Home » Editorial » Media Islam dan Pelecehan Kristen

Pendeta yang dianggap melecehkan Islam ditahan. Tapi media Islam online terkemuka secara bebas memuat isi yang jelas menyerang Injil dan keyakinan umat Kristen.

Media Islam dan Pelecehan Kristen

Penghinaan terhadap keyakinan beragama memang bukan soal main-main. Pembakaran sejumlah gereja dan sekolah di Temanggung awal Februari 2011 lalu dimulai oleh kemarahan terhadap seorang pendeta. Ketika itu, tak lama setelah jaksa mengajukan tuntutan penjara lima tahun kepada Pendeta Antonius Rechmon Bawengan, situasi di dalam dan di luar pengadilan menjadi tak terkendali. Tuntutan lima tahun itu dianggap terlalu rendah sebagai hukuman terhadap apa yang dianggap sebagai kejahatan sang pendeta.

Apa yang disampaikan Rechmon memang wajar membuat banyak umat Islam tersinggung dan marah. Dalam buku “Ya Tuhanku, Tertipu Aku” yang ia edarkan bahkan di kalangan Muslim, ia misalnya menyatakan bahwa Hajar Aswad adalah simbolisasi vagina; tugu Jamarat di Mina adalah simbolisasi penis; serta umat Islam yang salat Jum’at di masjid sebenarnya menyembah dewa Bulan karena di atas kubah masjid terdapat lambang bulan-bintang.

Ia juga berargumen bahwa kalau sampai sekarang setiap hari, umat Islam dalam salat masih harus meminta Allah untuk `menunjukkan jalan yang lurus’ (sebagaimana diucapkan dalam surat al-Fatihah), itu berarti setelah 15 abad agama Islam berkembang, Allah belum juga mengabulkan permohonan itu.

Ia menyebut umat Islam serupa dengan unta dan akan masuk neraka. Ia menyatakan bahwa Allah, Tuhannya orang Islam begitu jahat menipu ratusan juta manusia. Ia menyatakan Allah, Tuhannya orang Islam mengajarkan kejahatan dengan memerintahkan kaum Muslim memerangi, menjarah, memperbudak dan membunuh orang kafir. Ia menyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang masuk neraka sehingga minta didoakan oleh umatnya.

Contoh-contoh itu secara jelas menunjukkan betapa Rechmon bukan saja tidak sensitif dengan perasaan umat Islam, tapi juga tidak mempelajari Islam secara mendalam. Ia bukan saja tak memiliki empati, ia tidak pintar. Tujuannya mungkin adalah untuk menjaga agar umat Kristen tidak tertarik mempelajari Islam, tapi cara pandangnya tentang Islam terkesan sangat dangkal.

Bagaimanapun, Rechmon akhirnya ditahan dan dihukum. Pengadilan setuju bahwa ia masuk dalam kategori `melakukan penodaan terhadap agama’. Untuk kejahatannya itu, Rechmon bahkan dituntut dengan batas hukum maksimal sesuai KUHP, yaitu lima tahun penjara. Ia dianggap sengaja menghina Islam. Dan tak ada kelompok Kristen yang membelanya, mungkin karena sikapnya itu memang sama sekali tak mewakili sikap kebanyakan gereja.

Pertanyaannya kemudian: kalau menghina ajaran Islam semacam itu adalah melanggar hukum, bagaimana dengan menghina ajaran Kristen?

Pertanyaan ini harus diajukan mengingat hal itu bisa saja berlangsung dalam posisi terbalik: Penghinaan datang dari kelompok Islam, yang dihina adalah ajaran Kristen.

Dan itulah yang dilakukan oleh media online Suara Islam. Dalam empat edisi cetaknya, Suara Islam (SI) menyajikan laporan tentang kasus Rechmon yang diikuti dengan penghinaan terhadap ajaran Kristen.

Para pengelola SI tentu marah sekali dengan pernyataan-pernyataan Rechmon. Itu tentu bisa dimengerti. Secara panjang lebar, Suara Islam berusaha menunjukkan kelemahan pandangan Rechmon. Itu tentu juga bisa dimengerti. Yang menjadi masalah, untuk meluapkan kemarahan itu, Suara Islam menjadikan ajaran Kristen sebagai sasaran tembak mereka.

Dalam rangkaian tulisan yang menyertai pelaporan tentang Rechmon, SI dengan terbuka menggambarkan Kristen dengan cara yang luar biasa negatif.

SI menulis bahwa Kristen adalah “ajaran sesat”. Dengan sinis, SI `mengasihani’ Yesus yang mengasihi para muridnya, “namun tak satupun muridnya yang setia”. SI menyatakan ayat Injil dipalsukan. SI menyatakan, ajaran Trinitas adalah ajaran yang diselewengkan. SI menyatakan, hari Natal sebenarnya adalah hari lahir Dewa Matahari dalam agama pagan yang dicaplok umat Kristen.

SI juga menyatakan bahwa dalam Injil ada banyak ayat erotis. SI menyebut Injil sebagai kitab paling berbahaya di muka bumi. SI menyebut Kristen sebagai agama sadis. SI menyatakan Injil menganjurkan penjarahan. SI menyatakan, Tuhan dalam Injil pernah memerintahkan pembunuhan secara sadis untuk membalas dendam.

