Home » Khazanah » Dunia Islam » Masjid dengan Tiga Tiang Agama

Ada yang menarik di Kabupaten Lombok Utara, tepatnya di Desa Karang Pangsor, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Di saat mengunjungi masyarakat di wilayah itu, saya diajak ke satu masjid yang masih belum selesai. Masjid itu bernama Jami’ul Jamaah.

Masjid dengan Tiga Tiang Agama

Dinamakan Jami’ul Jamaah (yang artinya “semua jamaah”) karena masjid itu dibangun oleh tiga kelompok masyarakat pemeluk agama yang ada di wilayah itu: masyarakat Muslim, Hindu, dan Budha.

Masjid ini merupakan masjid yang menjadi ikon kerukunan antarwarga, khususnya antarpemeluk agama di wilayah Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Di kecamatan itu, mayoritas masyarakatnya terdiri dari tiga pemeluk agama: Islam, Hindu, dan Budha. Begitu rukunnya antarpemeluk agama di sana, sehingga pembangunan rumah ibadah pun mereka saling membantu. Seperti dalam pembangunan masjid di atas.

Menurut pengurus Jami’ul Jamaah, masjid ini tidak akan bisa berdiri tanpa dukungan dari tiga unsur masyarakat agama tersebut. Kenapa demikian? Karena masjid itu ditopang oleh tiga tiang yang saling menguatkan, simbol dari tiga masyarakat agama yang berkontribusi dalam pembangunannya.

Tidak hanya itu, pembangunan rumah ibadah lain selain masjid pun (Pura dan Vihara) dilakukan secara gotong royong oleh ketiga pemeluk agama itu. Kerukunan antarumat beragama yang patut dijadikan contoh.

Di samping keindahan alamnya yang eksotik, Lombok dikenal juga sebagai wilayah seribu masjid. Di mana-mana ada masjid, bahkan di setiap dusun pasti terdapat masjid. Bahkan di beberapa wilayah di Lombok, fenomena saling membantu antarpemeluk agama untuk membangun sebuah rumah ibadah bukanlah ha lasing. Kita dapat banyak menjumpainya di daerah itu.

Kerap pula ditemui bangunan masjid yang berhadapan langsung dengan Pura. Contohnya, di Desa Sesaot, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Desa Sesaot terdiri dari lima dusun. Tiga dusun berpenduduk Muslim dan dua dusun berpenduduk Hindu. Masjid Nurul Huda, sebagai masjid besar di Desa Sesaot pun didirikan oleh masyarakat Muslim dan Hindu.

“Masjid ini merupakan hasil swadaya masyarakat di Desa Sesaot. Banyak masyarakat Hindu yang ikut berpartisipasi untuk pembangunan masjid ini. Mereka menyumbangkan kayu, pasir, dan apa saja yang mereka miliki untuk pembangunan masjid ini,” papar Mamik Nashrudin Muhdi, pengurus masjid Nurul Huda dan tokoh masyarakat Desa Sesaot.

Meskipun bukan tempat ibadah mereka, lanjutnya, mereka tetap antusias dalam berkontribusi untuk pembangunannya. “Selain sebagai wujud kerukunan antarumat beragama, para pemeluk agama Hindu yang menyumbang itu meniatkan amalnya untuk saudara-saudara mereka yang Muslim. Karena mereka pun memiliki saudara yang Muslim, entah yang menikah antara pemeluk Hindu dan Muslim maupun dari saudara-saudara lain. Minimal amalnya tersebut diniatkan untuk para saudara Muslim mereka”, ujarnya.

Masjid Nurul Huda ini berhadapan dengan Pura di lingkungan Banjar (pemukiman Hindu) di Desa Sesaot. Meskipun rumah ibadah itu saling berhadap-hadapan, tapi tidak pernah terjadi keributan di antara mereka. Para pemuda Muslim dan Hindu berbaur, baik dalam kegiatan olahraga maupun pergaulan sehari-hari. Dari pakaiannya kita bisa membedakan antara pemuda Muslim dengan Hindu. Pemuda Muslim (yang mayoritas santri di wilayah itu) mengenakan baju Muslim (koko) dan kain sarung, sementara pemuda Hindu mengenakan kain dan ikat kepala, seperti pakaian adat di wilayah Bali.

Itu semua dapat terjadi karena adanya kesadaran yang tinggi pada masyarakat di wilayah itu akan pentingnya kehidupan damai. Meskipun berbeda agama, tetapi bukan menjadi kendala untuk saling menghormati dan saling membantu.***

Sumber Foto:
1. Dokumentasi Harja Saputra
2. http://www.hendiburahman.web.id
3. http://tweltwel.blogspot.com

Komentar