Home » Editorial » Kubu Agus Yudhoyono Bantah Berhubungan dengan FPI dan Mendanai Aksi 4 November

Kubu Agus Yudhoyono Bantah Berhubungan dengan FPI dan Mendanai Aksi 4 November

Oleh Ade Armando

 

Tulisan saya, ‘Agus Yudhoyono-FPI dan Misteri di belakang 4 November’ (madinaonline.id, edisi 12 November 2016) mendapat tanggapan dari kubu Agus Yudhoyono.

Yang menghubungi saya adalah Rachland Nasidik, Wasekjen Partai Demokrat.

Secara tegas Rachland menyatakan bahwa kubu Agus TIDAK BERHUBUNGAN DENGAN FPI.  Menurut Rachland, kalaupun ada dukungan FPI terhadap Agus, itu adalah kehendak bebas FPI.

Rachland juga menuduh saya gegabah menyimpulkan bahwa kubu Agus mendanai aksi 4 November hanya karena adanya dukungan FPI pada Agus. Menurut Rachland, itu adalah lompatan logika dan merupakan tuduhan serius.

Rachland juga menjelaskan bahwa video yang menampilkan Agus dalam sebuah jamuan makan dengan sejumlah aktivis Islam, bukanlah acara yang dilakukan sesudah aksi 4 November. Itu adalah sebuah acara yang diselenggarakan oleh PAN sebelum pencalonan untuk mempertemukan Agus dengan komunitas keturunan Arab. Di acara itu tidak ada Rizieq Shihab seperti yang digosipkan banyak orang. Menurut Rachland, Agus TIDAK PERNAH BERTEMU Rizieq.

Karena itu, berkaitan dengan soal 4 November, Rachland menuduh saya berusaha membentuk opini yang sengaja mendiskreditkan kubu Agus. Karena itu pula, Rachland Agus meminta saya meminta maaf secara terbuka.

Sebenarnya, isi dan tujuan tulisan saya tidaklah seperti yang digambarkan Rachland.

Dalam tulisan itu, saya memang mempertanyakan kemungkinan bahwa FPI memiliki hubungan erat dengan Agus, Yang saya jadikan landasan dugaan adalah rangkaian status berisi dukungan FPI terhadap Agus yang dimuat dalam fanpage FPI, plus video yang menampilkan sosok Agus makan malam bersama dengan sejumlah orang berpakaian kerab-araban ala FPI. Dalam video itu juga terlihat ada sosok yang saya katakan ‘mirip sekali dengan Riziq shihab’.

Buat saya rangkaian fakta ini bisa menimbulkan dugaan bahwa FPI memiliki kedekatan dengan Agus.  Ini menjadi lebih serius mengingat FPI adalah motor utama aksi 4 November yang bertujuan mendorong pemerintah dan aparat kepolisian menangkap Ahok. Ditambah pula dengan pidato fenomenal SBY tentang ‘lebaran kuda’ dan adanya pengakuan bahwa aksi ini didanai Rp 100 miliar, wajar bila kemudian ada tuduhan bahwa aksi 4 November (turut) didanai kubu Agus untuk menggagalkan Ahok.

Karena itu, di bagian akhir tulisan, saya menyatakan Agus segera harus mengklarifikasi tuduhan-tuduhan ini. Tanpa klarifikasi  Agus, masyarakat bisa saja menduga bahwa Agus dan SBY berada di belakang aksi 4 November.

Jadi saya sebenarnya tidak ingin menuduh Agus. Namun saya juga paham bila Rachland menganggap tujuan saya adalah membangun opini bahwa Agus berada di belakang aksi 4 November. Bila itu pandangan Rachland dan kubu Agus, saya tentu dengan sepenuh hati meminta maaf pada kubu Agus. Saya tidak ingin membangun opini bahwa Agus bersekutu dengan FPI untuk menjatuhkan Ahok dengan menggelar aksi 4 November. Bila terkesan begitu, saya meminta maaf.

Yang saya harapkan sebenarnya adalah kejelasan sikap Agus tentang hubungannya dengan kelompok-kelompok semacam FPI yang jelas-jelas adalah kaum yang menyebarkan kebencian atas nama agama. Adalah celaka kalau Agus ternyata memang berhasil didekati oleh kelompok-kelompok seperti FPI dan kaum sejenisnya.

Saya senang Rachland memberi respons – walau bernada keras – karena dari penjelasannya dapat saya simpulkan bahwa Agus tidak mau dikait-kaitkan dengan FPI dan organisasi semacamnya. Mereka bukan kubu yang sepaham. Bahkan terdapat kesan bahwa kubu Agus tidak ingin terlihat berusaha mendekati FPI. FPIlah yang berusaha mendekati Agus, bukan sebaliknya.

Bagi saya, memang akan terlihat jauh lebih elok bila Agus bicara secara terbuka tentang penolakannya terhadap tindak radikalisme atas nama agama. Apalagi baik Agus maupun SBY, dalam pidato politik mereka, sempat mengeluarkan pernyataan yang terkesan menyudutkan Ahok dalam kasus Al Maidah 51. Ini sangat mungkin diinterpretasikan sebagai keberpihakan Agus dan SBY dengan kelompok-kelompok radikal semacam FPI.

Tapi tentu saja saya tidak ingin mengajari kubu Agus tentang bagaimana sebaiknya berkomunikasi dengan publik. Bagi saya, sudah cukup bahwa Agus tidak pernah bertemu Riziq dan tidak ingin dianggap berhubungan dengan FPI.

 

 

 

Komentar