Untuk tiba pada kesimpulan negatif itu, SI mengutip banyak ayat Injil yang menurut para penulisnya secara tegas rangkaian gambaran negatif tersebut. SI juga mengutip para penulis lain untuk meneguhkan kesimpulan mereka.

Tapi apa yang dilakukan SI sebenarnya tak berbeda dengan `kejahatan’ Pendeta Rechmon. Sang pendeta juga bisa mengklaim dirinya tak sembarang bicara. Ia juga merujuk pada banyak ayat al- Quran. Bahwa ayat al-Quran itu ia tafsirkan dengan cara yang sesuai dengan kehendak hatinya adalah soal lain. Bahwa ia, misalnya, nampak serampangan membayangkan Hajar Aswad sebagai alat kelamin adalah soal lain. Yang terpenting, ia tidak menyebarkan kebohongan. Ia tidak mengada-adakan ayat al-Quran, misalnya. Ia hanya menafsirkan dengan gegabah. Barangkali ia memang benci Islam, barangkali ia memang ingin mencacimaki islam. Tapi itu adalah soal lain. Yang penting, yang ia lakukan adalah menyebarkan pandangan dan tafsirannya yang negatif tentang Islam.

Masalahnya, kalaulah yang ia lakukan adalah sebuah tindak pidana, apa yang dilakukan SI seharusnya masuk dalam kategori tindak pidana juga. Apa yang disampaikan SI jelas-jelas adalah tafsiran negatif terhadap Injil dan sejarah Kristen. Dan sejajar dengan Rechmon, SI menyampaikannya dengan tidak berempati dan tidak mengindahkan bahwa itu akan menyakitkan hati umat Kristen.

SI tentu saja bisa membela diri bahwa apa yang disampaikannya adalah fakta. Namun, tentu saja, menyatakan Kristen mengandung ajaran yang `erotis dan sadis’ adalah sebuah tafsiran yang relatif. Sebagaimana Rechmon, SI nampak memang dengan sengaja ingin melecehkan Kristen. Barangkali pengelola SI memang membenci Kristen dan ingin mencaci-maki Kristen. Pertanyaannya: bolehkah itu diwujudkan dalam bentuk rangkaian tulisan yang menempatkan ajaran Kristen sebagai ajaran sesat, manipulatif dan bahkan cabul?

Kehadiran rangakaian tulisan di SI menunjukkan bahwa hukum di Indonesia berlaku secara diskriminatif. Apa yang dikategorikan sebagai menodai Islam memperoleh hukuman berat, sementara apa yang dikategorikan penodaan Kristen berlangsung dengan leluasa. Apalagi, perlu dicatat, SI bukan satu-satunya media Islam yang menggambarkan Kristen dengan cara sedemikian negatif. Tulisan serupa juga dipublikasikan di situs media Islam online lain, Voice of al-Islam. Atau buku Dark Bible yang sudah diterbitkan di Indonesia dan dijadikan rujukan SI menyajikan kecaman terhadap Injil dengan cara yang jauh lebih menyakitkan hati umat Kristen.

Namun di luar soal tindak pilih kasih ini, apa yang dilakukan SI dan VOA-Islam – sebagaimana khutbah pendeta Rachmon — sangat bermasalah karena tulisan-tulisan yang mereka sajikan menjadikan potensi konflik umat Islam dan Kristen masih akan terus hadir dan setiap saat bisa bereskalasi menjadi konflik fisik sesungguhnya.

Kata-kata jelas tak bisa dibaca sekadar sebagai teks mati. Kata-kata menggerakkan. Kata-kata bisa menebarkan kasih sayang, tapi kata-kata juga bisa menumbuhkan kebencian dan menggerakkan kekerasan. Kalau media Islam terus menerus mencekoki khalayak dengan tulisan-tulisan yang melecehkan dan bahkan menghina Kristen, tak mengherankan bila para pembaca itu memandang umat Kristen dengan pandangan merendahkan dan bermusuhan. Sikap negatif semacam ini, pada gilirannya, akan mendorong kebencian serupa dari pihak seberang.

Dan Suara Islam tak bisa dipandang main-main, mengingat siapa yang berada di belakang media itu. Pemimpin Umum SI adalah Muhammad Al-Khaththath yang adalah Ketua Hizbut Tahrir dan Sekjen Forum Umat Islam. Di dalam jajaran Dewan Redaksinya ada nama-nama: Ma’ruf Amin (Ketua MUI), Cholil Ridwan (Ketua MUI), Ahmad Sumargono (pimpinan Partai Bulan Bintang), Rizieq Syihab (Ketua FPI), Abu Bakar Baasyir, Didin Hafidhuddin (mantan calon Presiden dari Partai Keadilan), Arifin Ilham, dan beberapa nama tokoh Islam terkemuka lainnya.

Dengan kata lain, SI adalah media berpengaruh. Bila media berpengaruh yang diasuh para tokoh Islam tanpa sungkan menebarkan kebencian semacam ini, tidaklah mengherankan bila umat Islam yang tumbuh adalah umat yang penuh rasa benci.

Sumber Foto:

Komentar