Home » Editorial » Seluruh Bumi Tuhan adalah Tempat Beribadat
Sebuah berita penting termuat di situs republika.co.id (25 September lalu). Berita berjudul “Khawatir Bakal Jadi Tempat Kebaktian, Warga Tolak Gedung Pertemuan” itu, menginformasikan keberatan warga di Perumahan Pondok Mitra Lestari, Jati

Seluruh Bumi Tuhan adalah Tempat Beribadat

Asih, Bekasi, terhadap peresmian gedung pertemuan Graha Girsang di wilayah mereka.

 
Diberitakan, ada dua alasan keberatan warga. Yang pertama, karena daerah itu dianggap sebagai daerah resapan air. Yang kedua, dan ini yang lebih penting, karena dicurigai bahwa gedung itu akan difungsikan sebagai tempat ibadah umat Kristen. Seorang warga yang diwawancarai menyatakan bahwa kecurigaan tersebut lahir karena acara peresmian dilakukan seperti kebaktian.
 
Pemilik gedung membantah tuduhan tersebut. Ia menjelaskan bahwa acara peresmian itu nampak seperti kebaktian karena sebagai pemeluk agama Kristen, ia melakukan syukuran sebagai “tanda terima kasih kepada Tuhan Yesus.”  Ia juga menjamin bahwa gedung pertemuan dengan luas bangunan bawah 2.000 meter itu tidak akan dijadikan tempat ibadah. “Silahkan bongkar gedung ini secara paksa jika nanti gedung ini dijadikan tempat ibadah,” tegasnya.
Berita ini penting karena dia tidak berdiri sendirian. Dalam setahun terakhir ini, sejumlah kasus yang terkait dengan keberatan masyarakat (Muslim) atas pendirian gereja tampil mengemuka. Yang paling menarik perhatian tentu adalah kasus Gereja HKBP di Ciketing, Bekasi, yang sampai melibatkan aksi kekerasan berdarah-darah. Namun di luar itu ada banyak kejadian serupa, sebagai contoh di Gereja GKI Bogor dan juga di Depok. Dalam tarikan napas yang sama, meski dengan format berbeda, ada pula keberatan kelompok-kelompok Muslim terhadap pemanfaatan sejumlah gereja sebagai tempat penampungan pengungsi Gunung Merapi di wilayah Yogyakarta.
 
Berulangnya kasus ini menunjukkan tumbuhnya ketidaktoleranan terhadap umat Kristen. Dalam kasus perumahan di Jati Asih ini, misalnya, dua hal penting harus dicatat. Pertama, penolakan tersebut hanya didasarkan pada ‘kecurigaan’. Dalam hal ini ada persoalan ‘praduga tak bersalah’ yang seharusnya diterapkan. Tapi yang lebih mendasar lagi adalah bahwa kecurigaan itu ditujukan terhadap tindakan yang perlu dipertanyakan makna keburukannya sehingga perlu ‘dicurigai’: menjadikan gedung pertemuan sebagai rumah ibadat.
 
Seandainya pemilik gedung dicurigai berniat menjadikan tempat itu sebagai lokalisasi pelacuran atau tempat hiburan yang akan menyajikan minuman keras, penolakan warga itu mungkin bisa dipahami. Itu pun, harus disertai rangkaian bukti yang menunjukkan bahwa kecurigaan itu beralasan.
 
Masalahnya, yang dicurigai itu adalah ‘menjadikan gedung pertemuan sebagai rumah ibadat’. Persoalan mendasar dari logika ini adalah asumsi bahwa ‘tempat ibadat bagi umat Kristen’ adalah sesuatu yang layak ditolak. Gereja, dalam konteks ini, nampak sebagai barang haram. Hak umat Kristen untuk beribadat, dalam konteks ini, nampak sebagai hak yang tak perlu dilindungi, buruk, dan karena itu pantas dicurigai.
 
Dengan kata lain, kalaupun nantinya gedung pertemuan itu akan (juga) dimanfaatkan sebagai tempat beribadat, seharusnya tak ada persoalan. Hak si pemilik untuk melakukan itu sama saja dengan hak pemilik gedung lain untuk menjadikan gedungnya sebagai tempat pengajian atau tablig akbar atau zikir bersama. Bila pemilik gedung Graha Girsang dipersalahkan ketika mengizinkan umat Kristen melakukan kebaktian di sana, hal serupa harus diberlakukan ketika umat Islam melakukan peribadatan di luar masjid dan musala, seperti Salat Id di lapangan sepak bola, kantor walikota, atau pengajian di rumah-rumah.
 
Contoh terakhir itu sengaja ditampilkan bukan semata-mata untuk menunjukkan diskriminasi yang terjadi. Yang lebih penting dari itu adalah menunjukkan betapa absurdnya penolakan pembangunan rumah ibadat atau penolakan penggunaan gedung bukan gereja sebagai tempat peribadatan umat Kristen. Beribadat, menurut umat Islam dan Kristen, adalah hal yang baik. Karena itu, hal yang baik ini harus lebih banyak dilakukan, di mana pun juga. Sebagaimana umat Islam berharap dapat melakukan salat (sendiri-sendiri maupun berjamaah) di ‘sembarang’ tempat, begitu juga umat Kristen tentu berharap dapat melakukan kebaktian di mana pun mereka berada.
 
Karena itu, marilah berharap, bila pemilik gedung Graha Girsang nantinya memang pernah memberikan kesempatan bagi umat Kristen memanfaatkan gedung itu sebagai tempat ibadat, tidak perlu ada satu pihak pun yang dibenarkan untuk membongkarnya secara paksa.***

Komentar