Home » Khazanah » Dunia Islam » Doa yang Sarat Kebencian tidak Dicontohkan Nabi Muhammad
Dalam video yang diunggah di YouTube, Penceramah yang disebut-sebut dekat dengan FPI ini mendoakan hal buruk pada Ahok.

Doa yang Sarat Kebencian tidak Dicontohkan Nabi Muhammad

Beberapa hari yang lalu ada cuplikan video di Youtube yang beredar cukup luas di sosial media. Dalam video itu tampak seseorang yang menampilkan dirinya sebagai pemuka Islam dengan mengenakan sorban putih pada kepalanya tengah berceramah di tengah jamaah.

Yang membuat miris adalah sosok yang belum diketahui identitasnya itu dalam ceramahnya mendoakan hal buruk terjadi pada Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Dia mendoakan agar Ahok terserang stroke dan mobilnya meledak.

“Ya Allah, semoga Ahok kena stroke. Ya Allah, semoga Ahok meledak dalam mobilnya. Tapi jangan mati, ya Allah. Karena kalau langsung mati nanti keenakan. Biarkan Ahok disiksa dulu,” panjat sosok yang disebut-sebut dekat dengan Front Pembela Islam (FPI) itu lantas disambut teriakan amin dari jamaah.

Dia juga menghasut apa yang dia sebut sebagai jawara untuk mendatangi rumah Ahok lalu membunuh Ahok. “Ahok keluar, tebas! Nggak ada urusan”.

Doa yang berisi keburukan juga pernah dipanjatkan Arifin Ilham pada Agustus 2015 pada acara Parade Tauhid. Di akhir acara, Arifin diminta untuk memimpin doa bersama.

Dalam doanya itu, Arifin tidak memohon kedamaian, keselamatan, rahmat bagi semua pihak. Tapi Arifin justru memohon agar mereka yang dia persepsi sebagai musuh Islam dihancurkan dan dibinasakan. (baca: Arifin Ilham, Ironi Ahli Zikir)

Menyimak dua doa yang sarat dengan kebencian di atas, saya teringat pernyataan Ma’ruf Amin ketika menanggapi doa yang dipanjatkan anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra Muhammad Syafi’i saat sidang paripurna tahunan dan Rancangan Undang-Undang RAPBN Tahun Anggaran 2017 medio Agustus lalu.

Ketua Umum MUI dan Rais Aam PBNU itu menilai doa tidak boleh berisi kritikan atau sindiran. Sebab esensi doa adalah memanjatkan keinginan dan harapan yang berisi hal-hal baik.

“Kalau kita memohon kepada Allah itu harus yang baik-baik saja. Semoga bangsa kita menjadi lebih baik lagi itu boleh saja, tapi jangan menjelekkan pihak tertentu dengan sindir kanan, sindir kiri,” jelas Ma’ruf kepada merdeka.com.

Sebagai orang yang dianggap memiliki pengetahuan Islam di atas rata-rata, mestinya penceramah yang disebut-sebut dekat dengan FPI itu dan Arifin Ilham tahu mengenai adab berdoa. Jika doa isinya menjelek-jelekkan saja tidak diperbolehkan, apalagi doa yang sarat dengan kebencian dan kutukan.

Jika ada waktu, bukalah kitab sirah nabawiyah (perjalanan hidup Nabi Muhammad) yang ditulis oleh berbagai ulama. Di sana akan ditemukan banyak contoh baik yang diperlihatkan Nabi Muhammad yang layak diteladani dalam urusan memperlakukan kelompok yang tidak mengikuti ajarannya.

Teladan dalam soal ini pernah diperlihatkan Nabi Muhammad, misalnya, kepada seorang sahabat bernama Thufayl. Saya yakin penceramah itu dan Arifin Ilham pasti tahu hikayat Thufayl. Tapi izinkan saya ingin menuturkannya di sini.

Alkisah, pada suatu waktu Thufayl mendatangi Nabi Muhammad di Mekkah. Ia dalam keadaan sangat marah dan kecewa. Dia lalu meminta Nabi Muhammad untuk melaknat kaumnya karena menolak ajakannya untuk memeluk Islam.

Thufayl berasal dari Bani Daws. Thufayl adalah seorang penyair dan sosok yang dihormati di kaumnya itu. Dalam struktur masyarakat Arab saat itu, seorang penyair punya kedudukan yang tinggi di tengah masyarakat.

Thufayl punya kebiasan sering mendatangi Ka’bah untuk beribadah. Namun belakangan Thufayl kerap diperingatkan oleh para penguasa tiran Quraish untuk tidak berbicara dengan Muhammad. Menurut penguasa tiran Quraish itu Nabi Muhammad adalah seorang penyihir.

