Home » Khazanah » Dunia Islam » Kaum Moderat Harus Bersuara Menantang Radikalisasi Agama!
Foto: cnnindonesia.com

Kaum Moderat Harus Bersuara Menantang Radikalisasi Agama!

Dua tokoh agama Indonesia, Romo Benny Susetyo (Rohaniawan Katolik) dan Abdul Mu’ti (Sekretaris Umum PP Muhammadiyah) sangat prihatin dengan gejala makin meningkatnya radikalisme agama di Indonesia sekarang ini. Hal itu disampaikan dalam diskusi Masa Depan Deradikalisasi Agama di Indonesia, yang diadakan Nurcholish Madjid Society (NCMS), Kamis, (22/10) di Jakarta.

Mereka menyayangkan pemerintah tidak melakukan upaya yang sungguh-sungguh meredam ini. Sementara masyarakat seperti mendiamkan gejala ini. “Suara kalangan moderat tidak terdengar, padahal mereka mayoritas. Mereka memilih menjadi silence moyority,” ucap Abdul Mu’ti dengan nada prihatin.

Sementara Romo Benny berpendapat, semakin sedikitnya tokoh-tokoh yang berani menyuarakan pluralisme beragama menjadi salah satu penyebabnya. “Sekarang semakin jarang tokoh-tokoh seperti Gus Dur, Cak Nur, Romo Mangun atau pendeta Eka Dharma Putra yang memahami agama secara utuh dan berani meluruskan pemahaman yang salah,” ujarnya.

Menurutnya, ada tiga penyebab meningkatnya radikalisme agama di Indonesia. Pertama, globalisasi.  Kedua, pemahaman yang sempit terhadap ajaran agama dan diakomodasi oleh media massa, terutama televisi. Dan ketiga, persoalan masyarakat urban.

Menurut Romo Benny, globalisasi telah menciptakan arus deras informasi yang begitu mudah bagi masyarakat. Di dunia maya dengan mudah diperoleh peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar Indonesia dan mempengaruhi situasi keagamaan Indonesia. Di samping itu, globalisasi juga telah menciptakan kesenjangan, perebutan sumberdaya alam, dan konflik kepentingan.

“Selama dunia ini dipenuhi konflik, perebutan sumberdaya, dan konflik kepentingan, maka radikalisme akan berkembang terus. Itulah yang terjadi di dunia Arab sana,” ucap Romo Benny.

Terkait pemahaman yang sempit terhadap ajaran agama, menurut Romo Benny, ada kecenderungan besar di semua agama adanya gerakan puritanisme. Baik itu di Kristen, Islam, Hindu, Budha dan lainnya. Ada kecenderungan untuk kembali ke agama yang asli.

Orang-orang Kristen, misalnya, mulai menggunakan kultur Israel. Sehingga dalam soal lilin pun, mereka merasa harus menggunakan lilin seperti punya Yahudi. Puritanisme membuat identitas keagamaan menjadi kuat. Dan ketika agama tidak bersentuhan dengan kultur dan budaya, tidak mengalami asimilasi, maka agama-agama itu cenderung menjadi keras.

“Saat ini kita menghadapi persoalan teks-teks agama yang tidak lagi dilihat konteksnya. Teks-teks agama dipahami hanya secara literal dan tekstual. Sehingga kecenderungannya menjadi alat pembenaran untuk kekerasan. Itu diakibatkan pemahaman agama yang tidak utuh,” ujarnya.

Sayangnya, menurut Romo Benny, pemahaman tekstual itu yang saat ini diakomodasi oleh televisi di Indonesia. “Kita lihat mimbar-mimbar televisi yang ada selalu menyajikan pemahaman agama yang tekstual. Dan pemahaman yang tekstual itu hitam-putih. Sehingga orang yang bukan bagian hitam dan putih itu menjadi salah,” imbuhnya.

Terkait dengan persoalan masyarakat urban, Romo Benny menyebutkan bahwa kasus Tolikara dan Aceh Singkil adalah di antara contohnya. Di daerah-daerah tertentu adanya migrasi masyarakat urban seringkali dianggap ancaman. Orang-orang merasa terganggu dengan hadirnya orang luar. Ini juga sering dianggap ancaman bagi eksistensi agama di daerah itu.

