Home » Khazanah » Dunia Islam » Catatan dari Jepang (1): Mie Ramen, atau Curry?
Mengalami Jepang barangkali bisa jadi alat bantu untuk memahami termasuk
Islam “jenis” apakah kita. Misalnya, dalam soal makan.
 

Catatan dari Jepang (1): Mie Ramen, atau Curry?

Di satu sisi, ini adalah “negeri maksiat”. Kebiasaan minum alkoholnya, sudah mendarah daging. Sikap pada seks begitu (terlalu?) terbuka. Komik, game, dan anime porno (biasa disebut hentai) sangat mudah ditemui, dan mudah sekali dikonsumsi. Belum industri film pornonya lho, ya. Negeri ini seperti tak peduli pada agama, dan pun agama mayoritas mereka (Shinto, Budha, Zen) hakikatnya kan agama tanpa Tuhan?
Jika seorang muslim memandang Jepang secara demikian, dan kemudian menjalani hidup di Jepang secara ekstrahati-hati, maka bolehlah kita menganggapnya sedang Berislam secara ketat, malah kadang tepat juga disebut “keras”.
Tapi, di sisi lain, angka kriminalitas di Jepang sungguhlah rendah. Sopan santun tinggi di semua sudut kota-kota dan pulau Jepang yang saya temui (belum semua tempat saya kunjungi, tentu). Perempuan bisa aman tertidur di taman sampai pagi, dan tak diapa-apakan. Barang-barang mahal seperti keyboard atau kamera besar bisa digeletakkan saja di tempat umum (taman, misalnya) dan lazimnya tak akan dicuri. Fasilitas umum sangat baik, ruang-ruang publik sangat nyaman.
Saya ingat ceramah Bang Imad (Imaduddin Abdurrahim, almarhum), yang mencontohkan hal-hal ini di negara maju non-Islam, dan tegas menyebutnya sebagai “Islami”. Nah, jika terhadap sikap begini, mudahlah lantas orang menyebut: itu berarti “Islam modernis”.
Tentu, di hadapan segala godaan konsumsi dan hedonisme di Jepang ini, banyak pula yang akhirnya merasa, ah, persetanlah, lalu menenggelamkan diri dalam gelombang godaan yang memang sering bikin kebelet itu. Tapi, ada yang lebih ekstrem: status di KTP muslim, tapi di Jepang tiba-tiba jadi bersemangat sekali menggoda sesama muslim untuk menikmati semua “maksiat” itu. Nah, ini terserah Anda menamainya apa.
Tapi, mengalami Jepang yang betul-betul liyan (the other) dari tradisi peradaban Semitik ini, saya mengalami pergulatan etis terus-menerus. Pergulatan yang timbul dalam lakon keseharian saya, seperti: makan.
***
Bagi komunitas Indonesia di Jepang, khususnya di kalangan pelajarnya, sungguh lazim jika ada seorang Indonesia baru datang ke Jepang, akan disodori daftar makanan haram.
Daftar itu bisa panjang sekali. Daftar makanan mengandung babi jelas bermanfaat. Tapi, kemudian, definisi “mengandung babi” bisa direntang sangat luas. Apakah minyaknya mengandung lemak babi? Apakah makanan tanpa babi itu dimasak di tempat yang sama dengan memasak babi? Apakah makanan-makanan bungkus seperti roti-roti daging di kombini mengandung daging babi atau unsur babi? Bagaimana dengan bumbunya?
Nah, itu baru babi. Jangan dikira daging sapi atau ayam juga aman. Jangan makan di Kentucky Fried Chicken, kata daftar itu. Sebab, ayam-ayamnya kan dipotong tanpa Bismillah? Maka, boleh jadi dengan demikian, 60-70% makanan di Jepang adalah “haram”.
Ya, sudah, makan sayuran dan seafood sajalah, ya? Sebentar. Perhatikan bumbunya. Orang Jepang senang memasak dengan unsur Sake. Itu kan sejenis khamr, dan makanya haram juga!
Total jenderal, bisa 90% makanan di Jepang harus dijauhi oleh daftar itu dong?
***
Saya berjumpa dengan Jafar di Kyoto. Namanya Arab, tapi tampangnya Cina. (Ini deskripsi, semoga bukan rasialisme). Ia sudah lama tinggal di Kyoto, delapan tahun. Mulanya sebagai mahasiswa, dan kini bekerja juga di Kyoto University.
Saya ceritakan padanya tentang seorang mahasiswa Indonesia yang punya sebuah tempat makan langganan di Jepang, yang lolos daftar panjang seleksi ketat haramnya makanan di Jepang. Suatu saat, ia perhatikan botol kecapnya, kok itu ada tulisan kecil, huruf kanji, yang terbaca “Sake”? Wah, sejak itu ia tak lagi makan di situ, dan daftar haramnya makin panjang. (Biasanya, daftar itu semakin lama memang semakin panjang.)
