Home » Khazanah » Dunia Islam » Yusuf Islam: Musik, Dakwah Terbaik Saya

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 3, Tahun 1, Maret 2008)

Setelah hampir 30 tahun, Cat Stevens main musik lagi. Kini dengan nama Yusuf Islam.

Bahasa lagu adalah cara terbaik saya menyampaikan angin perubahan yang kuat yang membawa saya ke titik di mana saya berada sekarang. Dan cinta akan perdamaian masih melintas dalam hati saya. Saya merasa diberkahi karena kemampuan [bermusik] itu masih ada pada saya hingga kini.”

Yusuf Islam: Musik, Dakwah Terbaik Saya

Yusuf Islam menyampaikan hal itu dalam sebuah film dokumenter mengenai kehidupannya yang dirilis televisi ABC, Inggris, akhir Januari lalu. Berjudul Yusuf Islam: A Few Good Songs, film itu antara lain menuturkan alasan-alasan mengapa ia berhenti sebagai penyanyi, pengalaman spiritualnya setelah menjadi muslim, dan alasannya kembali ke dunia musik. “Saya tidak pernah ingin terlibat dalam politik, karena politik itu secara esensial memisah-misahkan orang, sedang musik memiliki kekuatan yang menyatukan. Dan bermusik bagi saya jauh lebih mudah dibanding bercera­mah,” tambahnya.

Yusuf Islam adalah seorang filantropis dan bekas penyanyi kenamaan Inggris yang dikenal dengan nama Cat Stevens. Pada 1979, ia membuat sedih para penga­gumnya di seluruh dunia dan industri musik dengan menyatakan berhenti bermusik dan memeluk Islam. Dua tahun lalu, ia kembali bermusik dan menemukan bahwa cara dakwahnya yang terbaik sebagai muslim adalah dengan­ bernyanyi.

Cat Stevens
Terlahir sebagai Steven Georgiou dari bapak berdarah Yunani dan ibu Swedia, ia tumbuh di London dan dididik di sebuah sekolah Katolik Roma. Sebelum usia sepuluh, ia sudah mengeluarkan album I Love My Dog, yang disusul denga­n album-album lain seperti Matthew & Son. Karena suaranya menyerupai suara kucing, ia memperoleh nama depan “Cat”.

Pada 1968, ketika namanya mulai luas dikenal, ia diserang tuberkolusis yang mengancam hidupnya. “Saya tampil dalam tiga show tiap malam dan itu merusak segalanya,” kenangnya. “Karena saya hampir mati, saya mulai berpikir lebih terarah tentang makna hidup dan mengapa kita ada di dunia ini. Itu awal dari upaya pencarian saya akan sesuatu yang lebih mendalam, yang rupanya jadi perjalanan panjang.”

Ia tampil lagi pada 1970 dengan album Mona Bone Jakon dan gaya lebih reflektif. Lagu-lagunya, seperti “Peace Train” dan “Morning Has Broken” mencerminkan pergolakan batinnya. “Saya selalu berada dalam pencarian dan lagu-lagu saya mencerminkan hal itu,” kenangnya. “Saya selalu mencari kebenaran yang lebih tinggi. Saya mulai mempelajari agama-agama yang berbeda… Saya mencari ke mana-mana. Jika Anda mendalami lirik-lirik saya, Anda akan menemukan cerita hidup saya – ke mana saya pergi, apa yang saya pikirkan, apa yang saya rasakan. Tapi, di atas yang lainnya, Anda akan melihat banyak pertanyaan dan jawaban yang saya cari.”

Cat Stevens terus mencari lewat musik dalam album-album seperti Catch Bull at Four (1972), Foreigner (1973), dan Buddha and the Chocolate Box (1974). Lalu, pada 1976, saudaranya memberinya satu kopi Al-Quran. “Saya mulai membacanya dan menemukan di dalamnya sebuah jenis pewahyuan yang sepenuhnya unik dalam hal komunikasi antara Tuhan dan manusia,” kenangnya.

Peristiwa menentukan lain dialaminya ketika berenang di pantai Malibu, California, AS. “Saya berada di laut dan tiba-tiba saya kehilangan daya untuk berenang,” ingatnya. “Saya melawan samudra dan tak seorangpun menemani saya. Saya berteriak, ‘Tuhan, jika kau selamatkan aku, aku akan bekerja untukmu.’ Sebuah ombak yang bersahabat membawa saya ke tepian samudra, dan sejak itu tumbuh dalam diri saya keyakinan bahwa ada kekuatan lebih tinggi yang mengontrol kehidupan seseorang.”

