Home » Khazanah » Dunia Islam » Pentol Korek yang Menghidupi Ribuan Orang

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 4, Tahun 1, April 2008)

Kalau saja setiap muslim di Indonesia mau menjalankan perintah-perintah soal pemerataan yang termuat di  Al-Quran, pasti persoalan kemiskinan di negara ini lebih mudah teratasi.

Pentol Korek yang Menghidupi Ribuan Orang

Setiap muslim, kata  Al-Quran, seharusnya bertanggungjawab atas kaum miskin. Dalam harta kaum berpunya, ada bagian kaum miskin. Umat Islam yang dikutuk, kata  Al-Quran juga, adalah kaum muslim yang (mungkin) salat tapi tidak peduli pada kaum miskin.

Dalam konteks itulah, Dompet Dhuafa (DD) ada. Lembaga yang berdiri sejak 1993 ini menawarkan jasa pengumpulan dana dan penyalur­an bantuan bagi kaum miskin di Indonesia. Bisa dibilang, DD adalah lembaga dengan pengumpulan zakat terbesar di Indonesia. Bantuan yang disalurkannya pun bukan hanya bersifat karitatif, tapi juga – terutama – untuk pengembangan masyarakat.

Bermula dari Gunung Kidul
Sejarah DD berasal dari harian Republika yang berdiri pada 1993. Gagasan DD lahir setelah para wartawan harian tersebut secara sukarela menyisih­kan 2,5% dari gaji mereka untuk dana sosial. Ini kemudian berkembang ketika pimpinan Republika, Parni Hadi, tergerak memobilisasi dana masyarakat untuk membantu kaum miskin di Gunung Kidul, Yogyakarta. Hanya dengan­ pengumuman melalui kolom kecil di halaman muka, ajakan tersebut memperoleh sambutan sangat positif dari pembaca. Dana bantuan pun mengalir.

Sejak saat itulah, para petinggi Republika memutuskan untuk mengefektifkan aktivitas penggalangan dana melalui divisi ter­sendiri. Mula-mula sekedar dengan mempekerjakan manajer dan staf terbatas, lama-lama ia berkembang menjadi sebuah lembaga khusus pengelola zakat yang diakui resmi oleh pemerintah.

Saat ini, DD sudah berdiri sebagai organisasi terpisah. Bagaimanapun nama Republika masih dikenakan, baik atas alasan historis maupun karena itu sudah menjadi semacam trademark mereka. Kehadiran halaman ’Dompet Dhuafa’ setiap pekan di harian tersebut sama sekali tidak gratis. ”Memang Republika memberi diskon, tapi ya dengan hitung-hitungan bisnislah,” kata Rini Suprihartini, Direktur Keuangan dan Operasi DD.

DD berkembang atas dasar sejumlah asumsi. Pertama,  ada banyak kaum muslim yang bersedia berbagi tapi tidak tahu cara yang tepat untuk menyalurkan dananya. Kedua, penyaluran dana itu sendiri seringkali tidak dilakukan dengan perencanaan dan pelaksanaan program yang matang, sehingga tidak mencapai sasaran yang optimal.

Karena itu DD  berusaha mengembangkan organisasi dengan cara sepro­fesional mungkin. Bila dulu DD bersifat pasif, hanya menunggu datangnya sumbangan, sekarang mereka menerapkan teknik pemasaran modern: berusaha menjemput perhatian kaum dermawan melalui berbagai sarana promosi di suratkabar, media elektornik, direct mail sampai internet.

Peruntukan dananya pun dikembang­kan. Sebagai contoh, DD dulu hanya bergerak bila ada  kebutuhan langsung, misalnya bencana alam. Pertanyaannya kemudian:  bukankah masyarakat menderita itu ada bukan hanya saat bencana? Bagaimana dengan kaum petani yang dililit lintah darat, bagaimana dengan­ pedagang kaki lima yang butuh modal dan pendampingan, bagaimana dengan anak-anak miskin yang tak punya pendidikan memadai, bagaimana dengan kaum papa yang tak sanggup membiayai pelayanan kesehatan?

Untuk meresponsnya, DD mengembangkan sistem Jejaring Multi Koridor. Dinamakan begitu, karena peruntukan bantuan bisa beragam – dari bantuan bencana alam sampai pinjaman modal, atau beasiswa. Yang terpenting adalah bagaimana mengangkat orang dari penderitaan:

Membantu Diri Sendiri
Salah satu semangat yang dibangun DD adalah ”membantu masyarakat, membantu diri mereka sendiri”. Melalui program Masyarakat Mandiri misalnya, DD menyalurkan bantuan modal untuk membantu para usahawan kecil. Dalam skema micro-financing, mereka bukan cuma diberi pinjaman modal dengan bunga rendah, tapi juga didampingi bagaimana mengelola dana tersebut secara efektif. Ketika usaha mereka ber­kembang, dana keuntungannya sebagian disalurkan untuk mengembangkan ko­pe­rasi yang dikelola komunitas setempat.

Semangat pemerataan juga sangat mewarnai DD. Dalam hal Hari Raya Kurban misalnya. Karena sebagian umat Islam hanya mau berkorban di daerahnya sendiri, terjadi penumpukan daging kurban di daerah-daerah yang sebenar­nya relatif kaya. Kaum dhuafa di daerah miskin cuma bisa gigit jari karena di daerah­nya memang tidak tersedia kaum berpunya.

