Home » Khazanah » Dunia Islam » Empati: Memahami Orang Lain

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 3, Tahun 1, Maret 2008)

Orang yang digugu dan ditirunya pun orang Islam. Keseluruhan paket itu akan membuat ia percaya sekali pada kebenaran Islam.

Ketika rencana Undang-undang (RUU) Pornografi diluncurkan di Indonesia tahun lalu, berlangsung kontroversi tak berkesudahan. Salah satu penyebab tidak tercapainya titik temu adalah karena masing-masing kubu tak menunjukkan empati kepada pihak lain.

Empati: Memahami Orang Lain

Kubu pendukung RUU menganggap keberatan pihak lain sebetulnya didasar­kan pada kepentingan ekonomi, dan keingin­an untuk mendorong kebebasan seks di Indonesia. Kubu yang menolak menuduh pihak pertama sebagai kelompok tradisional yang ingin melakukan Islamisasi Indonesia. Karena masing-masing ber­keras, tak adalah upaya kompromi.

Dalam kondisi semacam itu, para ahli komunikasi lintas budaya percaya bahwa empati adalah sesuatu yang sebenarnya disyaratkan. Empati pada dasarnya ada­lah “kemampuan seseorang untuk membayangkan dirinya berada pada posisi orang lain dan memandang dunia dari posisi orang lain itu”. Istilah yang diper­kenalkan dalam ilmu psikologi ini sekarang menjadi semakin populer mengingat semakin beragamnya konflik terjadi di dunia ini.

Dengan demikian, si pendukung RUU sebaiknya berusaha mengabaikan pra­sangka dulu, dan berusaha memahami secara sungguh-sungguh bagaimana kubu lawannya secara tulus memandang pornografi. Setelah memelajari dari sudut pandang itu, sangat mungkin ditemukan keberatan-keberatan yang masuk akal. Sangat mungkin bahwa yang sebenarnya dijadikan dasar keberatan bukanlah seluruh isi RUU, tapi hanya sebagian kecilnya saja yang dianggap mengganggu. Kalau itu dipahami, dialog yang lebih bermanfaat sangat mungkin tercipta.

Empati bukan saja dibutuhkan pada kasus-kasus besar. Dalam kehidupan sehari-hari pun, upaya mendengarkan dan memahami pihak lain bisa sangat berarti. Konflik antara orang tua dan remaja, atau antara rekan kerja, atau bahkan antara pasangan, seringkali ter­jadi karena masing-masing pihak tidak berusaha memandang dunia dari sudut pihak lain.

Kita sering menyatakan, “Kalau saya jadi dia, saya akan …..” Masalahnya, ketika itu dilakukan, kita cenderung tidak membayangkan diri menjadi orang lain itu, tapi membayangkan apa yang akan kita lakukan kalau menghadapi situasi yang sama. Contohnya, seorang ayah yang memarahi anaknya karena anaknya itu ingin bermalam mingguan, sementara si ayah menganggap ketika dia muda dulu selalu bekerja keras, adalah seorang ayah yang tidak memiliki empati.
 
Perbedaan Pengalaman
Kita harus ingat, pandangan kita tentang dunia selama ini sebenarnya didasarkan pada pengalaman dan penga­yaan hidup. Pandangan kita tentang apa yang baik dan buruk, benar dan salah, atau sekadar enak dan tidak enak tidak kita miliki sejak lahir. Cara pandang itu terbentuk melalui proses panjang.
Sederhana saja: mereka yang datang dari Sumatra Barat akan memandang rasa pedas sebegai lezat, sementara orang Amerika mungkin tidak merasakan kenikmatan sama begitu ia mencicipi makanan berlumur sambal yang disaji­kan di restoran Padang. Mengapa begitu? Salah satu jawaban utamanya: kebiasaan sejak kecil!

Begitu juga dengan nilai-nilai setiap manusia. Mereka yang sejak kecil sudah terbiasa melihat orangtua mereka ber­pakaian terbuka, akan menganggap pakai­an yang menampilkan pusar sebagai “tidak bermasalah”. Sebaliknya, seorang gadis yang diajarkan untuk selalu menjaga­ tubuhnya dengan berjilbab, akan panik ketika ada seorang tamu pria yang tiba-tiba saja tiba di pintu rumah, tatkala ia masih membiarkan rambutnya terurai tanpa penutup.