“Persoalan lain yang menyertai ini, agama-agama yang ada di Indonesia adalah agama-agama yang berkembang. Di satu sisi ini adalah harapan, bahwa agama tumbuh, rumah-rumah ibadah dibangun di mana-mana. Tapi di sisi lain, agama-agama ini melupakan konteks di mana dia berada. Karena itu terjadilah konflik,” ujarnya.

Senada dengan Romo Benny, Abdul Mu’ti pun berpendapat bahwa globalisasi menjadi penyebab radikalisme agama di Indonesia. Menurutnya, tantangan deradikalisasi agama –dia lebih suka menyebutnya moderasi agama– adalah globalisasi. Banyak kelompok menjadi ekstrem, baik dalam konteks teologi maupun budaya karena khawatir terhadap identitas yang mereka miliki.

Mereka memposisikan diri dalam posisi yang terancam. Karena mereka terancam secara teologis, maka solusinya tidak memerlukan tafsir dalam beragama. Teks itu jangan ditafsirkan, tapi teks itu harus dikembalikan pada otentisitasnya. Kelompok ekstrem ini berusaha untuk meminimalkan semaksimal mungkin intervensi atau keterlibatan pemikiran.

“Kelompok ini senantiasa kritis terhadap penafsiran-penafsiran yang menggunakan pendekatan ilmiah atau penafsiran yang menggunakan pendekatan multidisipliner dalam kajian agama. Mereka khawatir itu bisa menyelewengkan teologi dari keasliannya,” jelas Mu’ti.

Dalam konteks kultural, ketakutan ini juga dirasakan. Ketika liberalisme itu ditandai dengan upaya membebaskan diri dari ikatan moral dan nilai-nilai tradisional, mereka berusaha melakukan konservasi terhadap identitas kultural. Ketika kelompok liberal mendemonstrasikan pakaian seminimal mungkin, mereka anggap itu sebagai ancaman, kemudian mereka berpakaian setertutup mungkin.

Dalam konteks Islam, setertutup mungkin dimaknai dengan berjilbab dan bercadar. Itu harus dilihat sebagai cara untuk melestarikan identitas (conserving identity). Berbusana yang serba minimal itu dianggap sudah bertentangan dan bisa merusak tradisi atau warisan yang dianggap sebagai nilai-nilai utama.

“Bentuk-bentuk ekstremisme itu sangat beragam. Ada yang arahnya ke puritanisme dan ada yang bentuknya konservatisme. Bisa juga dalam bentuk ekspresi sosial, rasialisme, phobia terhadap agama tertentu dan yang lain-lain. Perasaan under threat ini yang kemudian menumbuhkan ekstremisme,” papar Mu’ti.

Menurutnya, terkait dengan perasaan under threat, mereka ini sesungguhnya adalah kelompok yang secara religius mencoba ingin mencari makna dalam kehidupannya. Mereka merasa ada kondisi  keberagamaan yang menyimpang dan mereka ingin menjadikan diri mereka bermakna bagi komunitasnya dengan mengoreksi penyimpangan itu.

“Saya pernah membaca buku yang secara keagamaan ekstrem dan ternyata penulisnya adalah mereka yang punya masa muda yang berandal atau sejenisnya. Di masa mudanya dia ahli maksiat, ahli mesum, pokoknya yang serba melanggar agama,” ujarnya.

Menurut Mu’ti, dalam teori agama ini disebut sebagai kelompok yang mengalami konversi agama. Dia mengalami konversi agama karena merasa dirinya sudah jauh sekali dari agama. Sehingga dia kemudian ingin menjadi orang yang bermakna dengan cara melakukan sesuatu bagi agamanya.

“Pelaku-pelaku bom bunuh diri kalau kita amati rata-rata latar belakang kehidupan mereka seperti itu. Dengan janji orang yang mati syahid akan masuk surga tanpa hisab, hal itu menjadi sebuah pencarian makna hidup yang mendorong mereka untuk melakukan apapun demi bisa mendapatkannya,” kata Mu’ti.

“Kelompok-kelompok seperti ini yang cenderung menjadi ekstrem. Salah satu contohnya Munarman.  Orang seperti itu jumlahnya banyak,” tambah Mu’ti.

Sebab berikutnya adalah kapitalisme yang membuat hidup ini berorientasi serba materi. Kapitalisme memang menjadi alasan lahirnya ekstremisme, dan agama seringkali menjadi referensi untuk orang melawan ketidakadilan.

