Home » Khazanah » Dunia Islam » Kisah Lama Penyiksaan Ulama yang Berbeda Pandangan
Buya Hamka. Salah satu ulama yang dipenjara saat Orde Lama

Kisah Lama Penyiksaan Ulama yang Berbeda Pandangan

Oleh Nadirsyah Hosen*

Gerakan yang senang mengkafirkan orang lain yang berbeda pandangan sudah sejak lama terdapat dalam sejarah Islam. Ini bukan gerakan yang sama sekali baru. Mungkin tokoh dan mediumnya saja yang baru; isinya barang yang sudah lama.

Paling celaka kalau gerakan ini berkolaborasi dengan kekuasaan. Kalau sudah begini, mereka yang  semula hanya mengkafirkan orang lain kemudian menjadi memiliki kekuasaan untuk mengeksekusi siapa saja yang mereka anggap kafir. Mereka senang meminjam tangan penguasa, dan anehnya ada banyak penguasa yang senang berkolaborasi dengan mereka sebagai imbalan mendapat dukungan politik.

Sejarah Islam mengenal banyak kisah tragis para ulama yang dikafirkan dan disiksa karena pandangan-pandangan mereka.

Ahmad bin Hanbal bukan saja disiksa karena mempertahankan keyakinannnya bahwa al-Quran itu qadim, pemuka mazhab Hanbali ini pernah digeledah rumahnya oleh khalifah karena dicurigai melindungi pengikut Syi’ah.

Imam Syafi’i, guru dari Imam Ahmad bin Hanbal, tidak lepas dari tuduhan Rafidhah (pengikut Syi’ah). Beliau diseret dalam keadaan tangan terbelenggu bersama sekitar 300 orang lainnya.

Mufassir klasik seperti Imam al-Thabari juga dituduh Syi’ah karena dalam salah satu karyanya men-shahih-kan Hadis Ghadir Khum, sedangkan Imam al-Biqai dianggap kafir hanya karena mengutip perjanjian lama dalam kitab tafsirnya.

Imam al-Amidi, pengarang kitab al-Ihkam fi Usul al-Ahkam, terkena pula tuduhan kafir karena memasukkan unsur filsafat dalam sebagian karyanya.

Imam Nasa’i, ahli hadis terkenal, itu juga babak belur dihajar mereka yang tidak suka dengan riwayat hadis yang ia sampaikan tentang Muawiyah.

Imam Abu Hanifah, pemuka mazhab Hanafi, berulangkali disiksa penguasa karena menolak diangkat sebagai hakim.

Ibn Taimiyah pun lama dipenjara dan akhirnya meninggal setelah dilarang menggunakan tinta dan kertas selama di penjara.

Daftar ini bisa menjadi sangat panjang dan menimpa ulama dari semua mazhab dan disiplin ilmu. Tuduhan dan fitnah keji itu sudah menjadi menu utama para ulama klasik. Dan sejarah selalu berulang.

Akan tetapi sejarah mencatat pula bahwa karya-karya para ulama di atas masih dibaca dan dijadikan rujukan ribuan tahun setelah mereka wafat. Dan sejarah jarang mengingat nama-nama penguasa atau kelompok yang memfitnah, mengkafirkan, dan menyiksa mereka.

Pada akhirnya, yang akan dikenang dan abadi di hati adalah kontribusi kita untuk ilmu dan umat; bukan caci-maki, fitnah, kafir-mengkafirkan, bid’ah-membid’ahkan, dan perselingkuhan dengan penguasa untuk membungkam mereka yang berbeda. Kita semua akan dihakimi oleh sejarah peradaban umat sebelum kelak akan berhadapan dengan Sang Maha Hakim.

Teruslah berkarya dan mengabdi pada ilmu dan umat!

*Nadirsyah Hosen adalah Rais Syuriah/Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand

Komentar