Home » Khazanah » Dunia Islam » Selaksa Masjid dari Lempung

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No.3, Tahun 1, Maret 2008)

Arsitektur yang unik di Afrika, sebuah adaptasi budaya Islam dalam konteks lingkungan alam lokal.

Sepintas lalu bangunan itu mirip benteng dengan menara-menara pengawas menjulang ke langit di tepiannya. Benteng kecoklatan dari tanah lempung. Pada dinding bangunan maupun menara mencuat kayu-kayu yang mirip duri serta membuat seluruh bangunan menyerupai pohon kaktus di tengah padang kerontang.

Selaksa Masjid dari Lempung

Dalam kesederhanaannya, dan justru karena kesederhanannya, Masjid Djenne di Mali mewakili khasanah arsitektur tradisional Afrika yang menonjol. Oleh Unesco, Badan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa, masjid ini dinobatkan sebagai salah satu warisan dunia. Dia merupakan bangunan lempung terbesar di dunia, dan yang terindah.

Tak sekadar masjid yang mati. Pelataran luas masjid ini menampung ribuan pengunjung pada hari-hari ter­tentu ketika pasar diselenggarakan dan orang dengan pakaian penuh warna membeli dan menjual barang dagangannya.

Masjid itu selalu dalam kondisi bagus meski dibangun pada 1905, karena setiap tahun diperbaharui lempung penutupnya. Rancang-bangun masjid itu diilhami oleh masjid asli yang dibangun pada abad ke-11, menandai masuknya Islam ke Afrika Barat.

Kota Djenne sendiri terletak di sebuah pulau kecil yang terbentuk hampir sepenuhnya dari lempung di tengah Sungai Bani, salah satu delta Sungai Niger yang lebih besar. Dan Mali adalah satu negeri di kawasan Afrika yang dikenal sebagai “Sahil”, dari bahasa Arab yang artinya perbatasan. Inilah daerah tropis kering yang merupakan transisi antara Gurun Sahara di utara dengan daerah selatan yang lebih subur, antara antara Samudera Atlantik di barat dan Laut Merah di timur. Kawasan Sahil meliputi negeri-negeri Senegal, Mauritania, Mali, Burkina Faso, Niger, Nigeria, Chad, Sudan, dan Eritrea.

Arsitektur Masjid Djenne di Mali karenanya juga sering disebut bergaya-Sahil, gaya arsitektur tradisional khas daerah tandus Afrika, tempat rumah dan bangunan-bangunan lain umumnya terbuat dari tanah lempung. Meski merupakan salah satu negeri termiskin di dunia, Mali dikenal memiliki kekayaan budaya tersendiri. Musik lokal yang memadukan semangat blues ala Afrika di tengah denting gitar akustik merupakan kekayaan lain di samping arsitektur yang sederhana namun unik itu.

Arsitektur khas-Sahil juga bisa ditemukan pada Masjid Agung Burkina Faso, The Grande Mosquée, yang dibangun pada 1893. Eksteriornya memikat per­hati­an, terutama ketika matahari terbenam dan bangunan berubah warna menjadi keemasan, memberi latar bagi para jemaah yang singgah untuk melakukan salat setelah perjalanan mencari air di sumur terdekat atau bepergian ke desa-desa lain yang berjauhan.

Seperti pada Masjid Djenne, atmosfir kehidupan komunitas sangat kental di sekeliling masjid ini. Lapangan yang tenan­g dan temaram oleh pepohonan di sekeliling bangunan diseraki oleh sajadah dan tenda jemaah salat, memperkuat kha­risma dari salah satu bangunan Bur­kina Faso yang paling mudah dikenang.

Tak hanya Masjid Agung Burkina Faso dan Masjid Djenne. Ada ratusan, mungkin ribuan masjid dengan gaya serupa dari kota hingga desa di kawasan Sahil.

Masjid-masjid dari lempung itu memenuhi semua harapan standar dalam arsitektur masjid: lengkap dengan mihrab yang mengarah ke kiblat, menara, serta ruang dalam yang diciptakan oleh dinding dan tiang. Pada saat yang sama masjid-masjid itu mewariskan bentuk-bentuk kekal di kawasan itu yang marak pada awal masa keemasan Islam.

Mengabaikan orang dan bangunan di sekelilingnya, mata kita akan ditarik kepada materi dan bentuk, yang mematuhi pola rancang khas daerah itu, tapi tetap melayani fungsi masjid pada umumnya, sebagai tempat salat dan berkumpul bagi warga sekitar.

Arsitektur masjid lempung di Sahil secara langsung berkaitan dengan arsitektur lokal. Bahan dipilih sesuai denga­n kelayakan ekonomi dan iklim yang panas. Tanah liat dipakai untuk membuat lempung dan plester, dan kayu pohon palem dipakai untuk penyangga bangunan dan atap—kayu hutan sangat langka dan mahal di sini.

Dinding ditebalkan untuk melindungi interiornya dari panas yang menyengat dan menjadi tiang penyangga bangunan yang kadang terdiri atas dua tingkat. Pada siang hari dinding itu menyerap panas yang dikemudian dilepaskan pada malam harinya, membuat ruang dalam masjid senantiasa sejuk sepanjang hari.

Banyak bangunan masjid ini, seperti Masjid Agung Djene, juga memiliki ventilasi atap dengan tutup dari keramik. Tudung itu, yang dibuat oleh para perempuan setempat, dapat dibuka pada malam hari untuk memberi peluang udara segar masuk ke dalam ruang. Keramik dicampur dengan telur burung unta, yang melambangkan kesuburan dan kesucian.

Pokok-pokok kayu yang mencuat seperti duri memiliki fungsi praktis lebih dari sekadar hiasan aestetik. Di samping menjadi semacam pasak yang menyatu­kan seluruh struktur bangunan, kayu-kayu itu juga meminimalkan tekanan yang datang dari perubahan ekstrem dan kelembaban antara siang dan malam hari.
Lebih dari itu, kayu-kayu tadi juga menjadi semacam anak tangga bagi warga setempat ketika mereka memperbaharui lempung penutup bangunan hingga ke atapnya. Setiap tahun pada musim semi, warga bergotong-royong melakukannya.

Pada Masjid Djenne yang raksasa, acara tahunan ini mirip sebuah festival. Sekitar 4.000 orang akan naik dengan tangga dan plank, menambalkan cam­pur­an lempung dan tetumbuhan yang memberi masjid itu warna cokelat tanah. Itulah yang membuat Masjid Djene tak hanya enak dipandang. Dia juga sebuah monumen bagi dedikasi warga kota.

Fotografer Prancis Sebastian Schutyser adalah salah seorang yang berjasa menampilkan arsitektur unik masjid-masjid Sahil ini ke seluruh dunia, baik lewat bukunya, Adobe Mosques of the Inner Niger Delta yang terbit pada 2003, melalui situs internet , maupun melalui sejumlah pameran. Schutyser menga­badi­kan tak kurang 625 masjid serupa dalam perjalanan berkeliling memakai sepeda mengunjungi 2.300 desa di kawasan itu.

“Derasnya laju modernisasi, dan kurangnya apresiasi terhadap pendekatan antik dalam bidang konstruksi ini,” tulis Schutyser, “adalah ancaman serius bagi keberlangsungan arsitektur yang hidup ini. Saya berharap gambar yang saya sajikan akan menggoda para periset untuk memberi masjid-masjid lempung ini perhatian selayaknya.” *

Komentar