Home » Editorial » Rizieq Syihab dan Kebohongan tentang Islam Liberal

Ketua Front Pembela Islam Rizieq Syihab menyebarkan rangkaian fitnah terhadap kelompok Islam Liberal. Kata Rizieq, kelompok Muslim Liberal menganggap Tuhan hanya sebagai mitos!

Rizieq Syihab dan Kebohongan tentang Islam Liberal

Tuduhan dan fitnah Rizieq ini termuat dalam tulisannya di Tabloid Suara Islam (edisi 109, 18 Maret-1 April 2011). Dalam kolom berjudul “Liberal: Musuh Besar Islam” itu, Rizieq mencaci-maki kaum Islam Liberal.

Tentu saja dalam demokrasi, adalah hak setiap orang untuk berbeda pendapat. Dengan demikian, adalah hak Rizieq sepenuhnya untuk membenci kaum Muslim Liberal dan mengajak para pembaca untuk memandang mereka sebagai ‘musuh terbesar Islam’.

Persoalannya, Rizieq menyajikan rangkaian tuduhan serampangan yang tak berdasar.

Rizieq mengatakan bahwa Islam Liberal ‘meragukan kebenaran agama’. Rizieq menyatakan bahwa di mata kaum Muslim Liberal, Tuhan hanyalah sekadar mitos! Rizieq menuduh bahwa kaum Muslim Liberal menganggap agama sekadar mengatur urusan ibadah ritual. Rizieq menegaskan bahwa bagi kaum Muslim Liberal, agama tidak lagi menjadi standar kebenaran dan mengukur segala sesuatu dengan materi.

Proposisi-proposisi semacam itu sangat serampangan dan hanya bisa lahir karena beberapa hal. Pertama, Rizieq mungkin sebenarnya tidak pernah mempelajari karya-karya kaum Muslim Liberal atau mengikuti diskusi di kalangan mereka. Kedua, Rizieq mungkin tak cukup paham apa yang dikatakan dalam karya-karya kaum Muslim Liberal tersebut. Ketiga, Rizieq mungkin hanya mengambil kesimpulan dari pendapat beberapa orang dalam Jaringan Islam Liberal yang ia lepaskan dari konteks diskusi panjang yang berlangsung. Keempat, Rizieq berbohong dan dengan sengaja menyebarkan fitnah.

Siapapun yang mengikuti perkembangan mazhab Islam Liberal dan Jaringan Islam Liberal (JIL) tentu menyadari bahwa segenap pernyataan Rizieq itu berantakan.

Kaum Muslim Liberal tentu saja tak bisa dipandang ‘meragukan kebenaran agama’. Sebagaimana terbaca dalam Manifesto Jaringan Islam Liberal, kelompok ini tidaklah mempertanyakan ‘agama’, melainkan berhasrat untuk menafsirkan kembali apa yang dianggap sebagai ajaran-ajaran agama yang pada dasarnya merupakan hasil tafsiran dari ulama terdahulu yang datang dari konteks waktu dan ruang berbeda. Kaum Muslim Liberal justru mengembangkan ijtihad untuk menjadikan ajaran Islam dapat memberi jawaban yang dibutuhkan untuk persolan-persoalan kekinian.

Ijtihad adalah penalaran rasional atas teks-teks keislaman. Dengan menekankan ijtihad, kaum Muslim Liberal mengajak umat Islam untuk tidak menerima begitu saja hasil pemikiran di masa lalu, melainkan mengkajinya kembali dan menyesuaikan ajaran-ajaran itu dengan tantangan yang dihadapi di masa ini.

JIL menulis dalam manifesto tersebut: “Kami percaya, ijtihad . . . adalah prinsip utama yang memungkinkan Islam terus bertahan dalam segala cuaca. Penutupan pintu ijtihad, baik terbatas atau keseluruhan, adalah ancaman atas Islam, sebab Islam akan mengalami pembusukan.”

Dalam manifesto itu juga tertulis bahwa ijtihad yang mereka kembangkan adalah berdasarkan semangat religio-etik Al-Quran dan Sunnah Nabi, bukan semata makna literal teks. “Penafsiran literal hanya akan melumpuhkan Islam. Dengan penafsiran berdasarkan semangat religio-etik, Islam akan hidup dan berkembang secara kreatif menjadi bagian peradaban kemanusiaan universal,” tulis kaum Muslim Liberal dalam manifestonya.