Pada 1979, ia mengeluarkan album Back to Earth. Rupanya itulah album “sekular”-nya yang terakhir. Ia lalu masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Yusuf Islam. “Bagi banyak orang, itu boleh jadi seperti lompatan besar,” katanya. “Tapi buat saya itu permulaan yang sudah berlangsung perlahan-lahan sebelumnya, dan lagu-lagu saya seperti meluruskan jalan ke arah itu. Lagi pula, saya selalu suka dengan nama Yusuf.”

Dua Ekstremis
Ia sering ditanya mengapa ia menying­kirkan musik sepenuhnya. “Yang menarik, saya memberi wawancara pada 1980 kepada sebuah majalah Islam dan mereka bertanya tentang musik dan masa depan, dan saya katakan bahwa saya akan menunda kegiatan musik karena saya takut hal itu akan membelokkan saya dari jalan yang benar,” kenangnya. “Tapi saya juga menambahkan bahwa saya tidak bisa bersikap dogmatis dan bahwa saya akan meninggalkan musik sepenuhnya.”

“Tidak ada sesuatu pun dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa musik itu dilarang,” tambahnya. Tapi ketika saya memerhatikan bisnis musik, saya sadar bahwa hal itu bisa mengganggu kehidup­an spiritual saya. Saya tidak mau dipusing­kan oleh urusan itu, dan itu artinya melepaskan gitar saya, sibuk dengan kehidupan baru, memulai kerja-kerja amal yang sudah lama saya inginkan, dan berkeluarga.”

Sejak masuk Islam, royalti dari album-album lamanya disalurkan ke lembaga-lembaga sosial dan pendidikan yang ia dirikan. Antara lain Small Kindnesss, yang bergerak dalam penyedia­an bantuan secara langsung maupun aktivitas sosial dan pendidikan bagi keluarga serta anak-anak yatim-piatu di Bosnia, Kosovo, Irak dan wilayah lainnya di seluruh dunia.

Yusuf Islam juga tak sepenuhnya berhenti bermusik. Ia sempat merekam beberapa lagu bertema Islam dengan alat musik perkusi, yang dianggapnya tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Pada 1990, ia tampil sebagai penyanyi tamu, melantunkan “God is the Light,” dalam album yang dirilis Raihan, sebuah kelompok Nashid. Di situ ia menyemangati para mujahidin Afganistan:

O victory is coming
And history will tell
‘Cause the disbelieving army is heading for hell.
Afghanistan and Islam,
Ya Muslimun, ya Muslimun.

Dan pada 2000, ia merilis album A Is for Allah, yang dimaksudkan untuk mendidik anak-anak tentang Islam.
Tindakan dan keyakinannya sering disalahpahami oleh kalangan ekstremis di dunia Islam maupun Barat. Pada 2004, ia misalnya dilarang masuk ke AS karena diduga terkait dengan jaringan terorisme. Ia menerima kenyataan ini sebagai cermin dari bagaimana kedua kelompok itu menggunakan Islam untuk kepentingan mereka sendiri.

“Mungkin baru bagi kalangan ter­tentu, tapi kata Islam itu sendiri berasal dari kata yang berarti damai,” katanya. “Ini makna paling mendasar agama ini dan itulah yang selalu saya ikuti.”

Yusuf melihat posisi uniknya sebagai orang Barat yang muslim. “Kini saya berada dalam posisi unik sebagai cermin lewat apa kaum muslim melihat barat, dan barat bisa melihat Islam. Dan pen­ting bagi saya untuk membangun jembatan di antara keduanya.”

Karena kerja-kerja di atas, Yusuf memperoleh sejumlah penghargaan di luar musik. Pada 2003, ia dianugerahi World Social Award atas kerja-kerja sosialnya. Dan pada 2004, ia menerima penghargaan Man for Peace, pilihan sejumlah mantan peraih hadiah Nobel bidang perdamaian.