Penguasa tiran Quraish punya kepentingan dengan memberikan peringatan siapapun yang ingin mendatangi Ka’bah. Mereka tidak mau ajaran Muhammad meluas dan diikuti kaum yang lain.

Thufayl termakan propaganda itu. Dia khawatir dirinya terperdaya dengan sihir Muhammad. Karena itu, setiap dia memasuki masjid dia menyumbat telinganya dengan bahan katun. Itu dia lakukan, sebab Nabi Muhammad sering berada di sekitar Ka’bah untuk salat dan melantunkan ayat-ayat al-Quran yang baru sebagian beliau terima.

Di saat memasuki masjid, Thufayl mendapati Nabi Muhammad tengah melantunkan ayat-ayat al-Quran di antara pojok Yamani dan Hajar Aswad menghadap ke arah Yerusalem di sudut tenggara Ka’bah. Meski sudah disumbat, tapi lantunan ayat-ayat al-Quran itu menembus telingannya.

“Allah ingin aku mendengar sesuatu yang dibacakan oleh orang tersebut. Aku mendengar kata-kata yang begitu Indah,” kata Thufayl seperti ditulis Martin Lings dalam bukunya Muhammad yang sudah diterjemahkan Penerbit Serambi.

Mendengar ayat-ayat al-Quran yang dilantunkan Nabi Muhammad itu menggugah kesadaran Thufayl. “Aku orang yang cerdas, seorang penyair, dan dapat membedakan antara yang benar dan yang salah. Lantas, mengapa aku tidak mendengarkan perkataan orang ini? jika perkataannya itu baik, aku akan menerimanya. Jika tidak aku akan menolaknya.”

Singkat cerita, Thufayl mulai tertarik dengan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad. Nabi Muhammad lalu menjelaskan tentang Islam dan membacakan al-Quran. Setelah itu Thufayl menyatakan keislamannya.

Thufayl kembali ke kaumnya yang menetap di pinggir sebelah barat Mekkah. Thufayl kembali ke kaumnya dengan membawa kebenaran yang baru dia dapatkan dari Nabi Muhammad.

Thufayl ingin kebenaran yang dia dapatkan dari Nabi Muhammad mau didengar kaumnya dan setelah itu diikuti. Thufayl mengajak kaumnya satu per satu untuk mengikuti kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad.

Tapi sayang, usaha Thufayl seolah sia-sia. Kaumnya menolak kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad. Hanya istri dan ayahnya saja yang bersedia memeluk Islam. Konteks inilah yang membuat Thufayl marah dan meminta Nabi Muhammad agar berdoa untuk melaknat kaumnya.

Nabi Muhammad tidak memenuhi permintaan Thufayl itu. Nabi Muhammad justru mendoakan kaumnya Thufayl agar mendapat petunjuk.

Nabi Muhammad juga berpesan kepada Thufayl. “Kembalilah engkau kepada kaummu, ajaklah mereka masuk Islam, dan berlaku baiklah kepada mereka”.

Dari hikayat ini jelas terlihat bahwa Nabi Muhammad tidak membalas sikap penolakan atas ajaran yang dibawanya dengan kebencian dan perasaan dendam. Sebaliknya, Nabi Muhammad membalas sikap penolakan itu dengan mendoakan kebaikan untuk mereka. Yang dikedepankan Nabi Muhammad adalah cinta, bukan murka.

Pesan Nabi Muhammad kepada Thufayl juga perlu dicermati. Nabi Muhammad seperti ingin mengingatkan Thufayl bahwa selaku pendakwah dia tidak boleh berputus asa lalu gelap mata mendoakan keburukan bagi yang menolak dakwahnya. Nabi Muhammad juga ingin Thufayl tetap berdakwah seraya melakukan intropeksi apa yang salah dengan dakwahnya selama ini yang tidak diterima dengan baik.

Sayangnya, mutiara berharga yang diteladankan Nabi Muhammad di atas tampaknya tidak lagi menjadi pegangan bagi sebagian pemuka Islam di Indonesia saat ini, seperti dua orang yang saya singgung namanya di atas. Mereka lebih senang mengedepankan murka ketimbang cinta dalam berdakwah.

Konon, pesan Nabi Muhammad itu dilakukan Thufayl dengan sungguh-sungguh. Dampaknya, perlahan tapi pasti semakin banyak keluarga dari Bani Daws yang masuk Islam. []

Komentar