Home » Khazanah » Dunia Islam » Maarif Institute Pelajari Kualitas Keislaman Kota-kota di Indonesia
Foto: swa.co.id

Maarif Institute Pelajari Kualitas Keislaman Kota-kota di Indonesia

Terinspirasi oleh dua peneliti dari Universitas George Washington Scheherazade dan Hossain Askari yang melakukan penelitan terhadap 208 negara tentang  bagaimana nilai-nilai Al-Quran diterapkan, Maarif Institute akan melakukan  penelitian tantang Indeks Kota Islami (IKI) di kota-kota di Indonesia. Hal itu disampaikan dalam Public Expose Indeks Kota Islami yang diadakan Kamis (27/8) di PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat.

Menurut Fajar Riza Ul Haq, Direktur Eksekutif Maarif Institute, ada tiga tujuan dari penelitian ini. Pertama, mendapatkan model pengukuran kota Islami yang juga mencerminkan kinerja pemerintah daerah dalam melayani masyarakat. Kedua mengukur parameter kinerja pemerintah kota berbasis nilai-nilai Islam dalam pelayanan kepada masyarakat. Ketiga, mengevaluasi formalitas keberagamaan  yang mengindahkan kebhinekaan.

Maarif Institute mendefinisikan kota Islami sebagai kota yang memberikan keadaan baik (ni’mah). Untuk mengukur keadaan baik tersebut, Maarif Institute menggunakan metodologi tujuan syariah (maqasith syariah) dalam ilmu Ushul Fikih.

“Ada enam prinsip maqasith syariah. Yaitu, menjaga harta benda, menjaga kehidupan, menjaga akal, menjaga agama, menjaga keturunan, dan menjaga lingkungan. Berdasarkan prinsip itu, kota Islami adalah kota yang aman, sejahtera, dan bahagia,” ujar Ahmad Imam Mujaddid Rais, Ketua Peneliti Indeks Kota Islami.

Tapi, menurut Ahmad, rumusan yang ada sekarang belum final. Tim riset IKI masih melakukan tahap diskusi dengan masyarakat dari berbagai macam elemen agar hasil indeks nantinya sesuai harapan.

“Yang kami lakukan saat ini adalah public expose. Jadi hasilnya belum ada. Kita masih akan mensolidkan variabel dan indikator indeksnya agar hasilnya valid,” lanjut Ahmad.

Berdasarkan tiga komponen kota Islami tersebut (aman, sejahtera, dan bahagia) tim riset Maarif Institute menguraikannya lagi dengan sejumlah variabel dan indikator.

Kota Aman akan dinilai berdasarkan dua variabel penelitian yang terdiri dari kebebasan menjalankan agama dan keyakinan serta pemenuhan hak dasar negara. Kedua variabel tersebut akan diturunkan menjadi sejumlah indikator seperti toleransi, mendirikan tempat ibadah, pendidikan agama, tidak adanya kebencian, transparansi pemerintahan, partisipasi, kepemimpinan, akuntabilitas dan kontrol terhadap tingkat kejahatan.

Kota Sejahtera akan dinilai berdasarkan empat variabel penelitian yang terdiri dari pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan kesehatan. Keempat variabel tersebut diturunkan menjadi beberapa indikator, seperti akses terhadap layanan kesehatan, rasio ketersediaan tenaga kesehatan, standar gaji berdasarkan Upah Minimum Regional (UMR), akses dan ketersediaan fasilitas pendidikan, serta tersedianya sejumlah lapangan pekerjaan dan kemudahan untuk berusaha.

Kota Bahagia akan dinilai berdasarkan tiga variabel penelitian yang terdiri dari kenyamanan, dimensi kolektif, dan kepedulian lingkungan. Ketiga variabel tersebut diturunkan menjadi beberapa indikator seperti regulasi, infrastruktur, Perda perlindungan lingkungan, sistem pengelolaan sampah, tersedianya ruang terbuka hijau, dan pengelolaan sumber daya alam yang baik.

“Ketika kota aman, tentu warga akan berekspresi, bekerja, bekarya sehingga akan menghasilkan kesejahteraan. Setelah sejahtera warga akan meresapi nilai-nilai kebudayaan, kesenian, lingkungan sehingga akan memunculkan kebahagiaan,” ucap Ahmad.