Jafar langsung menunjukkan sebuah kecap Jepang, dan menunjukkan pada saya yang buta huruf Jepang, tulisan kecil di daftar bahan baku kecap itu. “Nah, lihat, tulisannya memang ‘Sake’, tapi harus dibaca bersamaan dengan huruf kanji di sampingnya, maka artinya sama sekali bukan ‘sake’. Tulisannya mirip, tapi ini bukan sake.”
***
Kegigihan menghindari segerombolan besar “makanan haram” itu bisa punya dampak ekonomi juga.
Mau tak mau, sadar atau tak sadar, dalam soal makanan ini terbentuk semacam perilaku eksklusif atau mengucilkan diri dalam kelompok-kelompok tersebut. Maka, mereka mencoba membangun jaringan konsumsi sendiri. Singkatnya, mereka kemudian mencari-cari jalur mendapatkan makanan halal.
Seorang muslim Indonesia, atau sekeluarga, bisa memaksakan diri pergi jauh dari tempatnya tinggal untuk mendapatkan daging kambing atau sapi yang dianggap halal. Biasanya, pengusaha daging halal itu beretnik Timur Tengah. Harganya bisa jadi lebih mahal, karena kan itu barang langka. Janganlah pula hitung ongkos ke tempat penjualan daging halal itu.
Tapi, itu berarti ada pasar loyal untuk konsumsi barang-barang halal. Dan memang, gaya hidup halal tumbuh menjadi sebuah cabang masyarakat konsumsi baru, dan dengan demikian juga, tumbuh menjadi sebuah industri baru. Bahkan Majalah Time pun telah membahasnya secara khusus tahun lalu. Gaya hidup halal sebagai pola konsumsi di masyarakat muslim global tak sebatas makanan. Pada Mei 2009 saja, keseluruhan industri halal itu sudah senilai lebih dari $US 1 trilyun.
Artikel Time itu pun menampakkan ada kompleksitas seputar gejala global tersebut. Para pemain utama industri konsumer baru ini, tetap saja, adalah perusahaan-perusahaan raksasa dari Eropa. Yang menangguk keuntungan dari gaya hidup halal ini, adalah perusahaan-perusahaan non-muslim seperti Nestle, jaringan KFC (Kentucky Fried Chicken), atau Domino Pizza. Jaringan toko serbaada macam Carefour dari Prancis memberi layanan lebih ketat soal label haram di rangkaian toko mereka di negara-negara muslim.
Lebih dari itu, gaya hidup halal sebagai industri baru tersebut memosisikan kaum muslim dalam konteks pasar kapitalistik yang, hakikatnya, “duniawi”. Sederhananya, asumsi dasar dari industri halal adalah: kaum muslim adalah pembelanja.
Ya, mereka adalah pembelanja khusus, yakni melakukan seleksi berdasarkan syariat yang mereka percaya. Tapi, pada akhirnya, kekhususan dan perilaku selektif itu ditempatkan dalam sebuah ceruk pasar yang lantas diolah, dikelola, secara kapitalistik yang lazim. Segala kritik, baik teoritis maupun ideologis, terhadap kapitalisme, dengan mudah ditujukan pula pada industri halal ini.
Atau, perlukah kita membuat teori tentang “Kapitalisme Islami”?
***
Islami atau tidak, saya sendiri merasakan dan mengalami bahwa pola berbelanja bisa jadi masalah etis.
Sebetulnya, sederhana saja. Dalam imaji tentang Jepang yang popular, salah satu makanan khas Jepang adalah mie Ramen. Tak soal apakah imaji itu benar. Yang jelas, nyaris setiap turis yang datang ke Jepang, merasa perlu makan Ramen barang sekali. Masalahnya: mie Ramen haruslah pakai daging babi. Itu ramen yang asli. Supnya pun, babi.
Mosok kamu nggak bakal kepikiran, kepingin banget ngerasain mie Ramen, sekali saja seumur hidup, mumpung di sana?” Begitu goda seorang sahabat saya, di Jakarta dulu. Jangan salah, dia shalatnya rajin. Dia memang sedang menggoda saya saja. Dasar gembhlung.
Tapi, apalah Jepang kalau bukan godaan. Dan saya, termasuk orang yang sering mengapresiasi “godaan duniawi”. Lha, bagaimana, wong saya ke Jepang ini mau meneliti komik? Kurang duniawi apa, coba, saya ini?
Di Jepang sendiri, memang mie Ramen ada di mana-mana. Sepertinya, lebih banyak dari warung sushi, dan sebanyak warung mie Udon atau Soba. Kira-kira, sama seperti warung Tegal atau warung Indomie di Jakarta lah.
Pada mulanya, mudah bagi saya mengabaikan godaan itu. Bukan saya “shaleh”, apalagi “shalehah” (kalau shalehah mah, perempuan dong!). Tapi, saya sedang kewalahan meladeni godaan-godaan konsumsi komik, buku, musik, dan mainan. Sibuk!
Dan soal makanan, memang buat saya pilihan di Jepang ini luas kok. Nah, ketahuan kan, jenis Islam apa yang saya anut? Saya sudah sadar sejak lama, kok, memang saya tak berbakat untuk “keras-kerasan” dalam beragama. Lha, silakan salahkan hadis tentang “Kasih sayang Allah lebih luas dari murka-Nya” yang tercetak di hati saya sejak SMA. Mau diutak-atik-gathuk kayak apa pun, tekstualnya jelas: Allah Maha Pengampun, Maha Maklum, Maha Sayang.
