Home » Khazanah » Dunia Islam » Hoax, Iran Buka Kantor Kedutaan di Tel Aviv
Foto: republika.co.id

Hoax, Iran Buka Kantor Kedutaan di Tel Aviv

Baru-baru ini tersebar berita yang menyebutkan bahwa Iran telah membuka kedutaan besarnya di Tel Aviv, Israel. Masalahnya, berita itu adalah hoax. Lebih tepatnya, lelucon sekaligus harapan.

Sebelum berita itu dimanfaatkan kader kelompok Islam tertentu untuk menyebarkan fitnah dan kebencian, mari kita perjelas dulu duduk perkaranya.

Ceritanya begini, ada sebuah billboard yang mengundang perhatian warga yang terpasang di depan salah satu bangunan bertingkat di Kota Tel Aviv. Billboard itu isinya menyatakan bahwa kedutaan Iran akan dibuka di situ.

“Segera dibuka di sini Kedutaan Iran untuk Israel,” tertulis di billboard itu dengan aksara Ibrani dan dilengkapi dengan gambar bendera Iran dan Israel.

Billboard yang mengusik rasa ingin tahu warga Tel Aviv itu difoto lalu disebarkan di media sosial. Yang pertama kali mengunggahnya adalah sekelompok orang yang tergabung dalam  thepeacefactory.org.

thepeacefactory.org adalah sebuah proyek yang diniatkan untuk mengembalikan perdamaian di Timur Tengah, melalui fan page  Facebook mereka, ‘Israel Loves Iran’, yang dirilis pada 23 Agustus lalu. Dalam foto itu tertulis, ‘Tel Aviv today. No Photoshop’ plus dengan  emoticon  senyuman.

Rupanya foto tentang billboard itu mendapat sambutan positif dari netizen, khususnya mereka yang menghendaki perdamaian di antara dua negara itu. “Great project , hopefully become true one day,” tulis salah satu pemilik akun Facebook mengomentarinya.

Sampai Jumat sore (28/8), foto itu sudah disukai 2288 pemilik akun Facebook dan dibagikan sebanyak 1041 kali.

Dalam berita yang dimuat Jarusalem Post, sejumlah situs di Israel menduga bahwa billboard itu dibuat satu komunitas seni di sana, yaitu Hamabul. Dugaan itu disandarkan pada posting  foto di fan page Facebook Hamabul yang mendorong agar dibuka kantor Kedutaan Iran di Jarusalem.

Dalam foto yang di-posting pada 13 Agustus itu, Hamabul juga menghimbau seluruh seniman Israel, mulai dari fotografer, video maker, pelukis, pelaku seni instalasi dan pertunjukkan untuk menggali serta mengekspresikan karya seni mereka tentang Iran, mulai dari sisi masyarakatnya, budayanya, sejarahnya, wilayah geografisnya, dan lainnya.

“Keinginan kami adalah untuk menciptakan duta suara kebudayaan tanpa batas atau agenda tersembunyi yang mengukuhkan hubungan antara rakyat Iran dan Persia dan orang-orang Israel dan Barat,” tulis Hamabul dalam foto itu, seperti dikutip reporter Jarusalem Post Rosie Perper (25/8).

Meski Hamabul mengklaim bertanggung jawab atas penyelenggaran pameran seni ‘Kedutaan Besar Iran di Israel’, namun siapa penggagas billboard itu masih belum diketahui.

“Kami tidak bertanggungjawab untuk ini (billboard], tapi kami sangat senang dengan itu,” tulis Hamabul menanggapi foto billboard itu di halaman Facebook mereka.

Belakangan, misteri siapa yang memasang billboard itu mulai terkuak. Diketahui bahwa billboard itu adalah bagian dari promo film yang berjudul ‘Atomic Falafel’ atau ‘Atomic Comedy (2015) yang disutradai Dror Shaul, seperti yang diberitakan situs berita dan analisa seputar Timur Tengah, middleeasteye.net (28/8).

Film yang akan dirilis pada 10 September nanti itu bercerita tentang dua gadis, Iran dan Israel, yang tinggal di kota pusat pengembangan nuklir. Mereka membocorkan rahasia negara di media sosial untuk mencegah perang terbuka karena konflik nuklir itu.

“Sebuah komedi satire yang mengejek ultra-militerisme,” kata Avraham Pirchi tentang film yang ia produseri itu.

Warga Israel dan Iran rupanyaa sudah lelah dengan ketegangan dua negara itu setelah lebih dari tiga dekade hubungan keduanya selalu memanas.

Warga dari kedua negara, khususnya kelompok muda dan kalangan terdidik, berharap hubungan kedua negara itu menuju ke arah yang lebih baik dan mendukung apapun yang dilakukan untuk mewujudkan harapan itu. Besarnya harapan mereka itu tergambar dari komentar warga dari kedua negara tentang foto billboard itu.

“Tidak seperti kebencian pemerintah Iran terhadap Israel, rakyat Iran memiliki simpati yang besar terhadap Israel. Saya sebagai orang Iran, akan senang melihat dua negara besar, dari sisi budaya dan sejarah, menjadi teman seperti dulu. Semoga begitu,” tulis Rashin Mahdavi, seorang mahasiswa yang tinggal di Iran.

Seperti diketahui, titik nadir hubungan diplomatik Israel dan Iran dimulai sejak 1979. Revolusi Islam yang dipimpin ulama karismatik Ayatullah Khomeini berhasil menggulingkan rezim Shah Iran yang dinilai pro-Barat.

Pasca penggulinggan, pimpinan revolusi Islam Iran mengubah hampir semua kebijakan luar negeri Iran sebelumnya. Selain menjadi anti-Barat, wa bil khusus kepada AS, Iran baru juga tidak mengakui Israel sebagai sebuah negara merdeka dan berdaulat.

Israel yang tidak nyaman dengan sikap Iran itu meminta bantuan pada abang Sam, AS, yang merupakan sekutu Israel, yang juga bersitegang dengan Iran akibat penyanderaan pegawai kedutaan AS di Iran pada periode 1979-1981.

Sejak saat itu, AS dan Israel di satu sisi, dengan Iran di sisi lain adalah dua kekuatan yang tidak bisa berdamai sampai sekarang. Bahkan pada 2012, mantan Presiden AS George Bush menyebut negara para mullah itu adalah poros setan, selain Irak dan Korea Utara.

Kini, di bawah kepemimpinan Obama dan Rouhani, hubungan AS-Iran mulai mencair. Apalagi Badan Atom Internasional menyatakan bahwa pengayaan uranium Iran tidak terbukti untuk digunakan sebagai senjata pemusnah massal, sebagaimana yang dituduhkan selama ini.

Iran happy, Uni Eropa happy, dan AS happy. Sanksi ekonomi terhadap Teheran pun dicabut.

Hanya satu negara yang tidak happy. Bisa ditebak, yaitu Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan menganggap perjanjian itu tidak cukup kuat untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir yang bisa digunakan melawan Israel.

Fakta ketegangan antara Iran-Israel yang kemudian direspons kalangan sipil. Mereka membuat gerakan pro-perdamaian dan bersuara untuk mengakhiri konflik.

Konflik antara Iran dan Israel adalah fakta yang tak terbantahkan. Namun lucunya fakta ini dipelintir oleh para bigot dari kalangan umat Islam yang belakangan ini marak berkeliaran di dunia maya.

Mereka dengan serampangan menuduh bahwa Iran plus Syiahnya adalah sahabat Zionis-Yahudi yang ingin menghancurkan Islam dari dalam. Sungguh kesimpulan yang sangat ahistoris. []

Komentar