Home » Khazanah » Sejarah

Sejarah

Pembantaian Deir Yassin: 60 Tahun Nestapa Palestina

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 4, Tahun 1, April 2008)

Bulan ini enampuluh tahun lalu, persisnya tanggal 9 April 1948, pasukan Irgun (kelompok militan Zionis yang ber­ope­rasi di Palestina antara 1931 dan 1948), dipimpin Menachem Begin yang belakangan menjadi Perdana Menteri Israel, dibantu pasukan Lehi (Tentara Pembebasan Israel), menyerang Deir Yassin, sebuah desa yang dihuni sekitar 750 keluarga Arab Palestina. Serangan itu berlangsung brutal dan mengerikan, dengan­ anak-anak, perempuan dan laki-laki lanjut usia turut menjadi korban.

Mengenang Horor Deir Yassin

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 4, Tahun 1, April 2008)

Edward W. Said adalah salah se­orang pembela hak-hak bangsa Palestina paling lantang dan meyakinkan di dunia hingga ia wafat pada 25 September 2003 lalu di AS. Lahir pada 1 November 1935 sebagai Kristen Arab di Palestina, Said termasuk generasi terdidik Palestina yang terusir dari tanahair­nya. Dikenal luas khususnya berkat Orientalism (1979), Said menulis beberapa buku tentang Palestina, seperti The Question of Palestine (1979) dan After The Last Sky: Palestinian Lives (1986). Sampai wafat, ia gurubesar pada Universitas Columbia, AS. Di bawah ini refleksinya tentang peristiwa Deir Yassin, yang terjadi ketika ia berusia sekitar 12 tahun. Tulisan ini pertamakali terbit di Al-Ahram Weekly, edisi 17-23 April 1997.

Manuskrip Kuno itu…

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 3, Tahun 1, Maret 2008)

Manuskrip tebal beraksara Jawa itu tergeletak di meja Institut Malaiologie, Universitas Cologne, tempat saya melakukan riset sejak 2006 lalu, atas beasiswa Yayasan Alexander von Humboldt, Jerman. Saya sendiri tidak bisa mengidentifikasi teksnya, setebal 832 halaman. Yang pasti, manuskrip dengan kertas Eropa sebagai alas naskahnya ini tentu sudah berumur ratusan tahun. Lembaran-lembaran kertasnya pun terkelupas di mana-mana.

100 TAHUN Sutan Takdir Alisjahbana: Budayawan dengan Palu

 (Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 3, Tahun 1, Maret 2008)

Sutan Takdir Alisjahbana punya sumbangan tak langsung dan langsung pada pemikiran Islam di Indonesia. Seumur hidup tak mau diam, menggugat, mencari ‘yang jelas’.

Pada siang seusai hujan itu, di Desa Tugu, Cisarua, Dian Sastro membacakan puisi Sutan Takdir Alisjahbana (STA) berjudul Aku dan Tuhanku. Rumput basah dan langit mendung, dan suara muda Dian membacakan pernyataan-pernyataan filosofis STA.

Tiap Hari Asyura, Tiap Tempat Karbala

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 2, Tahun I, februari 2008 di Rubrik Sejarah)

Tiap Asyura, kaum Syiah meratapi kesyahidan Imam Husain. Pusatnya di Karbala. Membuatnya selalu relevan.

Masjid dan Identitas Betawi

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 2, tahun 1, Februari 2008)

ke langgar pegi sholat
kelar ngaji rehal di lipat,
turun ke pekarangan
belajar maen pukulan