Home » Khazanah » Fikih » Bila HTI Makar Terhadap RI
Foto: hizbut-tahrir.or.id

Bila HTI Makar Terhadap RI

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) adalah organisasi Islam yang kerap membuat resah masyarakat, bukan karena demonstrasi-demonstrasi anti-pemerintah yang digelarnya, tapi karena ajaran-ajarannya yang bertentangan dengan kebanyakan lembaga Islam di Indonesia. Jika lembaga-lembaga Islam besar seperti Muhammadiyah dan NU (Nahdlatul Ulama) dikenal karena menyuarakan Islam yang toleran dan ramah, HTI mengajak kaum Muslim untuk mengecam dan melawan negara RI yang sah.

Yang paling menyedihkan dari organisasi ini adalah keinginannya untuk mengganti konstitusi Indonesia, sistem pemerintahan dan sosial Indonesia yang sudah diperjuangkan dengan nyawa dan darah oleh para pendiri bangsa ini, dengan ideologi sempit yang mereka yakini. HTI menganggap bahwa NKRI adalah sistem kufur yang harus digempur. HTI menganggap bahwa konstitusi NKRI harus diganti dengan sistem khilafah. Tentu saja, yang mereka maksud dengan “khilafah” adalah khilafah menurut versi mereka sendiri, yang tak disetujui oleh organisasi-organisasi besar Islam seperti Muhammadiyah dan NU.

Belakangan semakin banyak perlawanan terhadap organisasi yang kerap membuat resah masyarakat ini. Salah satu kritik menarik disampaikan oleh Akhmad Sahal, salah seorang pengurus NU cabang luar negeri yang kini sedang menyelesaikan studinya di Amerika Serikat. Menurut Sahal, HTI bukan sedang memperjuangkan Islam, tapi justru sedang melecehkan Islam dengan ajaran makarnya. Islam sangat mengecam tindakan makar dan seruan makar yang dikampanyekan HTI.

Berikut serial twit yang ditulis Akhmad Sahal (@sahal_AS) pada tanggal 29 Mei 2015.

(1) Berikut adalah kakhmad_sahal-228x330ultwitku tentang “HTI: Melanggar Syariah, Makar thd Negara yg Sah.”

(2) HTI menggelar rangkaian rapat akbar dan pawai mengusung tegaknya khilafah dan syariah. Tapi betulkah mrk sesuai dgn syariah?

(3) Negara pancasila adalah kesepakatan/ perjanjian kolektif bangsa. Gerakan khilafah HTI mau merongrongnya. Bagaimana ini menurut syariah?

(4) NKRI dan kebangsaan adalah hasil kesepakatan pelbagai kelompok lintas agama dan suku. Untuk apa kesepakatan itu?

(5) Konstitusi RI bilang, tujuan negara RI: melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan bangsa.

(6) Tujuan negara RI tersebut menurut syariah adalah  (kemasalahatan umum). Kesepakatan seperti itu mengikat warga, termasuk yg muslim.

(7) Kesepakatan antar kelompok lintas suku, agama untuk kemaslahatan adalah terpuji menurut Islam. Mirip dengan Hilful Fudul pada masa Nabi.

(8) Hilful Fudul adalah kesepakatan suku2 Arab Mekah pra Islam untuk keadilan dan anti kezaliman. Muhammad belum jadi Nabi, dan beliau ikut.

(9) Ketika Muhammad sudah jadi Nabi, beliau tetap memuji Hilful Fudul. Kata Nabi, kalau ada lagi seperti itu, beliau akan tetap ikut serta.

(10) Apa arti pujian Nabi the Hilful Fudul? Artinya: perjanjian untuk tegakkan kemaslahatan itu hal yg maslahat, pesertanya tak harus muslim.

(11) Tentang Hilful Fudul, saya pernah kultwit tentang Sumpah Pemuda sebagai bentuk mutakhir Hilful Fudul: chirpstory.com/li/165570

(12) Negara Pancasila sebagai kesepakatan bersama bangsa juga bisa dibandingkan dengan Dustur al Madinah (Konstitusi Madinah) pada masa Nabi.

(13) Konstitusi Madinah adalah kesepakatan bersama Muslim dengan nonmuslim Madinah (Yahudi) membangun solidaritas Madinah melawan agresi luar.
(14) Menarik untuk dicatat, dalam Konstitusi Madinah, kaum Yahudi yg ikut dalam perjanjian tersebut dianggap sebagai bagian dari “UMMAH.”

