Home » Editorial » Seribu Masjid Apa Gunanya

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 2, Tahun 1, Februari 2008 di Rubrik Laporan Utama)

Masjid. Masjid. Dan Masjid. Ke mana-mana pergi kita menemukan masjid di Indonesia, negeri berpenduduk mayoritas Muslim. Ada yang megah dan besar, dengan lantai pualam, lampu kristal di atapnya dan kaligrafi indah di dindingnya. Ada yang kecil dan sederhana, berdiri di pinggiran hutan, tanah pertanian dan muara-muara sungai.

Seribu Masjid Apa Gunanya

Besar atau kecil, dan apapun corak arsitekturnya, masjid adalah tempat terpenting dalam hidup seorang Muslim. Tapi, benarkah dia tempat yang penting? Di mana letak pentingnya?

Pada zaman Rasulullah, menurut almarhum Nurcholish Madjid, masjid adalah pusat peradaban. Masjid bukanlah sekadar tempat shalat berjamaah lima kali sehari, yang menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta dalam hablum min Allah, melainkan tempat interaksi manusia dalam hablum min annas. Dari interaksi itulah peradaban terbentuk.

Dalam konsep ini, bukanlah masjid jika dia hanya dibuka pada jam shalat, dan dikunci pada waktu selebihnya, misalnya, karena takut jam dindingnya akan tercuri. Atau ramai hanya pada waktu shalat dan sunyi pada saat-saat lain, ketika para musafir yang lelah tidur di pojok-pojoknya, seperti lazim kita lihat. Banyak masjid hanya riuh pada hari Jumat, namun kerontang pada hari-hari lainnya.

Dalam konsep ini pula, bukan soal apakah masjid itu besar dan megah atau kecil dan sederhana. Soalnya adalah apakah masjid itu mewadahi dua aktivitas tadi, vertikal dan horisontal, sekaligus.

Kata peradaban mungkin terlalu tinggi dan abstrak. Ditarik ke masa kini, di tengah keseharian sebagian besar masyarakat Muslim, masjid ideal seperti masa Rasulullah mungkin bisa diterjemahkan menjadi masjid yang mewadahi pusat kegiatan masyarakat—atau community-center. Tiap masjid adalah Islamic-center dalam skalanya masing-masing.

Masjid seperti itu adalah masjid yang melayani, tidak hanya kebutuhan spiritual berhubungan dengan Allah, tapi juga masjid yang peduli pada kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakat sekelilingnya. 

Masjid seperti itu akan, misalnya, menyediakan klinik kesehatan murah bagi jemaah dan orang miskin sekitar. Juga mengandung perpustakaan, yang berisi tak hanya buku agama, tapi juga buku-buku umum. Masjid itu menyediakan ruang bagi masyarakat untuk bermusyawarah memecahkan masalah bersama dan menyelesaikan sengketa di antara mereka. Bahkan mungkin menyediakan beng­kel latihan ketrampilan untuk peningkatan kesejahteraan ekonomi jemaahnya.

Pada tempat yang pas dan komunitas yang sesuai, masjid bahkan bisa memiliki ruang pameran seni, misalnya. Serta mewadahi kegiatan komunitas yang beragam namun produktif, terutama bagi remajanya: klub fotografi, kelompok belajar bersama, klub penulisan atau kerajinan tangan. 

Sayang, belum banyak masjid seperti itu di Indonesia di tengah kentalnya anggapan keliru bahwa masjid hanyalah “rumah Allah” yang sakral, yang tak boleh dikotori oleh kegiatan sehari-hari manusia. Padahal, de­ngan masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat, sangat mungkin terjalin solidaritas sosial yang penting dalam menghadapi aneka ragam krisis kita sekarang ini. Tanpa itu, apa gunanya seribu atau sejuta masjid?

Belum banyak masjid seperti itu. Di antara yang sedikit kami paparkan di sini sebagai bahan inspirasi. 

***

Oase- Oase Peradaban 

Walau masih sedikit, ada masjid-masjid yang menjalankan fungsi peradaban mereka. Oase yang terselip di sela-sela kota.  

Sudah sangat biasa kita jumpai: masjid sepi, tertutup di luar waktu shalat. Sering juga kita lihat, masjid hanya ramai pada saat Maghrib dan Isya saja. Ada sekitar 700.000 masjid di seluruh Indonesia. Mestinya, ini punya potensi sosial yang dahsyat.

Ada beberapa tanda yang menunjukkan potensi itu. Misalnya, sewaktu Krisis Moneter (Krismon) di Indonesia pada 1997-1998 lalu. Pada 27 Januari 1997, di Masjid Sunda Kelapa, Amin Rais dan Adi Sasono meluncurkan KAUM (Komite Aksi Untuk Masyarakat korban krisis moneter). Walau mungkin saja aksi ini “berbau” politik, tapi tetap menarik. Saat itu, salah satu bentuk aksi darurat meringankan derita rakyat korban Krismon adalah dengan mengadakan pasar sembako murah di masjid-masjid.

