Home » Khazanah » Dunia Islam » Berburu UFO, Berburu Kemungkinan

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 3, Tahun 1, Maret 2008)

Sekelompok orang aktif memburu UFO di Bandung, Surabaya, Jakarta. UFO sama dengan jin?

Bagaimana jika benar ada UFO, tanya Goenawan Mohamad di sela wawancara MADINA bulan lalu. Buyarlah semua pengetahuan kita saat ini, lanjut Goena­wan. Saat itu, kami sedang mengobrol tentang berbagai masalah sosial dan keagamaan.

Berburu UFO, Berburu Kemungkinan

Kita sudah akrab dengan kemungkin­an adanya makhluk luar angkasa. Sebagi­an orang malah lebih dari sekadar mene­ri­ma kemungkinan itu, mereka aktif memburunya. Jangan kira mereka hanya sekelompok lelaki/perempuan yang tak merawat tubuh, berkaca mata, kurang kerjaan, kurang bermasyarakat, dan stereotipe lain. Para pemburu UFO, termasuk di Indonesia, datang dari berbagai kalangan. Kebanyakan adalah kaum profesional. Maklum, berburu UFO adalah “hobi” yang makan biaya: untuk mengumpulkan literatur ilmiah atau semi-ilmiah, mendatangi lokasi penampakan, mendokumentasi penampakan.

Pelopor penelitian UFO di Indonesia adalah Marsekal Muda TNI (Purn.) J. Salatun. Ia pernah jadi ketua LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) dan salah satu tokoh peneliti UFO dunia. Pada 1976, Prof. Dr. J. Allen Hynek (alm.) datang ke Indonesia. Menteri Luar Negeri kita waktu itu, Adam Malik, meminta Salatun jadi counter part Mr. Hynek. Salatun, walau tetap menggunakan istilah UFO dalam dua bukunya tentang benda misterius ini, mengu­sul­kan istilah BETA (Benda Terbang Aneh) sebagai terjemahan UFO.

Istilah ini kemudian jadi nama sebuah organisasi penggemar dan penyelidik UFO, BETA-UFO (www.betaufo.org). Ini adalah salah satu organisasi UFO terbesar di Indonesia saat ini, didirikan pada 26 Oktober 1997. Organisasi ini didirikan oleh Nur Agustinus, yang sejak SMP sudah aktif mengamati UFO, dan pada 1979 mendirikan organisasi penyelidik UFO di Surabaya. Milis BETA-UFO punya lebih dari 750 anggota, aktif dan banyak dari mereka yang menampakkan kekayaan referensi sains populer. Sebuah diskusi tipikal, misalnya, spekulasi tentang asal-usul UFO sebagai berasal dari masa depan. Lalu, diskusi pun bergerak ke masalah teori perjalanan waktu. Pada saat yang sama, ada pembahasan per­siap­an “copy darat”, rencana berburu UFO, serta rencana pameran UFO di supermal Pakuwon Indah, Surabaya, 28 Februari-23 Februari 2008.

Penampakan Sejak Krakatau
Sebuah benda hitam, seperti piring, melayang di langit siang bolong di atas daerah Buah Batu, Bandung, pada 19 Januari 2008, pukul 12.45. Benda ini terekam dalam sebuah handy cam yang tak stabil. Terdengar suara si perekam, sedikit menggerutu dalam bahasa Sunda, atas sukarnya merekam benda hitam itu. Video amatir penampakan ini diunggah ke youtube oleh seorang pemburu UFO bernama Oggie, dan diterbitkan dalam halaman UFO-Hunters di betaufo.org. Dalam halaman itu, Oggie juga mengunggah video penampakan UFO di Ciburial, 12 Agustus 2007.

Video kedua lebih stabil, namun benda yang terekam di langit nun di sana tak lebih dari sebuah titik putih di sela awan yang kemudian disusul sebuah titik hitam. Suara-suara takjub terdengar, beberapa lelaki, semuanya berbahasa Sunda. Terasa ada yang karikatural di situ. Tapi, video itu memang menampakkan sesuatu di angkasa sana, sesuatu yang tak terjelaskan. Intinya justru itu: tak terjelas­kan. Namun, mengingat pengertian harfiah UFO adalah “benda terbang aneh”, maka bolehlah kedua titik itu disebut UFO. Perkara apakah itu pesawat angkasa dari planet lain, kita tunda dulu.

Kok UFO sempat-sempatnya menampakkan diri di atas Buah Batu dan Ciburial, Bandung? Ternyata, menurut catatan komunitas Beta-UFO, Indonesia cukup sering mendapat penampakan UFO. Ada 245 penampakan yang mereka catat hingga akhir Februari 2008, jika menghitung sejak penampakan saat Krakatau meletus hebat pada 1883 hingga kesaksian Irwan Khouw dari Mega Kuningan, Jakarta Selatan, pada 31 Januari 2008, yang menyatakan melihat sebuah titik di langit merah Jakarta yang berwarna oranye dan menghilang di balik awan.

Lokasi penampakan juga cukup beragam: Jakarta, Bekasi, Bandung, Yogyakarta, Jepara, Semarang, Desa Antan Kalimantan Barat, Dieng, Riau, ladang minyak lepas pantai Cimalaya, dan lain-lain. Tentu, banyaknya penampakan itu menerbitkan tanya tentang kesahihan gejala-gejala itu. Para pemburu UFO ini sendiri, seperti terlihat di situs Beta-UFO itu, tampak berupaya menyusun mekanisme penyaringan fakta yang ketat. Misalnya, mereka menyebut­kan berbagai gejala salah lihat, salah duga, bahkan tipuan.

