Home » Khazanah » Dunia Islam » Rahasia Al-Quran Kuno

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 3, Tahun 1, Maret 2008)

Manuskrip Al-Quran abad ke-7 ditemukan. Mengapa selama puluhan tahun arsip itu disembunyikan?

Sebuah berita menarik – dan penting – terdengar dari Jerman. Dikabarkan, telah ditemukan manuskrip Al-Quran yang diduga berusia 13 abad, yang selama berpuluh tahun disembunyikan di Munchen.

Rahasia Al-Quran Kuno

Berita ini dengan segera menarik banyak perhatian sejak akhir tahun lalu. Bukan saja karena Barat memang sedang sangat berminat mempelajari Islam, tapi juga karena satu pertanyaan besar: menga­pa arsip penting itu disembunyi­kan sekian lama oleh seorang ilmuwan yang memiliki reputasi harum?

Berada di pusat cerita adalah seorang pria bernama Anton Spitaler. Ia adalah ilmuwan Jerman yang dikenal sebagai ahli tentang dunia Arab. Pada tahun 1930-an, ia menyimpan ratusan rol film berisikan rekaman foto manuskrip Al-Quran kuno yang sebelumnya dikumpulkan dari berbagai negara oleh para seniornya.

Seusai Perang Dunia II, Spitaler menga­ku bahwa 450 rol film itu hilang ketika Munchen  dibombardir pesawat-pesawat tempur Inggris pada April 1945. Menurutnya, film berharga itu melebur di bawah reruntuhan bangunan di mana ia bekerja.

Nyatanya, Spitaler yang sangat dihormati, bohong. Film itu tidak pernah hilang. Ketika ia meninggal empat tahun lalu, sejumlah muridnya menemukan rol demi rol berisikan gambar  berharga tersebut di kediamannya. Angelika Neuwirth, salah seorang mantan mahasiswi si profesor, meminta pemerintah Jerman mendanai studi berjangka lama untuk mempelajari naskah-naskah tersebut. Permintaannya disetujui – sejak tahun lalu, lembaga penelitiannya di Berlin memperoleh dana yang cukup untuk proyek 18 tahun.

Studi ini dianggap luar biasa sulit, karena banyak bagian dari teks kuno itu tertulis bukan di lembaran kertas, melain­kan kepingan-kepingan tulang. Al-Quran itu masih dalam format aslinya dari abad pertama Hijriah: dalam bagian-bagian yang terpisah dan tanpa tanda baca. Karena itu, tidak mudah bagi tim peneliti untuk membaca dan menguraikannya.

Pemerintah Jerman nampak antusias, mungkin karena negara itu memang dulu – di sekitar awal abad 20 – dikenal sebagai salah satu pusat studi Al-Quran. Ketika Hitler naik ke tampuk kekuasaan, beragam proyek ilmiah mengenai Islam diberhentikan dan tak pernah dilanjut­kan seusai Perang Dunia. Mungkin saja, sekarang Jerman ingin menghidupkan kembali tradisi itu.

Al-Quran yang Sempurna
Proyek penelitian di Berlin ini menjadi penting karena umat Islam di seluruh dunia percaya bahwa, hanya ada satu Al-Quran yang merupakan ayat-ayat yang diturunkan langsung dari Allah kepada Nabi Muhammad SAW, dan terjaga kekal selamanya. Umat Islam percaya bahwa isi Al-Quran yang dibaca saat ini adalah sama persis – tanpa penambahan atau pengurangan – dari  apa yang disampai­kan Nabi pada 14 abad lalu. Karena itu, bagi para ilmuwan, kehadiran teks kuno Al-Quran ini bisa menjadi bukti tentang kebenaran keyakinan tersebut.

Proses pembuatan Al-Quran memang unik. Umat Islam percaya, mula-mula Allah menyampaikan ayat-Nya secara bertahap pada Nabi yang, karena buta huruf, tidak pernah menulisnya secara langsung. Nabi  kemudian akan menyampaikan sabda Allah itu pada para pengikutnya, yang akan menghapalkannya dan menuliskannya di berbagai media tradisional yang ada: pelepah kurma, lempengan batu, kulit binatang, dan kepingan tulang. Para sahabat Nabi dikisahkan sangat berhati-hati dalam menuliskannya. Sejumlah sahabat Nabi dikenal mampu menghapal Al-Quran sepenuhnya secara lancar dan tanpa salah.

Kumpulan ayat itu terus hidup dalam masyarakat muslim sejak awal, kendati pengumpulannya sebagai sebuah buku teks seperti yang kita kenal sekarang baru dilakukan pada era kepemimpinan Usman bin Affan, beberapa puluh tahun sesudah Nabi wafat. Di bawah Usman, bukan saja pembukuan Al-Quran dirampungkan, tapi juga dilakukan penyeragaman cara membaca serta penunggalan tertib susunan surah-surah ke dalam urutan seperti yang dikenal sekarang.

Ini berbeda sekali dengan kitab suci Kristen, Injil, yang lebih dikenal oleh para ilmuwan di dunia Barat. Injil memang diakui para penganutnya sendiri sebagai kumpulan tulisan para murid Yesus yang berkisah tentang apa yang mereka dengar­, saksikan, dan alami  semasa Yesus hidup. Penulisannya sendiri baru selesai sekitar 100 tahun setelah berlalunya Yesus.