Dengan aksi sosial-ekonomi berbasis masjid-masjid itu, telah terlanggar sebuah kelaziman. Masjid di Indonesia umumnya jadi “tempat suci”, dalam arti “suci dari aktivitas-aktivitas non-ibadah”. Tentu, segera kita bisa bertanya, apa sih yang disebut “non-ibadah”? memangnya “ibadah” itu hanya shalat dan mengaji, serta kadang-kadang shalawatan? Bukankah “ibadah” ada yang berbentuk sosial juga?

Toh, dalam praktik, aksi sosial seperti pasar sembako murah umumnya tidak dibayangkan bertempat di masjid. Begitu juga dengan kegiatan-kegiatan seperti pusat kajian ilmiah, olah raga, layanan kesehatan, kegiatan seni budaya, atau pemberdayaan kaum perempuan. Mayoritas masjid di Indonesia mencukupkan urusan mereka pada “ibadah ritual”. “Ibadah sosial” pun dicukupkan pada shalat berjamaah (termasuk di hari raya), zakat dan sedekah, atau upacara pernikahan.

Syukurlah, ada model alternatif. Ketika masjid Salman ITB didirikan pada 1960-an, dan berkembang kuat pada 1970-an hingga 1980-an, ada kesadaran bahwa masjid bukan hanya untuk ibadah ritual saja. Sebagai masjid kampus pertama, masjid Salman menghasung fungsi masjid sebagai “pusat peradaban”. Menurut para pendiri dan pengelolanya hingga kini, fungsi itu adalah salah satu fungsi asli masjid di masa Rasulullah SAW.

Model alternatif semacam ini kemudian menjadi bahan banding masjid-masjid lain, baik di lingkungan kampus atau pun umum. Beberapa masjid di Jakarta, sekadar sebagai contoh, menghasung fungsi khas. Walau tak semua mendaku fungsi “pusat peradaban”, tapi paling tidak mereka berkembang konsep masjid sebagai community centre (pusat komunitas) atau social centre (pusat sosial).

Rumah sehat, bukan rumah sakit
Matahari belum terlalu terik, pada Jumat kedua Januari 2008, saat para petugas Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK) sedang mempersiapkan ruangan Aula Sakinah. Setiap hari Jumat, para petugas memang punya kesibukan tambahan. Maklum, masjid akan dipenuhi oleh banyak jemaah yang akan melakukan shalat Jumat. Jemaah yang datang dan melakukan shalat, tidak saja memenuhi ruangan utama shalat bahkan Aula Sakinah dan halaman Masjid Agung Sunda Kelapa.

Sementara para petugas (marbot) sedang mempersiapkan tempat shalat, di gedung depan Masjid Agung Sunda Kelapa ada kesibukan lain. Sebuah gedung bercat warna hijau berlantai lima. Dari jauh sudah terlihat gedung tersebut bertuliskan Rumah Sehat Masjid Agung Sunda Kelapa. Di dalam gedung tersebut dua orang ibu menghadap petugas di sana. Mereka sedang mendaftarkan diri untuk mendapat pelayanan kesehatan. Ibu pertama bernama Kusninah, mendaftarkan anaknya yang bernama Siti Jubaidah yang terkena penyakit kuning. Ibu kedua bernama Imas Rostiawati, mendaftarkan anak dan suaminya. Anaknya terkena sakit batuk, sedang suaminya terkena hernia.

“Sudah enam kali kami berobat ke sini, dua kali anak saya, saya tiga kali dan suami saya sekali,” jawab Ibu Imas saat ditanya seberapa sering berobat ke Rumah Sehat MASK. Ibu Imas mengaku senang dengan adanya Rumah Sehat MASK. Di samping karena gratis, pelayanannya juga bagus. “Petugas di sini ramah, dokternya mau menjawab setiap pertanyaan yang kami tanyakan. Berbeda dengan kalau saya berobat ke puskesmas, sering kalau kami bertanya mereka menjawab dengan ketus,” tutur Pak Sahrudin Malik, suami Ibu Imas. Rasa senang juga diungkapkan oleh ibu Kusninah. “Saya baru pertama kami berobat ke sini, saya senang karena tidak bayar, kami merasa terbantu,” ujarnya.

Sejak 14 September 2007, Masjid Agung Sunda Kelapa bekerjasama dengan Dompet Dhuafa Republika mengoperasikan Rumas Sehat. Ini adalah sebuah layanan kesehatan yang diperuntukkan bagi kalangan kaum dhuafa. Mereka yang tergolong dhuafa akan mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis. Peresmian Rumah Sehat tersebut dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sejak beroperasinya, Rumah Sehat menerima kurang lebih 30 pasien setiap harinya. Pelayanan Rumah Sehat MASK meliputi: pemeriksaan umum dan spesialis, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan rontgen polos, perawatan gigi, bersalin, obat, transportasi ambulance dan tindakan gawat darurat. “Untuk layanan spesialis, kami sedang menunggu proses izin dari departemen kesehatan,” ungkap Dr. Fachrizal Achmad, M, Si, direktur Rumah Sehat tersebut. Layanan penyakit spesialis meliputi penyakit dalam, anak, bedah dan kebidanan. “Semula kami menginginkan adanya rawat inap, tetapi karena lokasi Rumah Sehat ini dekat masjid yang notabene tempat berkumpul dan lalu lalang banyak orang, Ibu menteri tidak mengizinkan,” lanjut dr. Fachri.

