Home » Khazanah » Dunia Islam » 5 Walikota Muslim di Barat

5 Walikota Muslim di Barat

Pekan lalu nama Sadiq Khan menjadi pusat perbincangan dunia. Politisi Muslim dari Partai Buruh yang berhaluan kiri itu definitif ditetapkan menjadi Walikota London (6/5) setelah melewati masa kompetisi politik yang diwarnai kampanye hitam bernada SARA.

Kabar kemenangan Khan itu bukan kabar biasa. Kabar itu mengandung beragam inspirasi. Yang terutama adalah, di negara yang demokratis status minoritas ganda (‘non-pribumi’ dan bukan penganut agama mayoritas) yang melekat pada diri seseorang bukanlah halangan terbesar baginya untuk meraih kesuksesan di berbagai bidang seperti yang dinikmati kelompok mayoritas.

Meski seorang Muslim, Khan menegaskan tidak akan mengistimewakan komunitas Muslim di London. Sebagai walikota, Khan berjanji akan melayani seluruh warga Londoners. “Saya ingin setiap warga London mendapatkan kesempatan yang diberikan kota ini kepada saya dan keluarga saya. Kesempatan tidak hanya untuk bertahan hidup, tapi untuk berkembang,” kata Khan dalam pidatonya usai pengambilan sumpah jabatan di Katedral Southwark, London (7/5).

Bila ditelusuri, Khan sesungguhnya bukanlah walikota Muslim satu-satunya di Barat. Di Inggris sendiri tercatat ada sejumlah walikota Muslim, seperti Jilani Chowdhury dan Muhammad Abdullah Salique. Di negara Eropa lainnya (Belanda) ada nama Ahmed Aboutaleb. Di Amerika Serikat (AS) ada nama Mohammed Hameeduddin. Dan di Kanada ada nama Naheed Kurban Nenshi.

Berikut adalah profil singkat 5 orang Muslim yang didaulat menjadi walikota di Barat.

  1. Mohammed Hameeduddin

Di Negara Paman Sam, kita menemukan nama Mohammed Hameeduddin yang ditunjuk menjadi Walikota Teaneck, Bergen County, New Jersey, AS. Hameeduddin bahkan tercatat satu-satunya walikota Muslim di Bergen County.

Sejak dulu Teaneck dikenal sebagai kota yang beragam dari sisi etnis, ras, dan agama. Di Teaneck tercatat ada sekitar 20 sinagog, satu masjid besar, dan lebih dari 30 restoran halal. Sejak 1960 keragaman itu sudah diajarkan di sekolah. Harian The New York Times bahkan pernah menjuluki Teaneck sebagai ‘Yerusalem di Barat’.

Selama menjadi orang nomor satu di Teaneck (2010-2014), Hameeduddin didampingi Adam Gussen sebagai wakilnya. Gussen adalah seorang Yahudi Ortodoks. Bagi Hameeduddin, Gussen bukanlah sosok asing, begitu juga sebaliknya. Keduanya sudah menjalin hubungan yang cukup erat ketika keduanya masih belajar di sekolah menengah yang sama dan kampus yang sama.

Hameeduddin adalah anak imigran dari Hyderabad, India. Ayahnya termasuk salah satu tokoh yang membangun Masjid Darul Islah di Teaneck. Hameeduddin mulanya seorang apolitis. Usai lulus kuliah, ia lebih memilih karier sebagai pengusaha di bidang asuransi.

Pria kelahiran 1973 itu mulai tertarik terhadap isu-isu publik setelah AS diserang aksi terorisme pada 11 September 2001. Saat itu muncul kesalahan persepsi terhadap komunitas Muslim AS. Komunitas Muslim AS dipertanyakan nasionalismenya dan dituding terlebih dalam aksi terorisme itu. Hameeduddin merasa terpanggil untuk meluruskan kesalahan persepsi terhadap komunitas Muslim AS. Rasa keterpanggilan Hameeduddin itu didukung penuh Gussen

Dua faktor itulah yang membuat Hameeduddin mantap terjun di dunia politik. Mula-mula Hameeduddin terlibat di dewan perencanaan kota (2006-2008). Belakangan dia terpilih menjadi anggota dewan kota.

Bagi Gussen terpilihnya Hameeduddin dan dirinya sebagai Walikota dan Wakil Walikota Teaneck membuat keduanya memiliki fokus yang berbeda dengan mantan walikota dan wakil walikota dalam memperbaiki apa yang berjalan salah sebelumnya. “Let’s not miss the opportunity to focus on an act of unity and an act of different people really coming together,” kata Gussen menghimbau.

