Home » Editorial » MUI Sebaiknya Keluarkan Fatwa yang Mengutuk Pelaku Teror

Bom buku untuk Ulil Abshar-Abdalla tentu mengejutkan dan membuat banyak pihak khawatir tentang perkembangan teorisme di Indonesia. MUI seharusnya mengutuk.

MUI Sebaiknya Keluarkan Fatwa yang Mengutuk Pelaku Teror

Saat ini masih terlalu sedikit informasi yang tersedia bagi siapapun untuk mengambil kesimpulan terlalu jauh tentang bom untuk Ulil. Ada banyak pihak yang mungkin berada di belakang pengiriman bom tersebut. Mungkin sekali untuk membuat panik. Tapi mungkin juga, ini terkait dengan radikalisasi kelompok-kelompok muslim yang semakin nyata akhir-akhir ini.

Kemungkinan kedua, sama sekali bukan tanpa alasan. Kasus bom Ulil ini terjadi dalam rangkaian peristiwa yang menunjukkan adanya peningkatan semangat membasmi pihak yang berbeda keyakinan di berbagai tempat.

Dalam kasus rangkaian penyerangan terhadap Ahmadiyah, para teroris tanpa segan menghancurkan rumah, tempat ibadat, menyerang anak-anak, perempuan dan orangtua, serta membunuhi mereka yang melawan.

Dalam kasus penyerangan terhadap umat Nasrani dan pemeluk Syiah, memang tingkat kebrutalannya lebih terkendali. Namun aksi kekerasan yang dilakukan tetap mencapai tahap menakutkan.

Kaum Ahmadiyah, kaum Nasrani, dan kaum Syiah memiliki satu kesamaan: mereka dianggap sebagai kalangan yang berbeda dan ‘sesat’ di mata kelompok-kelompok yang bercita-cita memurnikan Indonesia sebagai sebuah negara Islam yang harus menjalankan syariat yang tak terbuka untuk interpretasi.

Ulil punya posisi yang serupa. Ia adalah tokoh yang berasal dari komunitas Nahdlatul Ulama yang memperjuangkan terbangunnya komunitas Muslim kritis dalam memahami ajaran-ajaran Islam. Karena keberaniannya untuk mempertanyakan dan mengkaji kembali gagasan-gagasan keislaman yang sedemikian diyakini oleh kaum ulama terdahulu, Ulil dianggap sebagai ‘pembangkang’. Apalagi ia adalah salah satu pendiri yang mengkoordinasi Jaringan Islam Liberal (JIL) –sebuah komunitas kaum muda Muslim yang berhasrat mengembangkan ijtihad berkelanjutan tanpa perlu takut atas berbagai kendala yang diciptakan dalam tradisi berpikir yang berlaku dalam masyarakat Muslim arus utama. Ia salah seoang tokoh paling gigih dalam memperjuangkan pluralisme Islam.

Karena pendiriannya itu, Ulil kerap disebut sebagai ‘sesat dan menyesatkan’. Sebagai contoh, seorang penulis produktif dari kubu garis keras, Hartono Ahmad Jaiz, di akhir 2001, pernah menulis sebuah buku berjudul ‘Bahaya islam Liberal’. Kalau saja buku itu hanya berisikan pandangan kritis terhadap JIL, tentu tak ada masalah. Yang jadi soal, dalam buku itu, ada pandangan Hartono yang mengesankan bahwa ia menyetujui fatwa mati atas orang-orang JIL. Di buku itu misalnya Hartono dengan sengaja mengutip sebuah hadis yang berbunyi:

“Pada akhir zaman, akan muncul sekelompok anak muda usia yang bodoh akalnya. Mereka berkata menggunakan firman Allah, padahal mereka telah keluar dari Islam, bagai keluarnya anak panah dari busurnya. Iman mereka tak melewati tenggorokan. Di mana pun kalian jumpai mereka, bunuhlah mereka. Orang yang membunuh mereka akan mendapat pahala di hari kiamat.”

Hartono memang tidak pernah secara terbuka menyatakan bahwa ia menganggap para aktivis JIL wajib dihukum mati. Ia berdalih, yang ia sarankan adalah pengadilan atas JIL. Namun segenap argumen yang ia ajukan, yang diperkuat dengan rujukan hadis sahih yang lazim dijadikan panduan hukum banyak umat Islam, mencerminkan semangat pembasmian keberadaan Ulil dan kawan-kawan.

Di akhir 2002, sebuah forum yang menyebut dirinya Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI), juga mengeluarkan fatwa mati pada JIL. FUUI ketika itu menyatakan bahwa JIL adalah jaringan dan kegiatan yang secara sistematis dan masif “melakukan penghinaan terhadap Allah, Rasulullah, umat Islam, dan para ulama.” Lebih lanjut FUUI menyatakan bahwa, “menurut syariat Islam, oknum yang menghina dan memutarbalikkan kebenaran agama dapat diancam dengan hukuman mati.”

Di kalangan para penentang gagasan-gagasan pembaharuan dalam Islam, JIL lazim dikenai macam-macam julukan. Misalnya, JIL kerap diselewengkan kepanjangannya menjadi Jaringan Iblis Laknatullah. JIL juga dituduh sebagai organisasi bentukan Amerika Serikat dan Zionisme Internasional untuk menghancurkan Islam dari dalam.

Dan tentu saja harus dicatat bahwa pada 2005, Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa bahwa pluralisme, sekularisme, dan liberalisme agama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran Islam dan adalah haram bagi umat Islam untuk mengikutinya.

Dengan demikian, dapat dikatakan, Ulil menurut cara pandang MUI dan komunitas di sekitarnya adalah orang yang menyebarkan ajaran yang sesat. Dan karena itu, mengikuti logika mereka yang membunuh dan menteror kaum Ahmdiyah, Ulil pantas disebut ‘halal darahnya’.
Tentu saja, ini sama sekali tak berarti, bom untuk Ulil itu datang dari komunitas FPI, Forum Umat Islam, Laskar Pembela Islam, apalagi dari MUI.

Namun karena itu pula, para ulama MUI dan organisasi-organisasi garis keras tersebut nampaknya harus secara jelas menunjukkan bahwa mereka tak terkait apapun dengan kejahatan itu. Terlebih lagi, MUI dan kawan-kawan seharusnya menunjukkan bahwa mereka bukan hanya tak terlibat namun juga mengutuk keras aksi-aksi teror semacam itu.

Bila MUI dan kawan-kawan memang ingin agar Islam tak dicederai dengan citra ekstremisme dan terorisme, inilah saat untuk membuktikannya. Kutuk teror terhadap Ulil. Kutuk teror terhadap Ahmadiyah. Kutuk teror terhadap umat Kristen. Kutuk teror terhadap kaum Syiah. Keluarkanlah fatwa yang menunjukkan bahwa pelaku teror atas nama Islam adalah kaum yang menghina Islam dan masuk dalam kategori ‘sesat dan menyesatkan’.

MUI bisa berperan besar. Mudah-mudahan mereka menyadarinya. ***

Sumber Foto:  http://www.voa-islam.com/, http://gresnews.com, http://palembang.tribunnews.com

Komentar