“Rumah Sehat“, sebuah nama yang belum umum untuk sebuah layanan kesehatan. Selama ini kita lebih mengenal istilah rumah sakit atau klinik. “Kami ingin mengubah paradigma masyarakat tantang layanan kesehatan,” kata dr. Fachrizal. Ia menerangkan, selama ini banyak orang datang ke rumah sakit dengan terpaksa, karena sakit. Lebih miris lagi, mereka datang ke rumah sakit bukannya mendapat kesembuhan tapi menambah penyakit yang disebabkan ketidakpuasan pelayanan dan beban biaya.

“Nah, beban-beban seperti itu ingin kami hilangkan, terutama bagi kalangan orang-orang yang memang sudah terbebani kehidupannya karena kekurangan ekonomi. Kami ingin menciptakan bawah sadar  dalam pikiran orang yang datang kesini, mereka akan sehat,” tuturnya bersemangat. Memang, filosofi pengobatan ini terpancar dan terasa paling tidak oleh pasien hari itu. Menurut pengakuan Bu Imas, ada perasaan senang dan yakin akan kesembuhannya dengan datang ke Rumah Sehat. “Kami berobat ke sini seperti kami mau jalan-jalan, kami saling mengajak saat ada diantara kami mau berobat,” ujar Bu Imas.

Rumah Sehat merupakan salah satu Masjid Agung Sunda Kelapa, selain program tersebut mereka punya program-program lain dalam pelayanan terhadap jemaah dan umat. Ada empat bidang di situ: keagamaan, sosial, usaha, dan pendukung operasi. Bidang sosial pembinaan individu punya program beasiswa bagi anak-anak yang kurang mampu. Jumlah anak yang diberi biaya sekolah mencapai 200 anak. Mereka diberikan beasiswa sampai tingkat SMA. Selain diberikan biaya sekolah, mereka dibina secara keagamaan seminggu sekali. Sementara untuk orang tua mereka, diadakan pengajian sebulan sekali.

Masjid Agung Sunda Kelapa juga selalu mengadakan kegiatan tanggap darurat, seperti  bantuan kepada orang-orang yang terkena bencana alam. Selain memberi bantuan yang berbentuk sandang dan pangan, juga membantu mendirikan kembali masjid-masjid yang hancur karena bencana alam tersebut.

Soal kematian, juga warung makan
Kumandang suara azan menggema di kawasan jalan Cut Meutiah. Saat shalat Ashar. Sekitar tiga puluh menit setelah shalat Ashar berjemaah selesai, anak-anak muda bermain bola di halaman depan masjid Cut Meutiah.

Masjid Cut Meutiah merupakan salah satu Masjid yang berada di kawasan elit Menteng. Masjid ini dikelola oleh Yayasan Masjid Cut Meutiah. Secara resma, masjid ini berbadan hukum pada 1987. Menurut Ketua Pelaksana Harian, Heri Hermawan, Masjid Cut Meutiah selain sebagai tempat beribadah, juga difungsikan sebagai sebagai sarana untuk melayani dan pemberdayaan umat, terutama warga di sekitar daerah masjid tersebut.

Untuk mengoptimalkan peran sebagai sarana pemberdayaan ummat, dibuat struktur organisasi berdasarkan  peran tersebut. Beberapa bidang yang ada antara lain: lembaga anak asuh yatim dan piatu, badan sosial kematian, lembaga bantuan hukum,  koperasi, lembaga poliklinik, pendidikan, bimbingan haji dan umrah, Remaja Islam Cut Meutiah, dan Lembaga Pengajian Ibu-ibu.

Saat ini masjid Cut Meutiah memunyai 77 anak asuh yang diberikan beasiswa pendidikan. Bantuan yang diberikan meliputi biaya sekolah, seragam, uang jajan dan keperluan-keperluan lain yang berhubungan dengan proses pendidikan. Beasiswa diberikan sampai anak tersebut menempuh pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). “Tapi kami tidak menampung mereka di sini. Kami tempatkan mereka di keluarganya yang masih hidup, atau di jemaah di sini yang bersedia menampung mereka,” tegas Pak Heri.

Bidang lainnya yaitu Badan Sosial Kematian. Layanan yang diberikan antara lain: memandikan, mengafani, menshalatkan dan mengantarkan ke pemakaman. Layanan khusus diberikan bagi warga masyarakat yang tak punya tempat tinggal yang memadai atau sempit. Masjid Cut Meutiah menyediakan ruangan aula yang bisa digunakan oleh keluarga yang berduka untuk merawat dan menyemayamkan jenazah sampai dibawa kepemakaman. Semua layanan tersebut diberikan secara gratis. “Kami punya dua armada ambulans yang bisa sewaktu-waktu diminta bantuan untuk mengantar atau menjemput jenazah, bahkan untuk mengantar ke luar kota,” terang Pak Heri.  

