Home » Editorial » Rizieq Shihab: Rekonsiliasi atau REVOLUSI!

Rizieq Shihab: Rekonsiliasi atau REVOLUSI!

Rizieq Shihab tampaknya benar-benar tidak berani pulang ke Indonesia untuk mempertanggungjawabkan kasus-kasus hukumnya.

Dia kini menyuarakan ancaman pada pemerintah Indonesia. Ia meminta pemerintah Indonesia untuk melakukan ‘rekonsiliasi’ dengan ulama. Bila itu tidak dilakukan, maka pilihannya adalah REVOLUSI.

Ancaman itu disampaikan Rizieq melalui pembicaraan telepon yang diperdengarkan kepada peserta diskusi tentang tuduhan chat mesum Rizieq yang diselenggarakan di Hotel Balairung, Matraman, Jakarta Pusat (16/6).

Rizieq menyatakan bahwa sebagai Pembina Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI), ia mengedepankan dialog dan rekonsiliasi. Namun, pendekatannya ini akan berubah seandainya pemerintah mengabaikan permintaan rekonsiliasi ini. “Jika aktivis Islam dan ulama terus dikriminalisasi, maka pilihannya adalah REVOLUSI,” ujarnya.

Ia juga menyatakan bahwa piihannya untuk bertahan di Saudi bukan merupakan bentuk pelarian dari tanggungjawab hukum, melainkan bentuk perlawaan terhadap kezaliman.

“Saya berada di tanah suci sebagai bentuk  perlawanan terhadap kebatilan, perlawanan terhadap diselewengkannya hukum oleh para penegak hukum,” kata Rizieq dalam sambungan teleponnya.

“Selaku pembina GNPF MUI, saya  tetap ingin mengedepankan dialog dan musyawarah dengan lebih mengutamakan rekonsiliasi. Akan tetapi kalau rekonsiliasi gagal, kalau rekonsiliasi tetap ditolak oleh pihak di seberang sana, sementara para ulama terus menerus dikriminalisasi, para aktivis terus menerus diberangus kebebasannya, diberangus hak asasi manusianya, dan rakyat jelata terus menerus dipersulit, dan Islam juga terus menerus dimarjinalkan, maka tidak ada kata lain yang harus kita lakukan kecuali lawan,” kata Rizieq.

“Jadi sekarang pilihannya ada di hadapan pemerintah: rekonsiliasi  atau revolusi,” kata Rizieq.

Ancaman Rizieq ini jelas menunjukkan niat Rizieq untuk menghindar dari kewajiban mempertanggungjawabkan perilakunya di Indonesia. Menurut catatan, ada sejumlah perkara hukum yang menunggu Rizieq di Indonesia: chat mesum  dengan Firza, penghinaan terhadap Bung Karno, penghinaan terhadap agama Kristen, penghinaan terhadap budaya Sunda, penghinaan terhadap profesi Hansip, penguasaan tanah secara tidak sah di mega Mendung, dan fitnah tentang gambar palu arit di dalam mata uang rupiah baru.

Dalam kasus chat mesum dengan Firza dan penghinaan Soekarno, status Rizieq sudah dinaikkan menjadi tersangka.

Nampaknya, Rizieq tidak cukup berani untuk menjalani proses hukum itu. Karena itulah dia berusaha membangun imej bahwa bahwa ketidakpulangannya ke Indonesia disebabkan oleh keinginannya untuk menghindari berlangsungnya konflik berdarah di Indonesia. Karena itulah dia membangun wacana adanya ‘kriminalisasi ulama’ yang sebenarnya tidak pernah ada.

Dia tentu berharap pemerintah akan bersedia menghapus kasusnya begitu saja. Dia berharap pemerintah akan takut dengan ancaman revolusi tersebut, dan memilih jalan ‘damai’.

Sejalan dengan itu, kalau pemerintah tidak bersedia memenuhi permintaannya, dia akan membual bahwa yang bersalah dalam ketidakpulangannya adalah pihak pemerintah yang ngotot tidak mau melakukan rekonsiliasi.

Rizieq Shihab tampaknya memang tidak punya niat baik. Tapi kita tinggal tunggu, berapa lama lagi dia masih bertahan dengan kebohongan-kebohongannya. []

Komentar