggarakan upacara peringatan Ghadir Kum, komentar-komentar dari kaum Sunni pun bermunculan.

Media-media Islam yang selama ini menyuarakan jargon-jargon Sunni konservatif –seperti hidayatullah.com, arrahmah.com, eramuslim.com, panjimas.com, pkspiyungan.org dan beberapa media lainnya– menjelang perayaan Idul Ghadir  memuat banyak artikel tentang peristiwa di Ghadir Khum itu. Beberapa artikel mencoba untuk ‘mengoreksi’ pandangan kalangan Syiah terhadap peristiwa itu.

Misalnya, laman hidayatullah.com menurunkan artikel berjudul “Idul Ghadir dalam Pandangan Sejarah.” Tulisan itu mencoba untuk membantah tafsir kalangan Syiah atas pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai imam.

Ada empat argumen yang dikemukakan dalam artikel itu. Pertama, kata ‘mawla’ dalam bahasa Arab memang, antara lain, bermakna ‘pemimpin’. Tapi itu bukan satu-satunya arti kata tersebut. Kata mawla juga bisa berarti ‘sahabat’ atau ‘kekasih’. Jadi, kata tersebut tidak hanya memiliki satu arti.

Kedua, jika saat itu Nabi memang bermaksud untuk menunjuk Ali sebagai pemimpin tentu beliau akan menggunakan kata yang lebih tegas dan jelas, seperti ‘khalifah’, ‘amir’, atau ‘imam’.

Ketiga,j ika yang dimaksud oleh Nabi dengan kata ‘mawla’ adalah pemimpin, dalam arti pemimpin tertinggi yang harus ditaati dan Ali adalah mawla; maka berarti sejak saat itu ada dua pemimpin yang ada di tengah umat yang harus ditaati.

Keempat, hampir tidak mungkin para sahabat yang lain tidak memahami perintah Nabi. Jika memang Nabi bermaksud untuk menunjuk Ali sebagai penggantinya pada peristiwa Ghadir, maka tidak masuk akal jika tiga bulan kemudian, saat Nabi wafat, semua Sahabat mengabaikan perintah Nabi. Tidak masuk akal jika semua sahabat berkhianat dan membatalkan kepemimpinan Ali.

Namun tidak semua tulisan di berbagai media Islam yang beredar itu dibuat dengan argumen-argumen yang jernih seperti ini. Beberapa artikel lain ditulis dengan nada kecurigaan terhadap Syiah. Seperti artikel yang berjudul Perayaan Idul Ghadir Bisa Jadi Basis Ekspansi Ideologi Syiah yang juga dimuat hidayatullah.com.

Mengutip pendapat Abdul Chair Ramadhan, anggota Komisi Hukum dan Perundang-undangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Idul Ghadir digambarkan  sebagai sesuatu yang berbahaya dan bisa mengancam NKRI.

“Idhul Ghadir sangat berbahaya bagi masa depan NKRI, karena melalui hari raya Syiah inilah dilembagakan doktrinisasi ideologi imamah yang berujung pada ketaatan kepada Waliy al-Faqih (Rahbar) sekarang ini, yaitu Ali Khamenei,” kata Abdul Chair.

Artikel dengan nada konfrontatif juga dimuat di panjimas.com. Dengan judul Awas! Sekte Sesat Syiah Nekad Gelar Perayaan Sesat Idul Ghadir di Sejumlah Tempat ini. Artikel ini berisi berita perayaan Idul Ghadir yang diadakan di beberapa tempat oleh komunitas Syiah.

Namun sebaliknya, di kalangan Syiah fanatik juga melakukan hal yang sama. Melalui akun Facebook mereka menyebarluaskan artikel-artikel yang memojokkan Sunni. Salah satunya adalah artikel yang berjudul Ternyata Ghadir Khum adalah Wasiat Imamah Ali yang Disembunyikan Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Aswaja) agar Sunni Tetap Tegak, Inilah Buktinya.

Artikel ini di-share dari sebuah blog www.ahlulbaitnabisaw-infosejarah.blogspot.co.id. Artikel ini menyajikan riwayat-riwayat yang meneguhkan kebenaran pengukuhan Ali bin Abi Thalib sebagai Imam, tapi diingkari kalangan Sunni.

Sikap saling menyerang ini disayangkan oleh Musa Kazhim AlHabsyi, Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Islam Sadra yang juga lulusan Qum, Iran. Menurut Musa, adanya perbedaan tafsir semestinya tidak membuat masing-masing pihak mengklaim kebenarannya sendiri dan menyesatkan pihak lain.

“Tidak boleh ada yang saling menyalahkan dalam memahami peristiwa seperti Idul Ghadir ini. Perspektif yang berbeda akan menghasilkan kesimpulan berbeda atas peristiwa yang sama. Dan tidak perlu ada penghakiman terhadap perspektif lain,” ujar Musa.

Menurut Musa, perbedaan perspektif adalah sesuatu yang wajar asal tidak sampai membawa kepada percekcokan atau pertengkaran. “Peristiwa Ghadir Khum sudah masa lalu, kita tidak hadir dalam peristiwa itu. Kita tidak tahu situasinya seperti apa saat itu sehingga tidak ada keharusan kita terlibat dalam percekcokan yang tidak berarti,” tambahnya.

Dalam pandangan Musa, membesar-besarkan perbedaan dalam Islam semacam itu hanya akan menghancurkan persatuan umat Islam. “Persatuan umat itu prinsip, bukan cabang dari agama. Kalau tidak ada persatuan tidak ada kekuatan. Kalau tidak ada persatuan umat, Islam tidak punya arti. Jadi tidak boleh ada yang merusak persatuan umat. Selain tauhid dan dua kalimat syahadat yang lainnya itu cabang dari agama,” tegas Musa

Ia melanjutkan: “Kalau kedua kalangan ini fokus pada persatuan dan pemberdayaan umat niscaya konflik Sunni-Syiah akan berakhir. Persatuan dan pemberdayaan umat itu akan menjadikan umat berada dalam satu bendera tauhid, La Ilaha illa Allah. Berada dalam kebenaran, keadilan, ilmu pengetahuan dan kesejahteraan umat,” jelas Musa.

Untuk mencapai itu, menurut Musa, perlu ada pembenahan dalam kurikulum pendidikan agama. “Para pengajar dan guru agama harus bisa menanamkan etika toleransi. Agama memang suci, bersih, datang dari Allah kepada Nabi Muhammad. Tapi hanya Nabi Muhammad yang benar secara mutlak dan suci dari kesalahan dalam memahami agama. Selebihnya orang memahami tetesan-tetesannya saja, baik kepada ahlul bait maupun kepada sahabat nabi,” ujar Musa.[]

Warsa Tarsono

Foto: walayatnet.com

Komentar