(15) Tapi kaum Yahudi tersebut akhirnya diusir dari Madinah oleh Nabi. Kenapa? Bukan karena mereka Yahudi, tapi karena mereka melanggar kesepakatan.

(16) Pelanggaran kesepakatan bersama memang hal yg sangat dikecam keras dalam Islam. Banyak dalil menyerukan muslim untuk mentaati perjanjian.

(17) Hadits: Al muslimun ‘inda syuruthihim: Muslimin terikat perjanjian yg mereka bikin. Ada juga sejumlah ayat Qur’an yg senada .

(18) Menurut Fikih, perjanjanjian yg mengikat itu bukan hanya dengan muslim. Dengan non muslim pun mengikat juga.

(19) Atas dasar itulah Islam mengecam keras pihak yg melanggar kesepakatan bersama untuk kemaslahatan, siapapun pelakunya.

(20) Bagaimana dengan HTI? Mrk adalah warga negara Indonesia, tapi mengusung gerakan yg nyata2 merongrong negara hasil kesepakatan bangsa.

(21) Kalo @felixsiauw dan HTI melepaskan kewarganegaraan RI, terus menegakkan khilafah di luar RI, ya silakan. Kalo masih warga RI, itu MAKAR.

(22) Makarnya HTI dan @felixsiauw adalah pelanggaran kesapakatn bersama yg tercela, dikecam keras dalam Islam.

(23) Kalo Negara Pancasila dianalogikan dengan Konstitusi Madinah, maka makarnya HTI = makarnya kaum Yahudi di Madinah.

(24) Selain itu, dalam persepktif politik Sunni, makar terhadap negara yg sah adalah kejahatan politik yg serius.
Bagaimana penjelasannya? Break dulu banter ya..:)

(25) Bagaimana hukumnya makar terhadap negara yg sah seperti HTI @felixsiauw menurut fikih siyasah/ fikih politik sunni?

(26) MAKAR yg saya maksud di sini adalah merongrong negara sendiri yg sah. Bedakan Makar dengan oposisi/ demo/ kriitik terhadap pemerintah.

(27) Oposisi/ demo terhadap pemerintah itu sah, sebagai bentuk kritik terhadap pemerintah. Tapi Makar itu berkhianat terhadap keabsahan negara kita.

(28) Menurut Sunni, pemerintah yg berbasis prinsip syura (musyawarah), bertujuan menegakkan ketertiban adalah pemerintah yg sah, asalkan..

(29) Pemerintah seperti itu sah dan wajib ditaati, selama pemerintah tersebut tak memerintahkan melakukan ma’siat.

(30) Jadi, pemerintah yg tak berbasis Syura (misal rezim tiran) dan yg menyuruh bermaksiat, itu pemerintah yg tidak sah, tak wajib ditaati.

(31) Untuk paparan tentang pandangan politik Sunni tentang pemerintah yg sah, simak misal Al Iqtishad fil I’tiqad karya Al-Ghazali.

(32) Nah Negera RI dibangun berdasar prinsip syura, yg dalam bentuk sekarang aadalah demokrasi. Dan tak menyuruh maksiat. Negara yg sah menurut fikih.

(33) Gerakan khilafah HTI yg merongrong NKRI adalah makar terhadap negara yg sah = bertentangan dengan Syariah.

(34) Jangan terkecoh dengan koar-koarnya HTI bahwa mereka menegakkan hukum Allah, dan yg tidak seperti mereka = kafir. Khawarij dulu juga koar-koar seperti itu.

(35) Khawarij koar-koar “Tak ada hukum selain hukum Allah”, hukum buatan manusia = kafir. Tapi ujungnya, Khawarij membunuhi yg tak sepaham.

(36) Jangan pula terkecoh dengan penampilan luar HTI yg terkesan damai. Lihat juga isi ideologinya yg penuh bahasa kekerasan terhadap NKRI,

(37) Yg tak kalah penting adalah fakta ini: HTI yg koar-koar menegakkan syariah ternyata perilakunya justru bertentangan dengan Syariah.

(38) Dengan melanggar perjanjian bersama bangsa, dan dengan menggelar makar terhadap negara yg sah, HTI tampil sebagai gerakan yg kontra Syariah. SEKIAN.

Komentar