Home » Editorial » Seruan Tarik Uang Yang jahat dan Menjijikkan

Seruan Tarik Uang Yang jahat dan Menjijikkan

oleh Ade Armando

Dengan membawa nama agama, orang ternyata bisa punya gagasan yang jahat dan menijikkan.

Lihat saja, kampanye agar umat Islam menarik uang besar-besaran dari bank nasional pada 25 November 2016, sebagai bentuk protes terhadap tidak ditangkapnya Ahok.

Buat saya, kampanye ‘tarik uang 25 November’ ini luar biasa mempermalukan dan menista Islam.

Terus terang, saya tidak percaya itu mungkin dilakukan.

Dalam berbagai kampanye yang disebarkan, mereka membayangkan kalau ada 1 juta muslim menarik uang Rp 5 juta saja dari bank, maka perbankan nasional akan kehilangan Rp 5 triliun hanya dalam satu hari. Bayangkan pula kalau yang menarik uang adalah 2 juta muslim, maka jumlahnya menjadi Rp 10 triliun.

Ancaman itu sengaja dibuat agar pemerintah mau tunduk pada tuntutan untuk menangkap Ahok.

Bila penangkapan Ahok tidak dilakukan, ancaman akan diwujudkan dan akan terjadi guncangan ekonomi yang sangat mungkin menjatuhkan pemerintahan Jokowi.

Saya yakin itu tak akan bisa dilakukan karena siapa pula rakyat normal di era ini yang ingin agar ekonomi Indonesia guncang? Survei SMRC sekitar dua bulan lalu menunjukkan bahwa sekitar 70% masyarakat Indonesia saat ini puas dengan kinerja pemerintahan dan bahkan 74% percaya bahwa keadaan akan menjadi semakin baik. Sekitar 65% percaya kondisi ekonomi rumah tangga akan semakin baik. Rakyat Indonesia saat ini optimistis dan bahagia dengan kondisi negaranya.

Hanya muslim tolol yang bersedia mengorbankan kondisi yang sudah sedemikian stabil sekadar agar Ahok ditangkap.

Namun, terlepas dari kemusykilannya, gagasan dasar kampanye ini jelas jahat dan menjijikkan.

Bayangkan, yang ada dalam kepala mereka adalah skenario terjadinya krisis ekonomi yang diharapkan akan membuat pemerintah bertekuk lutut atas tuntutan mereka. Padahal kalau kekacauan ekonomi memang terjadi, yang akan menjadi korban pertama adalah rakyat kecil. Kalau bank kehabisan uang, keseluruhan ekonomi akan terkena dampak, harga membumbung tinggi, barang menjadi langka, rupiah melemah, dan yang paling menderita adalah rakyat kecil. Bayangkan pula kalau ini diikuti dengan kekacauan politik, penjarahan, konflik di kalangan akar rumput, dan seterusnya.

Jadi mereka yang menggerakkan kampanye ini mengharapkan sebuah Skenario Kiamat yang akan membuat rakyat menderita.

Saya yakin itu tidak akan terjadi. Namun bahwa harapan akan Skenario Kiamat ini ada di kepala mereka, sudah sungguh menjijikkan.

Padahal mereka adalah kalangan yang diidentifikasi sebagai kalangan yang memperjuangkan Islam.

Dengan kata lain, atas nama Islam, mereka ingin menghancurkan Indonesia.

Saya tidak punya kata-kata yang pantas dialamatkan untuk niat sejahat itu. Saya bahkan tidak tahu apakah orang-orang itu masih layak disebut manusia.

Komentar