Home » Humor (page 2)

Humor

Sama Rata Sama Rasa

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 5, Tahun 1, Mei 2008)

Seorang filsuf menyampaikan pendapat, "Segala sesuatu harus dibagi sama rata."

"Aku tak yakin itu dapat dilaksanakan," kata seorang pendengar yang skeptik.

"Tapi pernahkah engkau mencobanya?" balas sang filsuf.

Mengajari Arti Saling Berbagi

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 5, Tahun 1, Mei 2008)

Seorang nenek menangkap basah salah satu cucunya yang berulah dan berkata, "Hayo, Rio! Kamu makan kue adikmu ya? Kamu kan tadi sudah dapat?!"

"Enggak kok, nek. Aku tuh cuma mau ngajarin adik apa artinya saling berbagi."

Jualan Es di Neraka

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 5, Tahun 1, Mei 2008)

Suatu hari, Pak Haji dan orang China berdialog. Pak Haji bertanya kepada si China, "Koh jika engkoh meninggal di akhirat nanti kira-kira mau masuk surga atau neraka?"

Teknik Berjalan di Atas Air

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 5, Tahun 1, Mei 2008)

Tiga orang pertapa bermaksud untuk bersemedi di tepi sebuah danau.

"Waduh, aku lupa membawa alas duduk," kata pertapa pertama. Ia lalu pamit, melangkahkan kakinya di atas air danau, dan menyeberanginya menuju ke tempat tinggalnya di seberang danau.

Mimpi Religius

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 5, Tahun 1, Mei 2008)

Nasrudin sedang dalam perjalanan dengan pastor dan yogi. Pada hari kesekian, bekal mereka tinggal sepotong roti kecil. Masing-masing merasa berhak memakan roti itu.

Setelah debat seru, akhirnya mereka bersepakat memberikan roti itu kepada yang malam itu memperoleh mimpi paling religius. Tidurlah mereka.

Lebih Mending Mana?

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 4, Tahun 1, April 2008)

Seorang atheis menyindir temannya yang terkenal taat beragama. ’’Sigit yang baik,” katanya, ”bagaimana kalau setelah kamu tidak mau minuman keras, tidak mau bermain cinta sebelum menikah, tidak mau mencoba ganja, tidak mau menerima sogokan, rajin salat, rajin berpuasa... setelah segenap hidup yang sulit itu, ternyata Tuhan tidak ada? Bukankah itu kesia-siaan?”

Alhamdulillah

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 4, Tahun 1, April 2008)

Seorang pria tersesat selama dua minggu di sebuah padang pasir, sampai akhirnya ia menemukan rumah seorang ulama. Sang pemuka agama yang penuh kasih ini dengan segera merawat si pria malang itu. Ketika telah sembuh, ia bertanya pada sang ulama tentang cara untuk men­capai kota terdekat. Si ulama bukan saja menunjukkan jalan, tapi juga bersedia memberikan seekor kudanya sebagai hewan kendaraan.

Supir Bis

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 4, Tahun 1, April 2008)

Ustad Bambang meninggal karena usia tua. Di antrian menjelang masuk surga, ia berdiri tepat di belakang seorang pria lain.

’’Siapa nama Anda dan apa yang Anda lakukan dalam hidup Anda,” tanya malaikat pada sang pria.