Bidang lain untuk membantu umat adalah Lembaga Bantuan Hukum. Selama ini, lembaga bantuan hukum lebih berperan untuk penyelesaian sengketa pernikahan. Termasuk di dalamnya penyelesaian pembagian harta gono gini. “Beberapa sengketa tanah juga pernah ditangani,” ungkap Pak Heri.  

Tak kalah penting di masjid ini, klinik kesehatan. Jemaah masjid dan masyarakat umum di sekitar masjid Meutiah  mendapat layanan gratis untuk pemeriksaan dan pengobatan. Layanan pengobatan yang disediakan adalah penyakit umum dan gigi. Selama ini Masjid Cut Meutiah mendapatkan suplai obat-obatan dari 18 agen farmasi di Jakarta, setiap bulan secara gratis. Apabila persediaan obat sudah menipis pengurus mengirimkan surat kepada agen-agen obat tersebut.

Untuk menopang pembiayaan semua kegiatan sosial tersebut pengurus melakukan kerjasama dengan pihak luar dan membuat koperasi. Salah satu kerjasama yang sampai saat ini berjalan adalah kerjasama dengan warung makan Sederhana. Bentuk kerjasamanya, bagi hasil atas keuntungan warung makan tersebut. Sementara keuntungan koperasi selain digunakan untuk pembiayaan operasional Masjid, juga digunakan untuk bantuan pinjaman bagi jamaah –walau untuk ini, tak ada program khusus.

Masjid dan panen terumbu karang
Seorang perempuan muda turun bergegas dari halte Busway di depan Masjid Agung Al-Azhar. Waktu menunjukan hampir jam tujuh malam. Karena tidak ingin kehabisan waktu maghrib, perempuan itu berjalan dengan cepat. Adegan seperti itu sering kali didapati di depan Masjid Agung Al-Azhar. Mungkin karena keberadaannya dekat terminal Blok M, banyak orang menjadikan Masjid Agung Al-Azhar sebagai tempat transit dan melaksanakan sholat maghrib sebelum melanjutkan perjalanannya.

Masjid Agung Al-Azhar termasuk masjid tua yang masih tetap kokoh berdiri. Dan di Masjid tersebut, ulama besar Buya Hamka dulu beraktivitas dan mengembangkan dakwahnya. Kini, Al-Azhar dikelola oleh Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al-Azhar. Salah satu program sosial yang saat ini dilakukan Al-Azhar adalah pemberian beasiswa kepada anak-anak yatim, yang dikelola oleh  yayasan-yayasan anak yatim yang bermitra dengan Al-Azhar.

Kegiatan sosial lain adalah pemberdayaan ekonomi yang bekerjasama dengan PT. Prima Heza Lestari (PT PHL). Bentuknya adalah memberikan pinjaman untuk pengembangan usaha dibawah pengelolaan PT. PHL tersebut. Bentuk kerjasamanya adalah Al-Azhar memberikan dana zakat kepada PT. PHL dan melakukan pengawasan, sementara PT PHL berkewajiban mengelola dana tersebut dan secara rutin memberikan laporannya.

Program ini dimulai pada bulan Mei 2007. Setelah berjalan beberapa bulan, masyarakat antusias. Saat ini, semakin banyak yang mengajukan diri untuk mendapat pinjaman dana tersebut. Di samping karena cicilannya ringan, pinjamannya juga tidak berbunga, hanya memberikan infak pengelolaan. Jumlah orang yang diberikan pinjaman pada bulan Desember 2007 bertambah menjadi 58 orang. Saat ini, masjid Al-Azhar merencanakan menambah jumlah dana yang akan disalurkan sebesar 47 juta.

“Kami puas dengan pelaksanaan program ini, selanjutnya bahkan kami akan mengembangkan ke wilayah lain. Kami akan mencoba dengan menggunakan jaringan masjid,” ungkap Abdurrahman Gayo, salah seorang Pelaksana Harian Takmir Masjid Agung Al-Azhar. Kegiatan lain yang berorientasi sosial dilakukan oleh Lembaga Amil Zakat (LAZ) Al-Azhar, antara lain: poliklinik umum dan gigi, pemberdayaan pengrajin, pemberdayaan pesantren, training cleaning service, benah madrasah, benah rumah ibadah, bea penghafal Al-Quran dan layanan jenazah gratis. Program Poliklinik gratis telah berjalan sejak Desember 2007, berlokasi di Cigombong Sukabumi.

Selain mengoperasikan poliklinik di Cigombong, LAZ Al-Azhar juga memberikan pelayanan kesehatan gratis di lingkungan Masjid Agung Al-Azhar. Kaum dhuafa yang sakit bisa mengajukan diri ke kantor LAZ Al-Azhar, selanjutnya mereka akan diantarkan ke klinik Al-Azhar. Pembiayaan pengobatannya akan dibayar oleh LAZ Al-Azhar.