  1. Jilani Chowdhury

Jilani Chowdhury menghabiskan separuh usianya di tanah kelahirannya di Distrik Moulvibazar, Bangladesh. Sejak belia darah aktivisme sudah mengalir dalam diri pria yang lahir pada 18 September 1964 itu.

Selama masa kuliahnya, Chowdhury sudah terlibat dalam gerakan perlawanan terhadap rezim militer dan penguatan demokrasi di Bangladesh. Lulus kuliah, Chowdhury bergabung dengan LSM yang mendukung hak-hak para pekerja dan kesetaraan kesempatan. Pada 1992, Chowdhury dan istri pertamanya memutuskan untuk hijrah ke London, Inggris, untuk mencari penghidupan yang lebih layak.

Chowdhury mulai meniti karier sebagai politisi di Inggris ketika ia membantu anggota parlemen Jeremy Corbin dari Partai Buruh sebagai penerjemah. Setelah itu, ia resmi bergabung dengan Partai Buruh.

Dalam pemilihan Anggota Dewan Wilayah Islington pada 2006, Chowdhury terpilih menjadi anggota dewan dari Partai Buruh dengan Barnsbury sebagai daerah pemilihannya. Sejak 2011, ia ditugaskan sebagai Wakil Walikota Islington. Islington adalah bagian dari wilayah administratif London Raya.

Chowdhury mencapai puncak kariernya sebagai politisi di Islington pada Mei 2012. Setelah 20 tahun hijrah ke Inggris, ia terpilih sebagai Walikota Islington dan merupakan Walikota Islington pertama berdarah Bangladesh.

Saat pelantikannya sebagai Walikota Islington, ayah tiga anak itu mengajak berbagai komunitas etnis di Islington untuk terlibat dalam politik. Sebab, menurutnya, itu satu-satunya cara untuk menghadirkan perubahan.

  1. Ahmed Aboutaleb

Ahmed Aboutaleb adalah wallikota yang Muslim di Barat yang paling dikenal. Aboutaleb memulai karier politiknya di Amsterdam, Belanda. Pada 2004 ia menjadi anggota dewan kota (alderman) Amsterdam dari Partai Buruh. Kebijakan terobosan pria kelahiran 29 Agustus 1961 itu terkait pendidikan diterima baik orangtua murid dan membuatnya menjadi politisi yang popular di Amsterdam.

Pada Oktober 2008 Aboutaleb ditunjuk sebagai Walikota Rotterdam, kota terbesar kedua di Belanda setelah Amsterdam. Bagi Aboutaleb Rotterdam adalah “really nice city, with a special population and a great history.” Sekedar catatan, hampir setengah populasi warga Rotterdam adalah ‘non-pribumi’. Sedangkan jumlah Muslim di Rotterdam sekitar 80 ribu jiwa (13 persen).

Aboutaleb dilahirkan dan dibesarkan di Beni Sedi, Maroko. Mantan reporter salah satu televisi publik Belanda itu adalah anak tokoh Muslim di Maroko. Selama di Maroko Aboutaleb belia merasakan betul bagaimana sulitnya menjalani hidup.

“Saya menghabiskan 15 tahun pertama kehidupan saya di Maroko dengan makan sekali dalam sehari dan berjalan tanpa sepatu,” ungkapnya dalam satu kesempatan wawancara dengan CNN saat diundang dalam forum konferensi melawan kebengisan ekstrimisme bersama 6 walikota lainnya dari Eropa dan AS di Washington pada Februari 2015.

Meski begitu, Aboutaleb tidak bisa menerima bila kemiskinan dijadikan alasan untuk melakukan aksi terorisme. Baginya, kemiskinan yang dialami seseorang harus mendorongnya pada pencarian pengetahuan dan pencapaian kelas sosial yang lebih baik.

Perjalanan politik Aboutaleb di Amsterdam dan Rotterdam bukan tanpa aral. Partai Leefbar Rotterdam dan Party for Freedom yang dikenal konservatif dan anti imigran kerap mengkritik Aboutaleb dan meragukan loyalitas Aboutaleb yang diketahui memiliki kewarganegaraan ganda, yaitu Belanda dan Maroko.

Geert Wilders, misalnya, secara terbuka menyatakan bahwa penunjukkan orang Maroko menjadi Walikota Rotterdam adalah hal konyol. Itu, menurutnya, sama seperti menunjuk orang Belanda menjadi Walikota Mekah.

“Ia harusnya menjadi walikota Rabat di Maroko. Dengan menunjukk dia sebagai walikota, Rotterdam akan menjadi Rabat di tepi sungai Maas. Dalam waktu dekat kita mungkin akan memiliki imam yang melayani layaknya uskup. Ini adalah kegilaan,” kata Geert ketus.

