Home » Review » Film (page 2)

Film

Ketika Sholeha Mencari Rahasia Illahi

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 1, Tahun 1, Januari 2008)

Teorinya begini: Ada upaya sistematis untuk menggerus keimanan kaum muslim di Indonesia dengan menghadirkan banjir tontonan tidak bermoral melalui siaran televisi. Argumen semacam ini kerap diajukan dalam diskusi-diskusi yang membicarakan realita tayangan pertelevisian dalam sebuah masyarakat muslim di Indonesia.

Layar Ayat

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 1, Tahun 1, Januari 2008) 
 
Masih banyak kesulitan berdakwah lewat film. Masih ada pertanyaan
tersisa.

Dalam konferensi pers film Ayat-ayat Cinta, 4 Agustus 2007, Hanung Bramantyo sang sutradara sedikit bergetar suaranya saat menceritakan mengapa ia membuat film ini. Membuat film religius, kata Hanung, adalah cita-cita saya sejak lama. Ia pernah diminta oleh ibunya, kalau sudah bisa bikin film nanti agar membuat film agama (Islam). "Baru sekarang," ungkap Hanung, "saya bisa memenuhi permintaa­n itu."

Menantikan Dakwah yang Menyihir

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 1, Tahun 1, Januari 2008)
 
Sinetron bikin heboh, dikaitkan pemurtadan dan sihir. Antiklimaks yang menyisa­kan pertanyaan. 

Sinetron Sebuah Penantian mungkin program televisi yang paling membuat repot RCTI. Akibat film itu, stasiun televisi tertua di Indonesia itu terpaksa harus menjelaskan kanan-kiri soal tuduhan 'Kristenisasi' dan 'pemurtadan' yang dialamatkan pada mereka.