Dalam keluasan pilihan kuliner di Jepang, saya menemukan fakta-fakta menarik. Walau masih dikenal dan mempertahankan diri sebagai “bangsa beras”, dalam praktik, orang-orang Jepang tak lagi sering makan beras. Makanan paling popular di Jepang, melebihi roti yang sudah jadi makanan sehari-hari, adalah: kari!
Ya, kari, atau curry dalam bahasa Inggris, makanan yang sebetulnya khas dari daerah India/Pakistan. Hari pertama saya di Jepang, teman saya, Rane Hafiedz (kini di NHK Broadcasting, program siaran radio Indonesia) mengajarkan banyak hal hidup keseharian, termasuk mencari makanan halal di belantara makanan haram. Dia berislam mirip saya (mungkin lebih “shaleh”), jadi agak santai juga soal makanan ini. Di hari pertama saya itu, dia mengajak saya makan siang di Shibuya.
Dan makan siang itu adalah sebuah warung kari. Pertama, saya diajari Rane  menggunakan vending machine untuk mendapatkan karcis makanan yang akan kami pesan. Salah satu jasa mesin semacam ini, yang ada di mana pun di Jepang ini, adalah membantu orang yang tak bisa sama sekali bahasa Jepang seperti saya untuk mendapatkan kebutuhan yang saya mau.
Begitulah. Saya makan siang dengan kari. Saya pilih makanan utamanya roti cheese nan. Rane pilih nasi. Roti nan itu, waduh, nyaris sebesar raket tenis. Tentu saya puas belaka. Kesan saya makan di Shibuya jadinya bagus: enak, banyak, dan secara psikologis pun tenang karena bisa merasa aman, itu makanan pasti halal dalam batasan saya. Bonus tambahan: bumbunya yang kaya rempah tentu dekat ke lidah Melayu saya.
Dan memang, dalam minggu-minggu kemudian, saya ke Kyoto, Hiroshima, dan ke berbagai sudut Tokyo, selalu mudah saya temui: kari. Termasuk ada roti kari di kombini. Dasar Jepang, mudah sekali mereka beradaptasi dan mengimpor “budaya asing”. Banyak kari itu dikreasikan secara sederhana, tapi jitu, menjadi makanan yang akhirnya “khas Jepang” juga.
Kalau sedang ada event, dan ibu-ibu Jepang cari tambahan dengan membuat makanan katering atau warung kagetan, maka makanan nasi+kari adalah yang paling mudah dan murah. Tinggal nasi diletakkan di piring dalam bentuk bulan separuh, lalu raup itu kuah kari untuk mengisi paruh lain piring bulat itu. Rasanya kadang jadi aneh, memang. Tapi ketenangan psikologis, akibat “ketenangan kantung” dan “ketenangan spiritual” dalam soal makanan ini kan penting, ya?
***
Sampai minggu lalu. Udara dingin musim gugur di Tokyo cukup menyayat, kadang. Di sebuah gang Shibuya yang sibuk, di tengah dingin yang mulai gawat itu, tiba-tiba saya terantuk pada sebuah pengumuman di sebuah tempat makan mie Ramen cukup besar di situ yang selama ini sering saya lewati, dan abaikan.
Mie Ramen kami tidak menggunakan babi untuk supnya. Jika Anda tak ingin makan babi, cukup bilang pada pelayan kami saat menyerahkan karcis makanan, “No Pork”.
Serentak, sekian banyak impulsi dalam sinaps-sinaps otak saya bergerak, bersicepat, mengelebatkan banyak pikiran.
Enak sekali makan yang hangat-hangat di tengah suhu dingin ini, dan kenapa tak mencoba Ramen ini? Bukankah bisa tanpa babi? Ah, tapi, kan tempat masaknya sama saja? Tapi, bukankah ini coba-coba yang kurang “berbahaya”? Toh, ada jaminan tak pakai babi? Tapi, kan menjaga diri lebih baik? Lho, tapi, kapan lagi makan Ramen di Jepang? Lagipula, mosok yang beginian lebih bermasalah daripada korupsi? Lho, lho, apa hubungannya dengan korupsi? Ya, bukankah kalau pun “kejeblos” Ramen, itu tak sebesar dosa melakukan korupsi kayak si Gayus itu? Iya, tapi kan konon membiarkan diri kejeblos hal kecil, nanti kejeblos juga hal besar, tahu-tahu nanti korupsi juga kayak si Gayus kalau ada kesempatan? Eh, ini kok melenceng… apa segitu salahnya, hanya mencicipi Ramen, di Jepang, yang dijamin tak pakai babi? Bukan begitu, tapi……
Lama saya tertegun di depan pengumuman warung Ramen itu. Udara 180 Celcius di Shibuya seperti semakin dingin saja. ***
Shibuya-Meguro,
Oktober 2010.

Komentar