Dengan pernyataan-pernyataan itu saja terbaca jelas bahwa kaum Muslim Liberal sama sekali tak meninggalkan agama. Semangat mereka justru ingin menghidupkan dan mengembangkan agama.

Kaum Muslim Liberal memang menerima keberagaman kebenaran. Kaum Muslim Liberal menganggap bahwa tak ada satu pun dari umat manusia di dunia ini yang boleh mengklaim mengetahui kebenaran absolut. Tapi itu tak berarti kaum Muslim Liberal meragukan kebenaran agama yang diyakininya. Itu adalah dua proposisi yang sama sekali berbeda.

Tuduhan Rizieq bahwa bagi kaum Muslim Liberal agama hanya mengurus soal ritual ibadah saja, juga mengada-ada. Kalau dibaca tulisan-tulisan kaum Muslim Liberal, akan dengan mudah ditemui gagasan-gagasan mereka tentang wacana dalam Islam mengenai demokrasi, keadilan sosial, negara, kesetaraan gender atau penegakan HAM. Bahwa kaum Muslim Liberal dengan sengaja mengeritik apa yang dipercaya sebagai hukum Islam mengenai berbagai aspek kehidupan yang diwarisi oleh ulama terdahulu, tidaklah berarti kaum Muslim Liberal menganggap wilayah perhatian agama hanya terbatas pada soal ritual ibadah saja.

Rizieq menyatakan bahwa bagi kaum Muslim Liberal, agama tidak lagi menjadi standar kebenaran dan mengukur segala sesuatu dengan materi. Inipun kesimpulan mengejutkan. Bahwa bagi kaum Muslim Liberal, apa yang dipandang sebagai ‘standar agama’ harus senantiasa dikaji ulang, dikritisi, dan dipandang dalam relevansinya dengan tuntutan masyarakat kontemporer, itu sama sekali tak berarti bahwa bagi kaum Muslim Liberal, agama tak dapat dijadikan standar. Bila Rizieq membaca tulisan-tulisan atau mengikuti diskusi-diskusi kaum Muslim Liberal, dia akan tahu betapa Al-Quran, hadis, Sunnah, riwayat Nabi, sejarah Islam hampir selalu dijadikan rujukan. Bahwa kaum Muslim Liberal juga menggunakan karya-karya ilmiah dari dunia non-Islam yang diterbitkan berabad-abad setelah wafatnya Nabi, tentu tak berarti bahwa kaum Muslim Liberal meninggalkan agamanya.

Tuduhan Rizieq bahwa kaum Muslim Liberal memandang Tuhan hanya sebuah mitos (takhayul), juga sulit dipahami. Tentu saja pandangan Tuhan sebagai mitos bukanlah sesuatu yang baru. Namun menyatakan bahwa itu adalah keyakinan kaum Muslim Liberal, jelas mengada-ada. Sebagai Muslim,tentu saja kaum Muslim Liberal percaya pada Tuhan. Tulisan-tulisan para tokoh Islam Liberal sangat kaya dengan ajakan untuk memahami ketauhidan Tuhan secara total.

Rizieq nampaknya memang tak paham soal Islam Liberal. Atau sengaja memutarbalikkan pemahaman. Apapun penyebabnya, implikasi tulisan Rizieq ini bisa sangat serius.

Rizieq sendiri menulis bahwa dengan segenap persoalan yang melekat pada kaum Muslim Liberal, kaum itu bisa dipandang sebagai musuh besar paling berbahaya bagi Islam, jauh lebih berbahaya dari segala jenis kemunkaran dan kesesatan yang ada. “Liberal adalah antek iblis nomor satu, bahkan sering lebih iblis daripada iblis itu sendiri…,” tulis Rizieq.

“Intinya,” tulis Rizieq lagi, “Islam akan selalu berhadap-hadapan dengan Liberal, dan perang antara Islam vs Liberal adalah perang abadi…”

Seperti dikatakan di atas, dalam demokrasi, perbedaan pandangan adalah biasa. Masalahnya, Rizieq bukan cuma berdebat tapi juga menyebarkan fakta yang salah atau bahkan kebohongan. Pada gilirannya, kebohongan itu dapat menjadikan kelompok yang difitnahnya itu menjadi pihak yang berpotensi untuk dianiaya.

Rizieq adalah orang yang berpengaruh di kalangan garis keras. Dan bila orang dengan posisi setinggi itu menyatakan Islam Liberal sebagai ‘musuh paling berbahaya bagi umat Islam’, pernyataan itu dapat berimplikasi sangat serius.***

Komentar