Home » Khazanah » Dunia Islam » Seni Lukis Tubuh Lintas Agama

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 4, Tahun1, April 2008)

Dulu merupakan perhiasan bagi pengantin perempuan yang miskin. Kini jadi bagian dari seni lukis tubuh budaya populer.

Jika Anda menonton film Ayat-ayat Cinta dan mengamati detil, Anda akan melihat satu adegan ketika kamera menyo­rot tangan Aisha dan nampak gambar ornamen mirip tato di tangannya. Itulah hinna kata orang Arab, atau iani orang Indonesia menyebutnya, dan mehendi menurut orang India.

Seni Lukis Tubuh Lintas Agama

Hinna adalah seni lukis tubuh, mirip tato, yang populer di kalangan Arab dan India muslim, khususnya sebagai bagian dari seni rias pengantin perempuan. Di Indonesia, hinna dipakai dalam per­kawin­an adat Aceh dan di kalangan keturu­nan Arab, India, dan Pakistan. Hinna sekadar sebagai pewarna kuku bagi pengantin adat Minangkabau.

Berbeda dengan tato, rajah permanen, hinna bersifat sementara dan bahan lukisnya terbuat dari zat pewarna kimia alami berasal dari tumbuhan Lawsonia inermis. Tato ini bisa bertahan semalam atau satu bulan tergantung dari jenis dan kualitas tumbuhan serta bagaimana mene­rapkannya ke kulit.

Daun tumbuhan ini menghasilkan molekul merah-jingga. Molekul ini mudah terikat secara kimiawi dengan protein yang terdapat pada kulit, kuku, rambut, sutera, dan wool. Itu sebabnya hinna merupakan zat pewarna alami yang populer di banyak negeri. Lawsonia inermis tumbuh di daerah sub-tropis dan secara komersial dibudidayakan di India, Pakistan, Yaman, Iran, Sudan, dan Libya.

Meski belakangan populer di Dunia Islam, seni lukis tubuh hinna sebenarnya telah dikenal sejak Zaman Perunggu dan dipakai dalam ritual banyak agama seperti Yahudi, Kristen, Hindu, dan Zoroaster. Dalam “Kidung Sulaiman” di Kitab Perjanjian Lama, hinna disebut sebagai “camphire”, yang menunjukkan hinna sudah dikenal sejak zaman Nabi Sulaiman.

Hinna dipakai sebagai pewarna rambut di lingkungan kerajaan India kuno dan di Roma sepanjang Kekaisaran Romawi. Hinna dikenal di Spanyol pada Abad Pertengahan karena pengaruh Islam Andalusia, dan masih populer hingga 1526 ketika pemimpin Gereja di Granada pada era Inkuisisi mengeluar­kan fatwa mengharamkannya sebagai bagian dari kampanye anti-Yahudi dan anti-Islam.

Tumbuhan hinna tercantum dalam teks kedokteran Mesir Kuno yang masih ditulis pada papirus dan dipakaikan pada kuku mummi raja-raja Firaun. Pada Abad ke-14, Ibn Qayyim al-Jawziyya, ilmuwan kedokteran muslim, menyebut tetumbuh­an ini memiliki khasiat obat herbal. Di Marokko, wool diwarnai dan dilukis ornamental dengan hinna, demikian pula dengan benda-benda dari kulit binatang, termasuk peralatan musik dari kulit. Hinna juga jitu untuk mengusir hama serta jamur, sehingga bisa menga­wetkan kain.

Seni lukis tubuh ini juga dikenal di Lan Na, kini daerah di perbatasan antara Thailand dan Myanmar, di kalangan penduduk lokal yang beragama Buddha.

Di lingkungan budaya kaum muslim sendiri, hinna tak hanya dipakai dalam upacara perkawinan, melainkan upacara kehamilan tujuh bulan, khitanan, serta dalam perayaan-perayaan hari besar seperti Idul Fitri dan Idul Adha.

Dalam sebuah hadist yang diriwayat­kan oleh Abu Dawud, dikisahkan seorang perempuan dari balik tirai menyerahkan sepucuk surat untuk Rasulullah. Tapi, Nabi menutup tangannya dan berkata: “Aku tak tahu apakah ini tangan lelaki atau perempuan. Jika kau perempuan, kau semestinya membedakan kukumu dari kuku lelaki, mewarnainya dengan hinna.”

Hinna dipandang mengandung “barakah”, dan dipakai sebagai simbol keberuntungan maupun sebagai kesenangan dan penguatan kecantikan. Hinna yang dilukis pada pengantin perempuan umumnya sangat rumit desainnya untuk memperkuat kesan membahagiakan dan harapan akan keberuntungan. Di ling­kung­an Yahudi yang tinggal di Yaman, lukisan tubuh pengantin perempuan bisa sangat rumit sehingga memerlukan empat hingga lima hari untuk menyelesai­kannya.

Penyempurnaan dalam budidaya dan pengolahan hinna membuat seni klasik ini tetap bertahan hingga kini, dan bahkan menjadi bagian dari seni lukis budaya pop. Jika dengan pengolahan tradisional, hinna hanya mengasilkan warna hitam dan merah, pengolahan modern bisa menghasilkan warna yang lebih beragam seperti perak dan emas.

Tato sementara ala hinna menjadi populer karena jauh identik dari premanisme. Film, videoklip dan ajang gaul, merupakan media yang memopulerkannya. Kini kita gampang menemukan gadis-gadis manis atau ibu-ibu muda yang merelakan bagian tubuhnya ditato untuk menambah eksotisme penampilan mereka, sebagai bagian dari perhiasan tubuh. Dan pada dasarnya, hinna memang pertama-tama dipakai dalam sejarahnya sebagai perhiasan kawin orang miskin yang tak mampu membeli gelang emas atau berlian. *

Komentar