Intinya, tak ada yang bisa dengan sederhana dikatakan sebagai lebih benar dari yang lain. Nilai-nilai tersebut terbentuk melalui cara yang tidak sederhana. Dalam sebuah masyarakat yang homogen, yang diisi oleh orang-orang yang mengalami sosialisasi nilai yang kurang lebih sama, perbedaan itu tentu tak terlalu dianggap serius. Tapi, begitu kita hidup dalam sebuah masyarakat yang majemuk, upaya untuk memahami cara pandang orang lain dari sudut pandang orang itu sendiri –atau berempati– menjadi kebutuhan utama. 

Dalam kasus tadi, kedua gadis itu bisa saja berkawan karib karena adanya kesediaan untuk berempati di kedua pihak. Si gadis yang permisif tak akan menganggap temannya yang mengenakan jilbab sebagai ”tradisional” atau ”kuno”, sementara temannya itu juga tidak akan melecehkan gadis tersebut sebagai ”murahan”. Keduanya sama-sama menghormati pilih­an masing-masing.

Agama
Cara berpikir kita tentang apa yang logis dan tidak logis pun bukan sesuatu yang dengan sendirinya benar, karena bahkan logika pun sebenarnya dipenga­ruhi oleh apa yang kita pelajari. Misalnya saja soal agama. Banyak umat Islam yang tak habis mengerti bagaimana mungkin penganut agama Kristen yang sebenar­nya dalam kehidupan sehari-hari sangat rasional tapi ternyata percaya dengan gagasan trinitas, atau bahwa Yesus adalah anak Tuhan, atau soal penebusan dosa yang dilakukan Yesus. “Betapa tidak masuk akalnya kepercayaan itu,” seru sebagian penganut Islam.

Tapi sebenarnya, sebagian umat Kristen juga menganggap ada banyak kepercayaan umat Islam yang tidak bisa diterima oleh akal sehat. Misalnya saja, bahwa Nabi Muhammad menikahi Aisyah saat sang istri berusia 9 tahun, bahwa Nabi Muhammad memiliki budak, bahwa Nabi Muhammad pernah meme­rintahkan pengikutnya untuk membantai kaum Yahudi, bahwa umat Islam harus berdesak-desakkan di hadapan Ka’bah di musim haji, dan seterusnya.

Sekarang, kalau ditanyakan mengapa segenap hal tersebut sangat diyakini oleh umat Islam, jawabannya adalah karena umat Islam memang belajar untuk menerimanya sebagai sebuah kebenaran. Karena itu, bagi seorang penganut Islam yang taat, akan selalu ada jawaban yang logis untuk membantah segenap keragu­an tersebut.

Proses belajarnya sangat panjang. Sejak kecil ia sudah diajarkan oleh orangtuanya tentang kebenaran Islam. Dia mendengar kisah-kisah sejarah Islam. Di rumah, didatangkan guru mengaji. Di sekolah, ia diajarkan oleh guru yang ber­kisah tentang kebenaran Islam. Ketika beranjak besar dan dewasa, kendati ia sudah lebih memiliki kebebasan untuk belajar sendiri, tetap akan kecenderung­an untuk membaca buku-buku yang akan mengonfirmasi keyakinannya tersebut.  Apalagi kalau ia berada di lingkungan yang sangat Islami. Orang yang digugu dan ditirunya pun orang Islam. Keseluruhan paket itu akan membuat ia percaya sekali pada kebenaran Islam.

Begitu juga seorang pemeluk Kristen. Segenap proses itu juga dijalaninya. Sehingga ketika ia sudah dewasa, ia menjadi sangat percaya pada logika ajaran Kristen tersebut. Bila masing-masing umat bisa memandang umat lainnya dengan cara berempati, bisa dibayangkan bahwa tak perlu ada kesalahpahaman dan konflik terjadi.

Empati adalah sesuatu yang bisa dilakukan semua orang. Syaratnya sederhana: mau mendengarkan orang lain, mau memahami orang lain, mau me­nying­­­kirkan segenap prasangka tentang orang lain. Setiap orang menjalani hidup yang berbeda, dan karena itu sangat mung­kin memiliki cara pandang yang berbeda. Dengan berempati, perbedaan itu akan memperkaya, bukan mempe­rumit, hidup. * [AA]

Komentar