Program sosial lainnya adalah pemberdayaan ekonomi. Program ini meliputi pemberian modal usaha, pelatihan keterampilan dan pemberdayaan pengrajin dan terumbu ikan. Program pemberian modal usaha diberi nama dengan program Ibu Mandiri. Program ini baru sekali dilaksanakan bertepatan dengan hari Ibu. Program ini diberikan kepada ibu-ibu yang ingin membuka usaha kecil. Modal usaha yang diberikan sebesar satu juta rupiah. Program pelatihan keterampilan yang pernah diadakan adalah training cleaning service. Program ini bekerjasama dengan perusahaan penyalur cleaning service, sehingga para peserta training tersebut langsung disalurkan untuk bekerja.

“Kami sangat senang, beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan salah satu peserta dan saat ini katanya dia sudah mampu membeli sebidang tanah untuk dibangun rumah,” tutur Muhammad Anwar Sani, Direktur Operasional LAZ Al-Azhar, dengan wajah sumringah. Ia juga senang, belum lama ini dia mendapat kabar terumbu ikan di pesantren yang dibantu Al-Azhar, di Maninjau Padang, sebentar lagi akan panen untuk kelima kali. Beberapa waktu lalu LAZ Al-Azhar membantu tiga pesantren untuk membuat terumbu ikan. Tiga pesantren itu tersebar: satu di Maninjau Padang, satu di Klaten, dan satu lagi di Parung Panjang.

Melihat kemajuan program LAZ AL-Azhar, Anwar Sani terinspirasi untuk mengembangkan lebih luas Lembaga Amil Zakat (LAZ) berbasis masjid. Ada beberapa keuntungan LAZ berbasis masjid: antara lain, masjid memunyai jamaah dan masjid selalu disinggahi orang-orang baru. Apabila sebuah masjid bisa mengembangkan lembaga zakat, akan mempunyai dana untuk melakukan pemberdayaan kepada masyarakat umum, terutama mereka yang masih lemah ekonominya. Sehingga masjid bukan hanya untuk ibadah ritual saja, tetapi sebagai penggerak kesejahteraan masyarakat sekitarnya.

Dari haram jadah, jadi hamparan sejadah
Hari semakin sore, tapi terik panas matahari masih menyengat di jalan Kramat Jaya Koja Jakarta Utara, tempat Masjid Jakarta Islamic Center (JIC) berdiri dengan megahnya. Panas matahari tersebut tak menghalangi kegiatan orang-orang yang berada di sekitar masjid tersebut. Sebagian orang-orang sibuk menggelar dagangan di jalan depan masjid JIC berdiri. “Di sini rame-nya mulai menjelang maghrib sampai malam jam sepuluh,” ungkap Ibu Sri Siti Pardiah.

Ibu Sri sudah setahun berjualan di jalan depan JIC untuk membiayai enam anaknya. “Anak saya masih dua yang masih sekolah. Jadi, saya berjualan seperti ini. Suami saya sudah meninggal tiga tahun lalu.” Sebelum berjualan di kawasan JIC ibu Sri berjualan di pelabuhan. Karena sering di gusur akhirnya pindah di kawasan JIC. Menurut pengakuannya, suaminya bekerja sebagai keamanan sewaktu kawasan ini masih menjadi tempat lokalisasi Pekerja Seks Komersial (PSK).

Menurut Pak Jamid kawasan ini dari dulu sudah ramai. Pak Jamid adalah ketua RT 06 di kawasan JIC. Beliau tinggal di situ sejak 1972. “Niat gubernur saat itu untuk membuat lokalisasi mungkin baik, daripada para PSK berkeliaran di jalan-jalan. Tapi pelaksanaannya tak berjalan mulus. Banyak anak-anak yang masih di bawah umur dibawa ke sini untuk dijadikan PSK. Jadi, waktu Sutiyoso menutup Kramat Tunggak, saya sih senang saja,” lanjutnya. Menurutnya, hampir di setiap gang di daerah sini ada banyak PSK. “Dulu kawasan ini disebut sebagai haram jadah, sekarang menjadi hamparan sejadah,” ujar Pak Jamid.
 
Menurut Pak Jamid, dulu di sepanjang jalan depan JIC, orang-orang berjualan minuman keras. Setelah kawasan ini dialih fungsikan, banyak orang kemudian berjualan pakaian muslim baik untuk perempuan maupun laki-laki. Saat ini, ungkapnya, keamanan daerah itu semakin baik. Masyarakat juga merasa senang dengan kondisi saat ini.

JIC adalah sebuah kawasan yang dirancang sebagai pusat peradaban Islam di Jakarta yang bertaraf internasional, dengan masjid sebagai sentrumnya. JIC dirancang bukan saja sebagai pusat peribadatan, tapi juga sebagai pusat pendidikan dan latihan serta bisnis yang bernuansa Islami. Secara garis besar, JIC punya enam bidang fungsi antara lain: Bidang Takmir Masjid, Bidang Pendidikan dan Latihan, Bidang Sosial Budaya, Bidang Informasi dan Komunikasi, Bidang Pengembangan Bisnis dan Bidang Pendukung.

