Home » Khazanah (page 8)

Khazanah

Tiap Hari Asyura, Tiap Tempat Karbala

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 2, Tahun I, februari 2008 di Rubrik Sejarah)

Tiap Asyura, kaum Syiah meratapi kesyahidan Imam Husain. Pusatnya di Karbala. Membuatnya selalu relevan.

Dengan Qur’an Menyelamatkan Terumbu Karang

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 1, Tahun 1, Januari 2008) 

Kepulauan Zanzibar di lepas pantai Tanzania semestinya adalah surga di dunia. Di masa lalu ini merupa­kan pusat pertemuan niaga Timur-Barat. Kini berisi reruntuhan warisan Islam kuno, rumah-rumah Arab yang indah dengan hamparan pasir pantai putih dihuni pohon-pohon palem menuding langit. Lautnya hangat dengan airnya yang kebiruan, berisi taman terumbu karang di dalamnya.
 

Kisah Masjid di Atas Bukit

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 1, Tahun 1, Januari 2008)
 
Penggalian Israel dekat Masjid Al Aqsa membuka luka lama Dunia Islam.

Kubah Batu berlapis emas, atau Qubbat Al-Sakhra dalam bahasa Arab, adalah landmark arsitektur paling mencolok di Jerusalem, atau Al Quds, Kota Suci. Memantulkan sinar matahari terik, dari udara bangunan yang di Barat dikenal sebagai orang mengenalnya dengan nama The Dome of The Rock itu nampak seperti kepala paku yang ditancapkan di tengah bangunan-bangunan kuno dengan warna hampir monoton putih keabu-abuan yang kusam.

Dari Kopi hingga Geografi al-Idrisi

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 1, Tahun 1, Januari 2008)

Anda mungkin membaca artikel ini sambil minum kopi – lalu teringat pada Marco d’Aviano, si rahib Orde Capuchin pada abad ke-17, yang warna cokelat jubahnya memberi kita nama cappucinno, satu jenis kopi yang sekarang banyak dijual di gerai-gerai kopi elite. Ya, berkat d’Aviano, hidup kita agak bisa dinikmati.

Ketika Rock Melintasi Qasidah

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 1, Tahun 1, Januari 2008)

Band GIGI menyanyikan qasidah, Dhani Ahmad terinspirasi Naqsabandiyah, Opick pun mendayu mengajak zikir. Sejak Wali Sanga, banyak peluang berdakwah lewat musik.

Di Jepang, Dhani Ahmad jadi salah satu ikon populer anak muda pengikut tarikat Naqsabandiyah. Ini kesaksian seorang peserta Asian Public Intelectuals (API) Fellowship, Krisnadi Yuliawan, yang selama 6 bulan pada 2006-2007 melakukan penelitian di Jepang. Begitu pulang ke tanah air, Krisnadi sedikit geli juga menonton liputan sekian banyak infotainment di televisi kita tentang “tragedi” Dhani-Maia. Dalam beberapa kali perjumpaan, Dhani menyebut-nyebut “habib” (entah siapa) ada di pihaknya.

Dari Sekolah Bangladesh hingga Kota Tua Yaman

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 1, Tahun 1, Januari 2008)
 
Miskin tapi kreatif. Di sebuah desa kecil Rudrapur, Bangladesh, tangan-tangan kecil siswa sekolah dasar dengan terampil memba­ngun sekolah mereka sendiri. Mereka dibantu orangtua, guru, dan perajin lokal memanfaatkan bahan bangunan yang mudah didapat. Dua arsitek Eropa, Anna Heringer dari Austria dan Eike Roswag dari Jerman, mengajari mereka mengerahkan ketrampilan tradisional yang dikombinasikan dengan teknik baru dalam pengolahan bahan bangunan. Hasilnya adalah sebuah bangu­nan sekolah dua tingkat yang aman dan menyenangkan, meski sederhana.