Home » Khazanah » Fikih » Benarkah Meninggal saat Berhaji adalah Mati Syahid?

Benarkah Meninggal saat Berhaji adalah Mati Syahid?

Oleh Achmad Rifki

Apa yang terjadi dalam dua insiden besar di masa penyelenggaraan ibadah haji di Saudi Arabia tahun ini adalah bencana kemanusiaan yang mengundang keprihatinan dunia. Hampir seribu jemaah haji tewas, baik dalam kasus jatuhnya Crane maupun dalam kasus kerumunan pelempar jumrah di Mina. Jemaah haji Indonesia yang tewas diperkirakan di atas 50 orang.

Penyelidikan tentang apa yang sesungguhnya terjadi masih terus berlangsung. Namun diperkirakan tidak akan ada temuan serius yang akan dapat mengungkapkan siapa pihak yang paling bertanggungjawab. Diperkirakan, akan ada keributan sebentar namun tanpa menunggu lama tragedi ini akan dilupakan.

Tragedi haji bukan hanya berlangsung kali ini. Sejak 1990 sudah berlangsung 12 kali kejadian serupa meski dengan jumlah korban yang berbeda-beda. Karena itu kalaupun pemerintah Saudi terkesan serius ingin mengungkap apa penyebab tragedi tahun ini, itu bisa jadi sekadar pencitraan. Faktanya, bencana serupa terus berulang dan tidak terlihat ada tanda-tanda perbaikan terhadap manejemen buruk penyelenggaraan haji oleh pemerintah Saudi.

Di sisi lain, pemerintah Saudi memang bisa terus melenggang dengan tenang karena memang banyak orang Islam yang menganggap kematian saat melakukan ibadah haji adalah sebuah peristiwa sakral yang tak perlu direspons dengan kesedihan. Tak sedikit umat Islam yang ingin menemui ajal saat menunaikan haji.

Dengan kata lain, alih-alih dianggap sebagai musibah atau bencana kemanusiaan karena manajemen buruk pengelolaan haji,  peristiwa tewasnya para jemaah saat haji dianggap oleh sebagian kalangan sebagai berkah atau bahkan mati syahid.

Karena pemahaman semacam itu, tidak ada keinginan yang kuat untuk meminta pemerintah Saudi bertanggungjawab. Dengan pemahaman ini pemerintah Saudi selalu bisa lepas tangan. Bahkan hingga kini tak ada permohonan maaf secara resmi dari pemerintah Saudi kepada publik umat Islam seluruh dunia.

Sebagian umat Islam percaya bahwa ada hadis yang menyebutkan bahwa meninggal dunia saat haji adalah sebaik-baiknya kematian bagi seorang Muslim dan jaminannya adalah surga tanpa hisab. Bahkan disebut-sebut mendapat pahala orang mati syahid.

Berlandaskan hadis itu, tak sedikit muslim –baik tua maupun muda– yang ingin meninggal saat haji. Jumlah jemaah haji yang meninggal saat berhaji setiap tahun sebenarnya sangat signifikan. Dari Indonesia saja, angka kematian saat haji cenderung meningkat dari 2013 (281 jamaah) ke 2014 (294 orang). Diperkirakan jumlah jemaah meninggal akan meningkat cukup tajam pada 2015, baik karena dua tragedi besar tersebut maupun karena alasan kesehatan. Mereka yang meninggal karena alasan kesehatan ini –terutama karena serangan jantung dan stroke– umumnya berasal dari jemaah berusia 60 tahun ke atas.

Setidaknya ada tiga hadis yang sering dijadikan rujukan tentang keutamaan meninggal saat berhaji. Hadis pertama berbunyi: “Siapa yang meninggal saat ia berhaji atau umrah, niscaya amalnya tidak dipaparkan kepadanya dan ia tidak akan dihisab. Dan dikatakan kepadanya: ‘Masuklah engkau ke dalam surga.” (Diriwayatkan Ad-Daraquthni, 288).

Hadis kedua berbunyi: “Sebaik-baik keadaan meninggalnya seorang hamba adalah ia meninggal dalam keadaan pulang dari menunaikan ibadah haji atau dalam keadaan berbuka dari puasa Ramadhan.” (Diriwayatkan Ad-Dailami 2/114).

