Home » Editorial » Penyerangan Gereja di Aceh adalah Tindak Biadab dan Pengecut. Titik!
Foto: nasional.tempo.co

Penyerangan Gereja di Aceh adalah Tindak Biadab dan Pengecut. Titik!

Oleh: Ade Armando*

Penyerangan dan pembakaran gereja di Singkil, Aceh (13 Oktober) adalah tindakan biadab dan pengecut  yang menghina Allah. Dalam aksi biadab itu, menurut keterangan resmi pemerintah, ada satu gereja hangus terbakar. Akibat bentrok yang terjadi antara pembela gereja dan penyerang, empat orang terluka dan satu tewas.

Aksi biadab ini sama sekali tak dapat dibenarkan. Umat Islam di Indonesia selayaknya mengutuk tindakan semacam ini sebagai kejahatan yang sama sekali bertentangan dengan ajaran Islam. Alih-alih Islami, penyerangan gereja ini justru mencoreng nama Islam dan menghina Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Ini bukan kali pertama gereja diserang di Indonesia. Di berbagai provinsi lain, sudah sering terdengar banyak gereja yang dipersulit pendiriannya, ditutup paksa oleh warga, diteror dan juga diserang secara fisik, termasuk pembakaran.

Serangan-serangan terhadap gereja ini hampir selalu dilakukan atas nama Islam. Dan celakanya, hampir selalu pula penyerangan ini dibela oleh banyak orang Islam yang menganggap penyerangan semacam ini  bisa dibenarkan karena berbagai alasan: dari soal tuduhan ketiadaan izin pendirian gereja, tuduhan Kristenisasi sampai soal ‘sekadar’ ketidaksukaan terhadap pembangunan rumah ibadat selain masjid di lingkungannya.

Umat Islam selayaknya berhenti mendukung aksi-aksi kekerasan biadab yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang sangat menghargai keberagaman dan perbedaan. Kalaulah ada soal izin pendirian gereja, umat Islam harus belajar bahwa dalam negara hukum, semua harus diselesaikan melalui prosedur hukum. Umat Islam harus belajar bahwa mereka tidak bisa merasa diri paling benar dan mengambil alih hukum ke tangan mereka sendiri.

Pembenaran dan pembelaan yang dilakukan banyak orang Islam terhadap penyerangan gereja selama ini telah menjadi kondisi yang menyuburkan aksi-aksi biadab tersebut. Karena tahu akan dibela, para pelaku kejahatan itu dengan seenaknya menggunakan nama Islam untuk menghancurkan kalangan yang mereka tidak sukai.

Sudah saatnya umat Islam berhenti memberi pembenaran.

Pelarangan dan penyerangan terhadap rumah ibadat tidak dapat dijustifikasi dengan alasan apapun.

Pelarangan dan penyerangan terhadap rumah ibadat adalah jahat, busuk, biadab dan menghina Allah.

Rumah ibadat seperti gereja adalah tempat orang beribadat, mengagungkan Tuhan. Pendirian gereja adalah salah satu hak asasi yang harus dihormati setiap warga Indonesia. Rakyat Indonesia harus menghormati hak setiap orang untuk beribadat sesuai dengan keyakinannya.

Orang-orang Aceh yang menyerang gereja itu adalah orang-orang yang arogan, sombong, picik dan harus diragukan apakah mereka memang pernah belajar Islam. Mereka tampak sebagai kaum pengecut yang karena merasa diri sebagai kaum mayoritas berani menindas kaum minoritas.

Ketika Aceh dulu memperjuangkan kedaulatan atas daerahnya yang dieksploitasi pemerintah pusat di masa Orde Baru, umat Islam beramai-ramai membela Aceh. Perjuangan Aceh dipandang sebagai jihad yang mengagumkan. Kini, semua keharuman Aceh hancur berantakan karena kepengecutan kelompok-kelompok picik yang menggunakan Islam untuk melakukan aksi biadab yang sama sekali bertentangan dengan Islam.

Umat Islam harus bersama-sama menjadikan Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam. Dalam hal ini, umat Islam selayaknya bersama-sama mengatakan STOP pada setiap bentuk penindasan kaum non-Islam ataupun kaum yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam.

Pemerintah pun harus mengambil tindakan tegas terhadap kaum penyerang gereja sebagaimana pemerintah tegas terhadap para penyerang umat Islam yang sedang merayakan Idul Adha di Tolikara, Papua.

Sudah terlalu lama kebiadaban atas nama Islam ini dibiarkan. Sudah saatnya ini dihentikan.[]

*Ade Armando adalah Pemimpin Redaksi Madina Online dan Dosen Komunikasi FISIP Universitas Indonesia

Komentar