Husein Muhammad yang menjadi penanggap dalam diskusi tersebut memberi rangkaian masukan terhadap indikator-indikator tersebut.

“Islam diambil dari kata ‘Salama”. ‘Salama’ itu memiliki enam makna. Satu, kepasrahan kepada Tuhan. Ini maknanya tauhid. Dua, damai. Tiga, selamat. Keempat, sehat. Kelima, bersih, suci. Dan yang keenam, meningkat. Saya kira, ini bisa menjadi acuan dasar,” katanya.

Merujuk pada makna Islam tadi, KH. Husein punya 10 indikator. Pertama, seberapa banyak polisi menganggur. Semakin banyak polisi yang mengaggur berarti sudah aman. Kedua, seberapa banyak kertas digunakan untuk koran, majalah, jurnal, buku ilmu pengetahuan dan sastra. Berapa banyak buku yang diterbitkan tiap bulan atau tahun?

“Kalau banyak hebat. Kalau tidak, lemah,” ujarnya.

Ketiga, menurutnya, seberapa sering orang mengucapkan ‘selamat pagi’, ‘terima kasih’, ‘ada yang bisa saya bantu?’ sambil tersenyum setiap hari. Keempat, seberapa banyak orang yang sedekah. Semakin banyak orang bersedekah maka semakin sejahtera bangsa itu. Kelima, seberapa banyak orang yang menanam bunga.

“Bunga itu dasyat sekali. Makan sudah selesai. Pendidikan sudah selesai. Rumah sudah ada semua. Terus mau apa? Menanam bunga,” jelasnya.

Keenam, menurut KH. Husein, seberapa aman perempuan jika dia mau jalan dan melakukan berbagai aktivitas di malam hari. Kalau bisa keluar malam tanpa rasa takut atas dasar pilihan dia sendiri maka itu bagus negaranya. Dan seberapa banyak perempuan sebagai pengambil kebijakan.

Ketujuh, lanjutnya, seberapa aman jika mobil kita diparkir di jalan. Kedelapan, apakah di kota itu ada PKL. Banyaknya PKL maka banyak orang miskin. Kesembilan, berapa banyak orang yang sakit atau berapa banyak rumah sakit. Semakin banyak rumah sakit, maka semakin banyak orang sakit maka itu tidak sejahtera. Kesepuluh, berapa banyak pusat-pusat kebudayaan dan seni, serta taman-taman rindang yang didirikan dan dibangun.

“Itu indikator-indkator yang praktis. Gampang sekali.”

Pertanyaannya, baginya, apakah banyaknya masjid, mushala, madrasah, pesantren, TPQ, ibadah ritual, seremoni keagamaan, ceramah-ceramah orang yang berangkat haji adalah pertanda kemajuan kota?

“Bagi saya, tidak ada korelasi positif. Bahkan bisa jadi justru kebangkrutan, pailit beragama. Kesalehan individual yang dituntut Islam harus selalu melahirkan kesalehan sosial. Manakala kesalehan individual itu tidak melahirkan efek kesalehan sosial dan kemanusiaan justru melahirkan hidup destruktif terhadap kepentingan sosial kemasyarakatan maka saya katakan itu adalah satu kebangkrutan dalam agama.”

Ia pun menyitir sebuah hadis. Nabi pernah bertanya kepada sahabatnya. Apakah sebenarnya kalian tahu siapa orang yang bangkrut? Para sahabat menjawab orang bangkrut adalah orang yang tidak punya uang atau tidak punya harta benda. Nabi mengatakan, bukan. Orang yang bangkrut adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan-amalan ibadah shalat, puasa, zakat, haji, tetapi pada saat yang sama dia juga datang sebagai seorang yang pernah mencaci maki orang lain, menuduh orang lain, makan harta orang lain, mengalirkan darah orang lain, memukul orang lain.

“Para korban itu akan diberikan pahala dari pahala kebaikan si pelaku. Ketika pahala kebaikannya habis sebelum dapat menebusnya, maka dosa-dosa para korban tersebut akan ditimpakan kepadanya. Kemudian si pelaku itu dilemparkan ke api neraka.”

Baginya, kesepuluh indikator itu cukup untuk menilai apakah sebuah kota islami tidak.

“Sederhana saja,” jelasnya.[]

Warsa Tarsono

Komentar