Album Baru
Pada 2006, Yusuf mengeluarkan album An Other Cup, sesudah non-aktif selama 28 tahun. Ini juga menandai 40 tahun rilis album pertama­nya I Love My Dog, yang keluar pada 1966.

Nama sang artis di album itu “Yusuf”, bukan “Yusuf Islam”. Ditanya mengapa, Yusuf menjawab: “Karena ‘Islam’ tidak perlu dislogankan. Nama kedua itu, Islam, seperti nama label, dan Anda memanggil seorang teman itu dengan nama depannya. Itu lebih akrab.”

Sampul album itu juga menyebutkan, si artis dulunya dikenal dengan nama Cat Stevens. Kata Yusuf, “Itu label yang akrab di ingatan banyak orang…. Nama itu bagian dari sejarah saya, dan banyak hal yang saya impikan sebagai Cat Stevens sudah menjadi kenyataan sebagai Yusuf Islam.”

Album ini berisi kompilasi lagu-lagu lama, yang belum sempat direkam, dan lagu-lagu baru. Beberapa di antaranya sangat otobiografis, seperti “Heaven/Where True Love Goes”, yang merujuk pengalamannya hampir tenggelam di Malibu:

If a storm should come and you face a wave
that may be the chance for you to be saved

Di lagu lainnya, “Whispers from a Spiritual Garden,” ia memasukkan puisi yang diinspirasikan Jalaluddin Rumi, mistikus abad ke-13. Dan dalam “Maybe There’s A World,” kita dapat menyimak melodi yang enak digabungkan dengan lirik yang visioner tentang masa depan yang lebih baik, mengingatkan kita pada “Imagine”-nya John Lennon:

Borderless and wide,
Where people move from place to place

And nobody’s taking sides.

Yusuf ingat, ia mendengar Lennon menyanyikan “Imagine” pada akhir 70-an. “Sangat melegakan hati ketika kita tahu bahwa kita bukan satu-satunya orang yang mempercayai mimpi itu. Sebagian besar lagu saya diilhami dorongan untuk menumbuhkan kesadaran manusia dan untuk menemukan dunia yang lebih baik – atau membuatnya,” kenangnya.

Tentang judul albumnya, Yusuf menyatakan: “Anda tahu, cangkir itu untuk diisi … dengan apa saja yang Anda suka. Bagi mereka yang mau mencari Cat Stevens, mereka mungkin akan menemukannya dalam album ini. Jika Anda mau menemukan Yusuf Islam, masuklah sedikit lebih dalam, dan Anda akan menemukannya di sana.”

***

Bapak dan Anak

Yusuf Islam aktif mempromosi­kan album “sekular” barunya, An Other Cup. “Ya, ini saya, maka akan terde­ngar seperti saya yang dulu, tentu saja… Dan ini bukan mimpi.”

Ia antara lain mengisahkan bagaimana ia kembali bermain gitar: “Ketika anak saya membawa gitar ke dalam rumah, Anda tahu, itu seperti membalik semua keadaan. Itu mem­buka banjir gagasan dan musik baru yang rasanya banyak orang akan suka.”

Yusuf mengingatkan, salah satu lagunya yang paling populer di tahun 70-an adalah “Father and Son”, sebuah dialog antara dua generasi. Menariknya, anaknya jugalah yang mendorongnya untuk kembali memetik gitar.

“Anak saya punya bakat musik yang luar biasa dan saya bahkan tidak mengetahuinya,” kenangnya. “Ia membawa gitar ke dalam rumah, dan semuanya pun terjadi begitu saja. Suatu pagi, ketika semua orang selesai salat dan kembali tidur, gitar itu tergeletak di atas sofa, saya memegangnya dan saya temukan bahwa saya masih hafal kord-kordnya. Lalu saya mulai bernyanyi, mengikuti beberapa nada dan kata yang belum lama ini saya tulis – dan saya terkesima, ‘Hai, saya kira saya punya kerjaan baru sekarang.’ Itulah bagai­mana saya kembali main gitar. Saya merasa seperti saya ditolong untuk melakukannya. Saya tidak bisa men­jelaskan dengan cara lain.”

Pada titik ini ia tersenyum. Katanya, “Anda bisa berdebat dengan seorang filsuf, tapi Anda tidak bisa berdebat denga­n sebuah lagu yang baik. Dan saya kira saya punya sejumlah lagu yang baik.”*

Komentar