Bidang Pendidikan dan Latihan punya program unggulan, antara lain: pelatihan ekstensi untuk manajemen dan tren peradaban modern, pelatihan manajemen masjid, Training for trainer untuk guru dan trainer pemula, kursus bahasa Inggris, pelatihan creative learning, pelatihan tiga dimensi movie maker, pelatihan Algoritma pemrograman komputer dengan animasi 3D.

Bidang sosial budaya punya beberapa program unggulan: pembakuan prosesi maulid khas Betawi, Festival Maulid Nusantara, riset dan pemetaan kondisi ekonomi dan sosial budaya masyarakat sekitar JIC dengan masjid sebagai sentra utama, dan penguatan basis ekonomi jamaah melalui pola jaringan yang terjalin lewat masjid. Bidang Pengembangan Bisnis memiliki tiga bidang yang akan dikembangkan, yakni perkantoran, convention hall, dan hotel. Konsepsi bisnis yang akan dikembangkan semua mengacu pada pengembangan bisnis berbasis syariah.

JIC mungkin sebagai sebuah terobosan bagi dunia Islam di Indonesia. Dari aspek visi perencanaan program gagasan tersebut perlu diapresiasi. Walaupun memang perencanaan yang ada belum semuannya terimplementasi. “Baru sekitar 60 persen kawasan ini dibangun, jadi belum semuanya optimal,” demikian ditegaskan oleh ibu Hanny, staf humas JIC.

Baru tiga tahun secara resmi JIC dioperasikan. Mungkin memang kita masih perlu menunggu dan memberikan waktu kepada pengelola untuk mengimplementasikan gagasan dan perencanaan yang ada. Dan semoga hal itu tak terhenti hanya karena terkendala oleh dana, masalah klasik yang selalu menghantui dunia Islam di Indonesia.

***

SERIBU MASJID, BAGAIMANA MENGATURNYA?

Tepatnya, ada kurang lebih 700 ribu masjid di seluruh Indonesia menurut data 2002. Di Jakarta saja, menurut data yang lebih tua (1991, ber­dasar­kan penelitian Koordinasi Dakwah Islam (KODI) DKI), jumlah masjid adalah 2.091 banyaknya. Bagaimana mengelola­nya?

Pemerintah Daerah Jakarta, setidak­nya, menjadi gambaran bagaimana sebuah definisi menentukan cara pengelolaan masjid oleh negara. Penelitian KODI DKI tadi, misalnya, mendefinisikan “masjid” sebagai “bangunan fisik yang dijadikan sebagai pusat peribadatan umat Islam dan biasa digunakan untuk salat Jumat.” (masjidistiqlal.com) Pemerintah kemudian membagi tipologi masjid lebih khusus. 

Sesuai keputusan Menteri Agama no. 391 tahun 2001, ada enam tipe masjid berdasarkan wilayah mereka. Pertama, masjid negara: masjid di tingkat pemerintahan pusat dan seluruh dananya dibiayai negara. Hanya ada satu di Indonesia: masjid Istiqlal. Kedua, masjid nasional, yakni masjid di tingkat propinsi yang diajukan Gubernur setempat kepada Menteri Agama agar menjadi masjid nasional. Ketiga, masjid raya: tingkat propinsi juga, tapi diajukan oleh Departemen Agama setempat kepada Gubernur. Keempat, masjid agung yang berada di tingkat kabupaten atau kota. Kelima, masjid besar, yang beroperasi di tingkat kecamat­an. Dan kelima, masjid jami yang berpusat di tingkat kelurahan atau desa.

Dari segi pengelolaan, jenis masjid pun dibagi tiga tipe. Ada masjid pemerintah, dengan pengelola yang ditunjuk oleh pemerintah. Misalnya, Masjid Jakarta Islamic Centre yang ada di Kramat Tunggak. Lalu ada masjid swasta, yang pengelolaannya oleh lembaga swasta. Misalnya, masjid Bimantara di gedung Menara Kebon Sirih. Masjid ini resik dan asyik sekali, lengkap dengan “taman gantung” segala. Didanai oleh Yayasan Bimantara. Dan, ada masjid masyarakat umum. Pengelolaannya oleh pengga­langan­ dana swadaya masyarakat. Contohnya, masjid raya Villa Inti Persada di Tangerang Banten terhitung sangat­ besar. 

Umumnya, “pengelolaan” berhubung­an dengan pengaturan alokasi dana untuk biaya operasional kegiatan masjid. Sebagai “tempat ibadah” dalam penger­tian “tempat salat”, masjid umumnya punya “kegiatan masjid” yang dipahami tak jauh dari kegiatan salat. Misalnya, “pengajian” atau “pesantren kilat”. Kegiatan sosial macam pendidikan kete­rampilan, pemeliharaan dan perawatan kesehatan, apalagi pengembangan keilmuan yang “non-agamawi”, jarang jadi pilihan di kebanyakan dari 700 ribu masjid di seluruh Indonesia itu.