DD mengubah pola itu dengan program Tebar Hewan Kurban. Dalam hal ini, DD mengumpulkan dana kurban dari kota-kota besar untuk kemudian disalur­kan ke berbagai daerah miskin di Indonesia. Untuk memuaskan hati pemberi kurban, DD mengirimkan foto penyembelihan hewan kurban atas nama si pemberi korban. Melalui program ini, DD bisa menyalurkan sekitar 10 ribu ekor ternak ke 2.000 desa di seluruh Indonesia. ”Bahkan sampai ke masyarakat muslim yang miskin di Kamboja,” cerita Rini bangga.

Sisi positif lain dari program ini adalah itu turut mendukung pemberdayaan peternak di banyak daerah. Sekitar tiga bulan sebelum Hari Raya, DD sudah menyalurkan  dana pada para peternak kecil untuk mulai memelihara hewan-hewan yang dibutuhkan. Saat hari-H tiba,  semua sudah tersedia dengan­ harga terjaga.

DD juga berusaha membantu masyarakat yang sulit dicapai oleh transportasi umum. DD misalnya membantu pelayaran kapal laut berkapasitas 30 ton mencapai 18 pulau di kepulauan Flores. Kapal tersebut menebar amanah zakat dengan mensuplai kebutuhan pokok di pulau-pulai kecil tersebut dengan membawa beras yang diambil langsung dari Makasar. Kapal itu juga mengangkut hasil dan pertanian masyarakat dari pulau-pulau itu untuk dipasarkan di pusat kota maupun antarpulau. Ini menjadi pen­ting mengingat selama ini baik hasil laut maupun bumi di Indonesia Timur sebagian besar ditadah langsung saudagar luar negeri.

Dalam hal pendidikan, DD mengembangkan program pelatihan guru, serta pelatihan ketrampilan gratis, seperti pelatihan menjahit, montir, dan sebagai­nya. DD bahkan menggunakan dana yang terkumpul untuk membangun SMP-SMA berasrama dan bebas biaya, yang berlokasi di daerah Parung, Bogor. Syarat menjadi muridnya cuma dua: tidak mampu dan berprestasi.

Salah satu program lain yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat miskin adalah Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC). Sebagai­mana nama program, DD memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi kaum miskin yang terdaftar sebagai anggota. LKC memiliki klinik 24 jam, yang menyedia­kan fasilitas rawat inap dan dokter spesialis.

Dalam menjalankan misinya, LKC juga bekerjasama dengan banyak pihak. Februari lalu, LKC misalnya bekerjasama dengan Perkumpulan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) menyediakan operasi katarak mata gratis bagi lebih dari 90 pasien. Sejak beberapa bulan lalu, LKC juga bekerjasama dengan Masjid Sundakelapa, Jakarta, mengembangkan Rumah Sehat di masjid tersebut.

DD sendiri tidak membatasi agama mereka yang boleh memperoleh bantuan. ”Kalau ada bencana alam, masak harus dipilah-pilah antara yang muslim atau yang bukan?” kata Rini. ”Atau kalau ada bantuan bagi para pedagang kecil, masak mereka yang non-muslim dikecuali­kan?”

Toh, DD tidak menampik kalau dikatakan bahwa sebagian besar yang memperoleh bantuan adalah komunitas muslim. Pertama, karena mayoritas orang miskin memang muslim. Kedua, perasaan para pemberi bantuan harus selalu diperhatikan. ”Biar bagaimanapun ini amanah, dan kami tidak ingin mengecewakan mereka yang sudah menyisih­kan uangnya.”

Lebih dari Rp. 40 miliar
Jumlah penyumbang terus meningkat. Di tahun pertama (1993), jumlah dana terkumpul setahun tak mencapai Rp. 88 juta. Lima tahun kemudian sudah tumbuh menjadi hampir Rp. 4 mi­liar; yang meningkat lagi menjadi Rp. 17 miliar pada 2003 dan Rp. 42 miliar pada tahun lalu.

Menurut Rini, mengelola amanah orang banyak adalah tidak gampang. Sebagai contoh, dana zakat disepakati tidak bisa diendapkan. Pada prinsipnya, dana zakat harus segera disalurkan ke pihak yang membutuhkan, sehingga tidak layak dana tersebut dibiarkan ber­lama-lama tersimpan di bank. Apalagi zakat fitrah di akhir Ramadhan. Begitu juga dengan peruntukan. ”Hanya 1/8 dari penerimaan zakat yang boleh digunakan untuk biaya pengelolaan zakat,” kata Rini.

Karena harus menjaga amanah itu, DD berusaha selalu transparan kepada publik. Situs mereka (www.dompet­dhuafa.or.id) menyajikan informasi leng­kap, dari nama-nama penyumbang sampai penggunaan dan penyaluran dana. DD pun diaudit oleh akuntan publik.

Hubungan dengan para donatur pun dijaga baik. Setiap donatur tetap memperoleh laporan melalui beragam media, seperti newsletter bulanan yang dicetak 12 ribu eksemplar setiap bulannya. Sejauh ini, sebagian besar penyumbang masih datang dari daerah Jabodetabek. Sebagian besar dana datang dari penyum­bang individual, yang menyisih­kan minimal Rp. 100 ribu untuk mem­bantu masyarakat dhuafa.

Rini percaya, masih banyak yang bisa dilakukan di masa depan. Saat ini saja ada semakin banyak perusahaan besar yang mempercayakan dana program Corporate Social Responsibility mereka pada DD. ”Lima belas tahun yang lalu orang berseloroh menyebut DD sebagai pentol korek,” tutur Rini sambil tersenyum. ’’Sekarang, alhamdulillah ada ribuan orang yang sudah merasakan manfaatnya.”*

Komentar