  1. Muhammad Abdullah Salique

Nama walikota Muslim lain adalah Muhammad Abdullah Salique atau juga dikenal dengan Mohammed Abdus Salique. Salique ditunjuk menjadi Walikota Tower Hamlets, London Raya, pada 2008-2009. Ia adalah Walikota Tower Hamlets kelima yang berdarah Bangladesh.

Salique dilahirkan di Sylhet, Bengal Timur (kini Bangladesh). Salique hijrah ke Tower Hamlets saat ia masih kanak-kanak. Salique muda adalah sosok yang berprestasi dan aktif sebagai pekerja sosial dan penggiat komunitas. Ia juga mengajar anak-anak muda di Tower Hamlets College.

Sebelum menjadi walikota, ayah lima anak itu pernah menjabat sebagai Dewan Kota Bethnal Green North pada Mei 2006. Sama seperti Sadiq Khan dan Jilani Chowdhury, pria kelahiran 1951 itu juga berasal dari Partai Buruh.

  1. Naheed Kurban Nenshi

 Di Kanada tercatat ada nama walikota Muslim. Ia adalah Naheed Kurban Nenshi. Walikota ke-36 Caglary, Alberta, itu terpilih melalui pilkada pada 2010. Nenshi terpilih lagi untuk term keduanya dengan memperoleh dukungan suara sebesar 74 persen pada 2013.

Walikota Muslim pertama di Kanada itu dilahirkan di Toronto dan dibesarkan di Caglary. Orangtua Nenshi adalah imigran Tanzania, Afrika Timur, yang berdarah India. Pemilik akun Twitter @Nenshi nan aktif itu adalah seorang Muslim Syiah Ismailliyah.

Pada mulanya, ayah dua anak itu adalah seorang profesional. Ia bekerja sebagai konsultan di firma konsultan manajemen McKinsey and Company selama beberapa tahun. Belakangan dia membangun firma konsultan sendiri yang memberi konsultasi untuk organisasi non-profit, organisasi sektor publik, dan swasta. Firmanya juga memberikan konsultasi kepada PBB dalam soal bagaimana mendorong perusahaan-perusahaan kaya terlibat dalam Corporate social responsibility (CSR).

Keterlibatannya dalam isu-isu sosial dan isu-isu perkotaan mendorong Nenshi menapaki dunia politik. Pada 2004 Nenshi mencalonkan diri menjadi anggota Dewan Kota Caglary tapi ia gagal terpilih. Kegagalan itu tak membuatnya patah arang. Enam tahun kemudian ia kembali mencalonkan diri dalam kompetisi politik, tapi kali ini untuk merebut kursi Walikota Caglary. Ia berhadapan dengan dua kandidat lainnya.

Beberapa bulan menjelang hari pemilihan, Nenshi menjadi korban fitnah bernada SARA dan aksi vandalistik. Saat peringatan peristiwa pengeboman World Trade Center pada 11 September 2010, kantor sekretariat pemenangan Nenshi dirusak. Nenshi juga kerap menerima ancaman melalui surat elektronik. Akhirnya, kampanye yang dipersiapkan secara matang yang mengantar Nenshi keluar sebagai pemenang.

Visi Nenshi soal bagaimana satu kota merencanakan masa depannya menarik perhatian para pemikir perkotaan dari seluruh Amerika Utara. Sejak di term awal kepemimpinannya, peraih gelar master public policy dari John F Kennedy School of Goverment, Harvard University, itu sudah menjadi walikota yang paling dikagumi di antara walikota di kota-kota besar lain di Kanada. Nenshi juga dijadikan panutan di Amerika Utara dan Eropa dalam soal manajemen yang desisif, terbuka, dan perencanaan masa depan.

Karena kualitas-kualitas itu, Nenshi diganjar World Mayor Prize pada 2014. Ia walikota satu-satunya dari Kanada yang mendapat penghargaan bergensi itu. Pada tahun itu juga, Walikota Surabaya Tri Rismaharini dinobatkan sebagai walikota terbaik ketiga oleh lembaga yang sama.

Selain penghargaan di atas, Nenshi juga menerima berbagai penghargaan bergengsi yang lain selama menjabat walikota. Pada 2011, misalnya, ia meraih  Young Leader Award dari World Economic Forum untuk gagasan inovatifnya tentang penataan kota. Ia juga memenangkan President’s Award dari Canadian Institute of Planners pada 2012 untuk implementasi gagasan tentang transparasi. Nenshi bahkan didaulat sebagai orang terpenting kedua di Kanada setelah Perdana Menteri Stephen Harper dari 50 daftar tokoh terpenting di Kanada versi Majalah Maclean’s pada 2013. []

Komentar