Definisi “masjid sebagai tempat ber­ibadah”, dengan akibat kegiatan sosial-ekonomi-budaya yang tak jelas ber­hubung­an dengan ibadah mahdhah (seperti salat dan mengaji) sering tak terpikirkan. Dan memang, semasa Orde Baru, pengertian dan praktik pengelolaan masjid macam begini cocok sekali dengan iklim politik yang diinginkan rezim Soeharto.

***

Burung Koak dan Masjid SALMAN

Masjid Salman ITB punya sejarah panjang untuk jadi ”taman bagi bunga aneka warna”. 

Sudah kira-kira setahun ini, burung Koak jadi hama di jalan Ganesha. Mereka bermukim di pepohonan jalan itu, kotorannya mengenai orang lewat tanpa padang bulu, dan mengganggu kenyamanan ”daerah wisata” yang adem di daerah Dago, Bandung itu. Burung-burung Koak itu memakan dedaunan pohon-pohon yang ada di situ, dan bermukim hanya di situ.

Adriano Rusfi, konsultan SDM yang turut mengiringi revitalisasi masjid Salman ITB, merasa langkah masjid Salman terhadap burung-burung Koak itu sangat menarik. ”Mufti” (tak resmi) Salman, Samsu Basarudin, memanggil para ahli di bidang lingkungan, biologi, perburungan, dan sebagainya, untuk membahas hama burung Koak ini.

Beberapa pertimbangan mencuat. Pertama, burung-burung Koak ini telah terusir dari beberapa tempat di Ban­dung. Kalau mau diusir lagi dari daerah sekitar masjid Sal­man dan kampus ITB, itu hanya memindah­kan masalah. Lalu, ter­nyata, menurut para ahli, burung-burung Koak itu tak terlalu merusak lingkungan. Kemungkinan mereka pembawa wabah flu burung pun negatif. 

Lalu, ada pertimbangan tafsir Al-Quran. Menurut salah satu ayat Al-Quran, Allah telah menundukkan segala yang di langit dan di bumi untuk kepentingan umat manusia. Asumsinya, alam mestinya bersahabat dengan manusia. Kalau alam tak bersahabat, semisal kasus burung Koak itu, maka pasti ada yang salah dengan manusia­nya. Asumsi dan pertimbangan-pertimbangan itu membawa pada putusan: burung Koak dibiarkan di sekitar masjid Salman ITB, dan manusia di sekitar itu yang harus membenahi diri.

Menurut Adriano, kasus burung Koak ini cermin efektifnya konsep masjid sebagai pusat sosial dalam penge­lolaan masjid Salman. Ini adalah buah dari sebuah sejarah panjang masjid kampus pertama di Indonesia ini. Konsep masjid kampus ini praktis dimulai pada 27 Mei 1960, untuk per­tama kalinya salat Jumat dilaksana­kan di ruang Senat Guru Besar Jurusan Sipil, Aula Barat ITB. 

Pembangunan masjid Salman atas prakarsa TM. Soelaiman, di­mulai 1963 dan tuntas pada 1972. Nama Salman sendiri langsung diberi­kan oleh Presi­den Soekarno, me­ngam­bil nama sahabat Nabi, Salman al-Farisi, yang membangun benteng Khandaq. Sejak awal, TM. Soelaiman mencanang bahwa masjid ini harus jadi pusat sosial. Pada 1970-an, Imaduddin Abdurrahim (Bang Imad) dan Ahmad Sadali mengembangkan konsep masjid seperti di zaman Rasulullah Saw. Konsep itu adalah, masjid sebagai “pusat peradab­an”, di samping sebagai pusat ibadah dan pusat musyawarah. 

Sadali yang berlatar seni rupa, secara khusus menyebut visi masjid Salman sebagai “taman bagi tumbuhnya bunga beraneka warna”. Di “jidat” bangunan bagian depan masjid Salman, Sadali menampilkan spektrum warna yang melambangkan visi itu (kini, spektrum di “jidat” masjid itu sudah agak pudar). Dan memang, selama dekade 1970-an hingga 1990-an, aneka warna pemikiran Islam leluasa dipercakapkan dan tumbuh di area Salman seluas 7500 meter persegi ini. 

Adriano memuji suasana itu. “Di pojok satu, ngobrol sufi. Di pojok lain, Syi’ah. Ada juga yang harakah. Yang athei­s pun, ngobrol juga soal Tuhan di pelataran masjid.” Pada masa 1970-an pula, naik pamor Bang Imad, dengan konsep Pelatihan Mujahid Dakwah-nya yang progresif. Pada era itu pula, konsep masjid sebagai pusat peradaban dibumikan, denga­n berbagai kegiatan dan lembaga yang tak sebatas mengurusi ibadah dan Islam saja. Ada perpustakaan yang banyak berisi buku umum, ada kantin murah, penerbitan, juga berbagai lembaga yang melayani kebutuhan umat, baik di lingkungan kampus maupun masyara­kat sekitarnya. Bahkan kegiatan seni pun cukup lazim, sehingga bagian dalam masjid kerap dipakai untuk pertunjukan musik.