Hadis ketiga berbunyi: “Orang yang berhaji itu dalam jaminan Allah SWT saat datang maupun pulangnya. Bila dia tertimpa kepayahan atau sakit dalam safarnya, Allah akan mengampuni berbagai kesalahannya. Setiap telapak kaki yang ia angkat untuk melangkah, ia mendapat seribu derajat. Tiap tetesan hujan yang menimpanya, ia memperoleh pahala orang yang mati syahid.” (Diriwayatkan oleh Ad-Dailami, 2/98).

Dengan merujuk pada ketiga hadis itu, bisa dipahami bila banyak umat Islam yang ingin sakit dan meninggal saat berhaji.

Masalahnya, tiga hadis tersebut diragukan kebenarannya.

Menurut ulama hadis terkemuka, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, dalam ‘Silsilah Hadis Dhaif dan Maudhu’ (Silsilah al-Ahadits al-Dhai’fah wa al-Maudhu’ah), hadis pertama berstatus munkar.

Hadis munkar adalah hadis yang diriwayatkan perawi yang memiliki banyak kesalahan, kelalaian, sering lupa, dan menampakkan kefasikannya. Hadis yang diriwayatkan oleh perawi seperti ini biasanya bertentangan dengan perawi yang terpercaya (tsiqah). Dari sisi derajat, hadis yang berstatus munkar tidak bisa dijadikan rujukan atau dalil. 

Hadis kedua, menurut peraih piagam internasional King Faisal (penghargaan tertinggi dari kerajaan Saudi) pada 1999 atas karya-karyanya ini, derajatnya dha’if  (lemah).

Hadis dha’if adalah hadis yang tidak diketahui atau tidak terpercaya periwayatnya seperti para perawi hadis sahih atau hasan. Hadis dha’if  tidak bersambung sanadnya atau di antara rentetan perawinya ada orang yang cacat. Misalnya, perawinya tidak dikenal orang, pelupa/pendusta/fasik dan suka berbuat dosa, belum baligh, atau periwayatnya non-Muslim.

Hadis ketiga, menurut pengajar di Universitas Islam Madinah yang meninggal pada 1 Oktober 1999 ini, statusnya bahkan palsu (maudhu’).

Hadis maudhu’ adalah suatu riwayat bohong, yang dibuat-buat, dan disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam sanadnya terdapat seorang atau beberapa perawi yang dikenal pernah meriwayatkan hadis palsu yang dinisbatkan pada Nabi. Di antara hadis lemah (dha’if), hadis palsu paling rendah tingkatannya dan terburuk. Bahkan ada ulama hadis yang menganggap hadis maudhu’ tak termasuk dalam hadis dha’if. Karena itu hadis palsu tak bisa menjadi dalil dan rujukan agama.

Bila memang ketiga hadis itu lemah, harapan akan ganjaran yang begitu besar bagi mereka yang meninggal dunia saat haji tak memiliki sandaran kukuh dalam ajaran Islam. Bahkan Nabi Muhammad sendiri tidak wafat saat haji. Nabi mengembuskan nafas terakhirnya di atas tempat tidurnya.

Baik Nabi maupun para sahabat tak ada yang mengharapkan meninggal saat haji. Jangan dibayangkan haji di masa Nabi dulu sama dengan kini. Musim haji kini penuh sesak sehingga rentan dengan berbagai kecelakaan dan memakan korban. Dulu, jauh lebih kecil kemungkinan korban yang jatuh.

Tiap orang tentu ingin meninggal dunia dalam keadaan yang terbaik (husnul khatimah). Apalagi wafat dalam keadaan syahid. Tapi kalau ajal sudah menjemput tak seorang pun dapat menunda waktu untuk sejenak mencari tempat dan momen yang baik. Kematian bukanlah perkara yang harus dicari, tapi kita persiapkan dengan sebaik-baiknya.

Tak ada beda mati di ranjang atau di Tanah Suci. Allah tak melihat lokasi kematian hamba-Nya. Allah hanya menilai kadar ketakwaan seseorang sebagaimana dilansir dalam berbagai ayat Al-Quran dan hadis Nabi.

Karena itu penting untuk kita meninjau kembali berbagai dalil terkait ganjaran bagi mereka yang meninggal dunia saat haji, seraya terus meminta pemerintah Saudi bertanggung jawab, meminta maaf serta terus memperbaiki pelayanan bagi para jemaah haji.[]

 

Komentar