Misalnya, disebut 14 kemungkinan gejala non-UFO yang lazim disangka UFO. Termasuk yang sering orang keliru menyangka melihat UFO adalah melihat meteor, balon udara, atau kunang-kunang mata sendiri! Catatan itu dilengkapi contoh-contoh kasusnya segala. Misalnya, kegemparan di Padang pada 28 Maret 2006, pukul 20.00. Penduduk menyaksi­kan bayangan-bayangan putih melesat ke awan. Setelah timbul banyak dugaan, termasuk bahwa itu adalah pesawat angkasa asing, baru pada 4 April 2006 misteri terjawab. Padang Ekspres mengung­kap bayangan-bayangan putih itu berasal dari tembakan lampu laser 4000 watt di puncak sebuah bukit di Sawahlunto.

Walau ada upaya penyaringan begitu, yang skeptis tetaplah banyak. Sebagian menyebut UFOlogi sebagai sains semu (pseudo-science). Edna DeVore, direktur pendidikan SETI (Search for Extra-Terrestrial Intelligence, sebuah usaha teroganisir untuk mendeteksi adanya kehidupan di angkasa luar), misalnya, menggolongkan UFOlogi sebagai sains semu. Mark Moldwin, ahli studi luar angkasa UCLA (University California Los Angeles), membedakan SETI dan UFOlogi.

Menurut Moldwin, SETI adalah bagian dari komunitas astronomi dan astrobiologi, dengan tujuan menyelidiki asal-usul kehidupan di alam semesta. Ketiadaan temuan makhluk angkasa oleh SETI tetap membawa keuntungan bagi perkembangan sains, lanjutnya. Sedang UFOlogi tak jadi bagian komunitas ilmiah apapun, dan hasilnya (bahwa alien telah mengunjungi bumi) tak membawa ke­untungan apapun bagi sains.

Fan Fan F. Darmawan, staf pemasar­an kelompok penerbit Mizan yang aktif di BETA-UFO dan mendirikan Grey Race Foundation, berpendapat lain. Hanya karena temuan atau teori UFO “belum nyata” menurut sains yang ada saat ini, bukan berarti UFO tak ada. Baginya, UFOlogi termasuk “sains masa depan”. “Ingat,” katanya, “kita tak boleh menutup mata akan kemungkinan sains di abad mendatang, yang akan sama sekali mengu­bah wajah peradaban manusia.” Dengan kata lain, UFOlogi berurusan dengan kemungkinan.

UFOlogi dan Agama
Masalahnya, banyak kemungkinan yang ditawarkan UFOlogi kontroversial. Misalnya, soal agama. Erich Von Daniken, dalam Chariots of God?, melemparkan teori bahwa asal-usul peradaban manusia –termasuk agama-agama, adalah astro­not ruang angkasa yang turun ke bumi dan membidani kelahiran peradaban-peradaban kuno kita. Walau Daniken kini relatif tak dikenal, kata Fan Fan, tapi teorinya “bocor” dalam berbagai produk budaya pop di sekeliling kita. Misalnya, dalam film-film seperti Stargate dan Alien vs. Predator.

Fan Fan tegas berpendapat, “Tidak ada yang berbenturan antara penelitian eksistensi UFO dan agama Islam, atau agama apapun yang eksis saat ini.” Bagi Fan Fan, sebagai muslim, ia harus menyandarkan apapun pada Al-Quran dan hadis. ”Tapi,” lanjutnya, ” perlu di­pahami bahwa Al-Quran tidak bisa kita bebani tanggung jawab, untuk menjawab semua hal teknis, seperti halnya kita membuka Ensiklopedi Britanica atau Wikipedia.” Menurutnya, ada ruang cukup luas dalam Islam untuk merenungi alam semesta dan berbagai kemungkin­annya.

Misalnya, ayat Al-Quran 42:29, memuat kata dabbah. Secara resmi, kata ini diterjemahkan ”binatang melata” atau ”makhluk hidup”. Bunyi ayat itu: ”Dan di antara ayat-ayatNya adalah menciptakan langit dan bumi. Dan dabbah yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki.” Al-Quran menyebut langit dengan kata jamak, samaawat. Apakah ini berarti isyarat tentang lapis-lapis langit­? Ataukah berarti planet-planet atau galaksi-galaksi? Pernyataan bahwa Allah menciptakan dabbah yang Dia sebarkan di langit-langit, apakah itu isyarat akan adanya makhluk asing di angkasa luar sana?

Kemungkinan tafsir ini pernah dikenal­kan oleh Dedy Suardi, dalam Tafakur di Galaksi Luhur (1989). Tentu saja ini menyempal dari arus utama tafsir yang memahami ayat itu sebagai pernya­taan tentang adanya malaikat dan jin di langit surgawi. Tapi, seperti kata Fan Fan, spekulasi mutakhir tentang makhluk angkasa luar juga mencakup kemungkin­an bahwa mereka adalah ”entitas spiri­tual”. Jika itu disebut jin, kata Fan Fan, maka mungkinkah definisi ”jin” juga mencakup makhluk asing yang memunyai teknologi penerbangan lintas planet?

Kalau alien adalah juga jin, maka mereka (menurut Islam) terkena juga dong, kewajiban ibadah? Nah, jangan-janga­n (kalau benar) mereka sering datang, karena diam-diam mereka akan naik haji ke Mekkah, lalu sekalian pelesir ke Texas atau Dago, Bandung.*

Komentar