Model Salman kemudian diikuti oleh masjid-masjid kampus di berbagai wilayah Indonesia. Bahkan juga, masjid umum, seperti Masjid Agung Sunda Kelapa. “Sampai sekarang pun,” kata Adriano, “masih ada masjid-masjid umum atau kampus yang benchmark (studi banding) ke Salman.” 

Pada 1980-an, rezim Soeharto menekan Salman. Bang Imad ditangkap, kata “mujahid” dalam pengkaderan Salman pun dilarang. Pada 1990-an, berkembang Karisma (Keluarga Remaja Islam) Salman jadi pusat perhatian di Bandung. Setiap akhir pekan, area taman Ganesa dan Salman dipenuhi keluarga yang membawa anak-anak dan remaja untuk belajar dasar-dasar keislaman. Area jalan Ganesa itu sendiri memang atraktif. Taman, jalanan dengan pepohon­an rindang, andong dan kuda sewaan keliling, lapangan luas kampus ITB, juga kebun binatang di dekat situ.

Lalu, kenapa perlu ada revitalisasi? Setelah tekanan rezim Soeharto, setelah turunnya minat masyarakat terhadap Karisma, Salman perlu menyegarkan kembali aktivitasnya. Ada juga perkembangan yang agak memprihatinkan soal perebutan lahan dakwah di sana. “Kalau dulu, Salman adalah taman bunga, kini Salman jadi tempat kos-kosan berbagai aliran pemikiran Islam yang saling berebut untuk menguasai,” ujar Adriano. Maka lembaga Pelatihan Mujahid Dakwah pun dihidupkan lagi. Dan ada visi baru sosok kader Salman: empatik, progresif, atraktif. (HD)

***

KATA MEREKA, TENTANG MASJID

Nurcholish Madjid:

Karena merupakan pusat peradaban, maka sebuah masjid tidak cukup hanya sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan ibadah semata, melainkan diarahkan pada fungsi yang lebih luas lagi.

…(M)asjid hendaknya mempunyai kegiatan sosial yang memperlihatkan rasa kemanusiaan yang tinggi, sebagai wujud akhlaq karimah tersebut. Program-program peningkatan hidup kaum miskin seperti mereka yang menjadi penghuni daerah-daerah kumuh hendaknya “dijamah” oleh para aktivis masjid, sehingga mempunyai efek pendekatan antara ajaran dan amalan, antara teori dan praktek. Hal ini sejalan dengan adagium: “Bahasa kenyataan lebih fasih daripada bahasa ucapan.”

(Dikutip dari Kaki Langit Peradaban Islam, 1997)

 

Quraish Shihab:

Kata masjid terulang sebanyak 28 kali di  dalam

Al-Quran… 

Jika dikaitkan dengan bumi ini, masjid bukan hanya sekadar tempat sujud dan sarana penyucian. Di sini, kata masjid juga tidak lagi hanya ber­arti bangunan tempat salat, atau bahkan bertayamum sebagai cara bersuci pengganti wudu, tetapi kata masjid di sini berarti juga tempat melaksanakan segala aktivitas manusia yang mencerminkan kepa­tuh­an kepada Allah Swt.

Dengan  demikian,  mas-jid menjadi pangkal tempat  muslim bertolak, sekaligus pelabuhan tempatnya bersauh.

(Dikutip dari Wawasan Al-Quran)

 

Adriano Rusfi:

Dalam sunyi, sang masjid akhirnya memilih untuk diam dan menjadi penonton peristiwa dan sejarah yang lalu-lalang di pintunya. Tirani berlangsung dan ia diam. Korupsi merebak dan ia diam. Reformasi bergejolak dan ia diam. Hutan dibabat dan ia diam. Gempa dan tsunami meluluhlantakkan dan ia diam. Musibah melanda dan ia diam. Pernah ia coba berkomentar, namun jamaah diam. Karena jamaah telah tertidur dalam kebingungan dan kebosanan. Karena jamaah terlanjur memasuki masjid sambil membaca doa mau tidur: Bismika Allahumma ahya wa bismika amuut.

…Maka, mari kita kembalikan masjid kepada kita. Karena, nun di sana ada pendosa-pendosa yang ingin merebahkan hatinya di lantai sajadah …Mari kita tegakkan masjid di bumi realita, agar keluar dari mulutnya fatwa-fatwa langi­t yang dipicu oleh asbabun-nuzul aktualita, agar ia bisa berbicara fasih tentang sampah, tentang polusi, tentang konservasi, tentang gempa, tentang banjir bandang atau tentang korupsi.

(Dikutip dari Rehumanisasi (Aktivis) Masjid, dalam Pikiran Rakyat, 8 September 2006)

Komentar