Keputusan akhir tentang isi Injil itu baru berlangsung pada akhir abad keempat melalui sebuah sidang para uskup di Kartago. Mereka bersepakat tentang 27 kitab yang diproklamirkan sebagai kitab suci, dan hanya kitab-kitab inilah yang diakui oleh gereja. Kitab-kitab lainnya dianggap tidak sah.

Karena itulah, bisa lahir cerita fiksi seperti Da Vinci Code yang berkisah bahwa dalam sejarah Kristen, ada bagian-bagian yang hilang dari Injil yang asli. Dengan kata lain, ada penyensoran terhadap kisah Yesus yang dengan sengaja ditutup-tutupi gereja agar tidak sampai pada umat Kristen. Dalam konteks sejarah seperti itu, studi-studi mengenai Injil terutama sejak abad 19 tumbuh-kembang  dalam tradisi keilmuan di Eropa. Bagi masyarakat Kristen, Injil tidak sepenuhnya dipercaya sebagai ’tidak mungkin salah’, karena memang ada proses sejarah yang mempengaruhi ayat Tuhan yang asli.

Dunia Islam tidak melihat Al-Quran dengan cara yang sama. Umat Islam percaya Al-Quran pada dasarnya turun dalam satu paket tatkala Nabi Muhammad hidup. Ketika Nabi wafat,  paket itu sudah selesai. Apalagi di awal Al-Quran, termuat satu sabda Allah: ’’Inilah sebuah Kitab yang tak ada keragu­an di dalamnya.’’

Siap-siap Saja Kecewa!
Keyakinan akan kesempurnaan Al-Quran  bukan hanya didasarkan pada keimanan semata. Sampai saat ini, selama 14 abad sejak wafatnya Nabi, studi ilmiah mengenai otentisitas (kemurnian) Al-Quran membuktikan bahwa  pada dasarnya Al-Quran yang ditemukan di berbagai negara dan di berbagai kurun waktu berbeda menunjukkan keseragam­an. Kalaupun ada perbedaan, tak ada yang lebih serius dari variasi ejaan atau tanda baca, misalnya, tapi itu bisa dipaham­i mengingat pemberian tanda baca memang baru dilakukan belakang­an, jauh setelah Nabi meninggal.

Bagi mayoritas umat Islam, penemu­an manuskrip di Jerman ini tak akan mengubah keyakinan tentang keotentik­an Al-Quran. Tapi tentu saja, tak semua berpikiran begitu. Sebuah suratkabar Jerman menempatkan berita penemuan kitab suci itu  di halaman satu seraya meramalkan bahwa hasilnya akan ‘’menggulingkan para penguasa dan kerajaan­’’.

Jelas, ada harapan di situ bahwa temuan Nuwirth akan menunjukkan adanya ketidakkonsistenan antara Al-Quran itu dengan versi yang dikenal di dunia Islam saat ini. Tentu boleh-boleh saja berpikir begitu. Tapi, siap-siap sajalah untuk kecewa, Herr! * (AA/berbagai sumber)

***

Rahasia Spitaler

Kehadiran manuskrip Al-Quran kuno ini menjadi sangat menarik juga karena cerita-cerita sampingannya.

Spitaler, ilmuwan yang menyembunyikan arsip itu selama 60 tahun memperoleh film itu dari para senior­nya. Koleksi foto tersebut merupakan hasil kerja bertahun-tahun penelitian manuskrip Al-Quran kuno dari ber­bagai negara Timur Tengah, Afrika Utara dan juga beberapa negara Eropa. Dua seniornya tewas secara misterius dalam dua peristiwa berbeda­.

Seusai Perang Dunia II, Spitaler seharusnya melanjutkan proyek penelitian itu. Namun setelah me­nyata­­kan arsip itu hilang, ia nampak  kehilangan gairah untuk melanjutkan studi tentang Al Quran. Tak ada karya-karyanya yang menonjol. Baru setelah ia meninggal pada usia 93 tahun, para mahasiswanya mengetahui bahwa Spitaler menyembu­nyi­kan foto-foto itu dalam kotak cerutu, kaleng kue dan perkakas plastik.

Tak ada yang paham mengapa Spitaler, seorang penganut Katolik taat, sekian lama berbohong soal arsip bersejarah itu. Sebagian pihak menduga Spitaler merasa tak mampu   menangani proyek sesulit itu dan me­milih untuk melakukan hal-hal lain. Tapi sebagian lain curiga bahwa ia melihat sesuatu yang sangat pen­ting dalam arsip yang dimilikinya, tapi tak ingin orang lain mengetahuinya.

Dengan segenap kontroversi ini,  Neuwirth  mengaku lebih suka kalau proyek mereka saat ini tidak dipu­bli­kasikan secara besar-besaran. Untuk meredam berbagai pertanyaan, Neuwirth sudah mengundang Al-Jazeera dan media lainnya untuk meluruskan kecurigaan yang mungkin ditimpakan padanya. ‘’Kami hanya ingin mempelajari dan bukan meragu­kan Al-Quran’’, katanya.*

Komentar