Home » Editorial » Negara Hadir: Pelaku Kerusuhan dan Penyebar Kebencian Tanjung Balai Ditangkap

Negara Hadir: Pelaku Kerusuhan dan Penyebar Kebencian Tanjung Balai Ditangkap

Alhamdulillah. Pihak kepolisian bertindak tegas terhadap mereka yang menyebarkan kebencian dan melakukan kebiadaban terkait kasus Tanjung Balai, Sumatra Utara.

Berita terakhir adalah ditangkapnya seorang pengangguran AT (41) di Jakarta yang menulis kata-kata provokasi kebencian di Facebooknya (31/7), satu hari sesudah kerusuhan yang menghancurkan dua Vihara, delapan kelenteng, sebuah rumah serta beberapa unit mobil dan motor tersebut.

AT menulis begini:   “Tanjung Balai Medan Rusuh 30 Juli 2016. 6 Wihara dibakar. Buat Saudara Muslimku mari rapatkan barisan… Kita buat tragedi 98 terulang kembali. Allahu Akbar…”

Sebelumnya, Polres Tanjung Balai sendiri sudah menangkap 11 tersangka pelaku penyerangan biadab tersebut. Polisi menyatakan ada puluhan orang yang ada dalam daftar pencarian.

Apa yang terjadi menunjukkan bagaimana para penyebar kebencian atas nama Islam yang selama ini dibiarkan melenggang selama bertahun-tahun oleh negara, sudah berhasil menanamkan dan menumbuhkan semangat kebencian di kalangan umat Islam.

Orang seperti AT dan gerombolan yang menghancurkan rumah ibadat kaum Tionghoa itu sangat mungkin merasa bahwa apa yang mereka lakukan adalah dalam rangka menegakkan perintah Allah. Mereka tanpa pikir panjang menyerang dan meluluhlantakkan apa yang mereka pandang sebagai musuh-musuh Islam. Bayangkan, AT menyerukan agar umat Islam merapatkan barisan dan bersiap  MENGULANG TRAGEDI 98. Bayangkan pula, bukan hanya AT yang mungkin melakukan hal serupa.

Pertanyaannya: dari mana kebencian itu tumbuh?

Jawabannya, menurut saya, sederhana: kebencian itu tumbuh karena narasi kebencian terus menerus dikampanyekan sebagian tokoh-tokoh Islam dan pemuka-pemuka Islam di berbagai forum, tempat dam media, termasuk media sosial dan media online. Meraka dengan gagap gempita menyuarakan kebencian terhadap kaum Kristen, Tionghoa, Hindu, Budha, Ahmadiyah, Syiah, dan seterusnya. Mereka terus menyebarkan provokasi bahwa Umat Islam diancam. Dan solusinya adalah: rapatkan barisan dan hancurkan kaum non-Islam itu!

Karena itu, negara harus segera mencegah gelombang penyebaran semangat kebencian ini agar Indonesia tidak menjelma menjadi negara yang penuh konflik agama seperti yang sudah terjadi di banyak negara di dunia Islam.

Saya rasa peran Kapolri baru Tito Karnavian sangat besar dalam hal ini. Ia memang dikenal sebagai sosok yang mempelajari bagaimana radikalisme keagamaan tumbuh dan bagaimana cara mencegahnya.

Polisi memang harus memberi pelajaran pada siapapun yang menyebarkan kebencian atas nama agama di Indonesia ini bahwa mereka akan kalah.

Agama diturunkan Tuhan untuk menyebarkan kedamaian, bukan untuk menyebarkan kebencian.

Komentar