Home » Editorial » Sejak Kecil Dididik untuk Mengkafirkan Orang yang Dibenci

Sejak Kecil Dididik untuk Mengkafirkan Orang yang Dibenci

Oleh Ade Armando

Salah satu hal yang paling menakutkan dari kelompok-kelompok anti Ahok ini adalah mereka membesarkan anak-anak mereka dengan penuh kebencian, mengajarkan anak-anak mereka untuk mengkafir-kafirkan, menghina, melecehkan dan menyerang  orang yang tidak sepaham.

Saya memperoleh video yang diupload FPI.

Dalam video ini, tampil seorang anak kecil (mungkin 7-9 tahun) yang meniru gaya Rizieq Shihab ketika menyerang Ahok dan juga Jokowi.

Di satu sisi terlihat lucu melihat kenaifan sang anak. Di sisi lain, sungguh memprihatinkan melihat bagaimana anak sekecil ini sudah belajar untuk hidup dengan penuh kebencian.

Jadi, ceritanya si anak ini meniru gaya Rizieq berpidato. Dia mengenakan pakaian serba putih lengkap dengan sorbannya. Dia jelas meniru Rizieq. Dia misalnya tidak menyebut kata ‘saudara’ melainkan ‘saudare’ , seperti yang sering dilakukan Rizieq.

Berikut kutipan dari sebagian ceramahnya. Saya beri komentar di dalam kurung di sana-sini. Dan kalau ada yang saya anggap penting, saya gunakan huruf besar:

“Aksi Damai 212 kita lakukan untuk menjauhkan pemimpin kafir. Seorang Gubernur bernama Ahok. Kenapa dia menistakan agama, saudare? SAYA JUGA BINGUNG.”

“Kita jangan mau memilih PEMIMPIN KAFIR yang sudah menjelekkan agama, merendahkan Al Quran.”

“Kita tidak akan menerima Al Quran dihina. Betoool?” (Dia jawab sendiri: betoool)

“Kita harus tangkap penista agama. KPK HARUS BERTANGGUNGJAWAB. KPK WAJIB MENANGKAP ORANG YANG NAMANYA KORUPSI.”

“Presiden tidak boleh melindungi penista agama. Kalau Presiden melindungi penista agama, PRESIDEN KITA TANGKAP JUGA, saudare.”

“Jangan kira kita takut pada Presiden. OOOH KALAU PRESIDEN MELINDUNGI PENISTA AGAMA, KITA LAWAN.”

“Pada saat Aksi 212, jutaan orang datang. Dari Ciamis, RATUSAN METER MEREKA BERJALAN.”

“Ciamis jadi perhatian, sodare. Dari Bandung ikut, dari Depok ikut, dari Jakarta ikut,…dari.. (bingung) Depok ikut. Bahkan dari Jakarta juga ikut, sodare. Orang Jakarta nggak mau kalah, sodare. BAHKAN DARI PETAMBURAN JUGA IKUT JALAN KAKI.”

Sebetulnya lucu.

Tapi bayangkan apa yang akan terjadi dengan generasi muda kita, kalau sejak kecil mereka disuapi dengan ujaran dan ajaran penuh kebencian semacam ini.

Komentar