“Sekarang ini kita sudah mulai melihat monotheism dikalahkan oleh money theism. Kalau punya uang, dia hampir bisa meraih apapun yang diinginkannya. Oleh karena itu, ketidakadilan secara ekonomi juga menjadi alasan kelompok tertentu untuk menjadi ekstrem di dalam beragama. Karena agama bisa menjadi legitimasi untuk melawan,” jelasnya.

Menurut Mu’ti, karena ketidakadilan melibatkan mereka yang berbeda agama, maka kebencian kepada mereka yang berbeda agama dicari referensinya di dalam teologi. Ini yang membuat perlawanan itu menjadi dasyat.

“Karena itu, kalau pendekatan moderasi agama itu tidak disertakan aspek-aspek yang bersifat ekonomi dan aspek-aspek sosial, maka pendekatan secara teologi akan tetap mentok di dalam realitas,” tandasnya.

Bagaimana Melawan Radikalisasi?

Menurut Romo Benny, salah satu yang bisa dilakukan adalah membuat kurikulum pendidikan agama yang tepat.

“Kita harus melakukan dekonstruksi pendidikan beragama. Romo Mangun pernah menawarkan agar pendidikan agama tidak menyangkut sesuatu yang sifatnya ritual. Romo Mangun mentransformasi pendidikan agama itu menjadi komunikasi iman. Maka orang bisa berjumpa dan bertitiktemu pada nilai-nilai kemanusiaan yang sama. Orang bisa membangun persaudaraan dan berkorban demi kemanusiaan. Maka pelajaran agama yang tidak doktrinal dan yang dibatinkan dalam nilai perilaku dan titik temu yang sama, menurut saya, salah satu yang bisa meng-counter radikalisme agama-agama,” jelas Romo Benny.

Cara kedua melawan radikalisme agama, menurutnya, adalah dengan membumikan Pancasila. Yaitu dengan menjadikan Pancasila sebagai identitas bangsa. Bagaimana Pancasila menjadi gugus insting yang mempengaruhi cara berpikir, bernalar, dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Sementara, menurut Mu’ti, pemerintah harus punya peran yang signifikan karena mempunyai sumberdaya yang diperlukan. Tapi dalam melakukan perlawanan terhadap radikalisme agama, pemerintah harus tepat dalam menggunakan istilah. Istilah deradikalisasi yang digunakan oleh pemerintah, dalam hal ini Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), menurut Mu’ti, tidaklah tepat.

Menurutnya, istilah deradikalisasi sudah bermasalah sejak istilah itu diciptakan. Di satu sisi, istilah ini dalam diskursus gerakan sosial sangat bervariasi: ada radikal, fundamentalis, militan, dan sejenisnya. Di sisi lain, ketika program ini oleh pemerintah dimasukkan sebagai upaya untuk mengubah mereka dari sisi paham agama, maka orang yang mau datangpun sudah malu duluan. Ketika guru-guru agama harus ikut training deradikalisasi mereka sudah punya beban psikologis bahwa mereka diundang karena radikal, sehingga mereka tidak ada antusiasme untuk datang.

“Karena itu, kami di Muhammadiyah menggunakan istilah moderasi agama. Itu yang tepat. Karena istilah itu tidak membawa labeling pada orang tertentu, tapi juga semakin menegaskan konsep tengah yang menjadi prinsip dalam kita beragama,” ulas Mu’ti.

Mu’ti melanjutkan, perlawanan terhadap radikalisasi agama juga harus dilakukan oleh masyarakat. Orang-orang moderat harus berani bersuara untuk meng-counter kesalahan pemahaman dalam menafsirkan teks-teks agama.

“Saatnya kelompok mayoritas yang moderat ini harus bicara. Karena sebenarnya media massa kita lebih pro kepada kelompok moderat daripada ke kelompok ekstrem. Nah kemampuan mengisi media-media ini yang harus diperkuat,” ungkap Mu’ti.

Mu’ti juga mengingatkan, kelompok moderat harus memperbanyak situs-situs untuk meng-counter situs-situs radikal yang ada di media online, karena mereka telah berhasil memanfaatkan itu dan perkembangannya semakin massif.[]

Warsa Tarsono

Komentar