Home » Editorial » Keterbelakangan Ketua Pemuda Muhammadiyah dan Video Toleransi

Keterbelakangan Ketua Pemuda Muhammadiyah dan Video Toleransi

Organisasi Islam Muhammadiyah tampaknya harus berani introspeksi diri.

Muhammadiyah dulu dikenal sebagai organisasi Islam yang mendorong keterbukaan berpikir, modernitas dan penghargaan atas keberagaman, sebagaimana diwujudkan dalam sosok pendirinya, KH Ahmad Dahlan.

Tapi lihatlah sekarang Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak. Dengan segenap hormat, harus saya katakan, Dahnil nampak sebagai pemuda yang akan membawa Muhammadiyah menuju abad kegelapan.

Contoh terbaru adalah protes Dahnil tentang film Kau adalah Aku yang Lain (KAAL).

Sebagai catatan, KAAL adalah video pemenang kategori film pendek dalam Police Movie Festival IV 2017. Video yang berdurasi 7 menit 41 detik itu bercerita tentang arti penting toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. (videonya dapat dilihat di https://www.youtube.com/watch?v=alDIdw5Xmsg).

Dalam film itu ada adegan di mana seorang pria tua – disebut ‘mbah’ – ngotot tidak mau membuka jalan yang ditutup karena pengajian untuk memberi jalan bagi ambulans yang membawa seorang pasien beragama Kristen yang sakit keras. Pria antagonis ini berkeras tidak memberi jalan karena akan mengganggu pengajian dan karena pria yang dibawa ambulans itu beragama Kristen.

Karena adegan itulah, Dahnil menuduh KAAL sebagai bagian dari upaya pihak kepolisian memberi  stigmatisasi massif kepada umat Islam.

Menurutnya, film itu menggambarkan umat Islam itu sangat intoleran dan bodoh, karena menghalangi ambulans yang lewat. “Itu jelas upaya stigmatisasi massif terhadap Islam yang dilegalkan oleh pihak kepolisian,” kata Dahnil dalam sebuah video yang diunggah akun resmi PP Pemuda Muhammadiyah. (28/6/2017).

Dahnil bahkan mengatakan: “Masalah utama kita adalah miskinnya kualitas literasi toleransi kepolisian”.

Dahnil menuduh pihak kepolisian menyebarkan kebencian melalui video itu.

Ia meminta Kapolri memberi sanksi pada panitia lomba video tersebut.

Kecaman Dahnil terkesan sangat terbelakang.

Kalau Anda menyaksikan video pedek itu, sangat jelas digambarkan bahwa si pria tua itu adalah tokoh antagonis yang memang sengaja ditampilkan sebagai sosok menyebalkan. Tapi dia sendirian. Ada tiga sosok lain yang menampilkan citra muslim yang positif.

Ada seorang polisi yang mengingatkan si mbah bahwa Allah memang dengan sengaja menciptakan manusia berbeda-beda dan nyawa manusia lebih penting daripada pengajian. Ada seorang santri muda yang memperingatkan bahwa sikap si mbah justru akan merusak citra Islam. Dan, yang terpenting, ada sosok kyai yang menyatakan bahwa Allah menciptakan umat manusia  dalam satu keluarga yang merajut cinta dalam persaudaraan.

Jadi, betapa tidak masuk di akalnya kecaman Dahnil.

Begitu juga argumen  Dahnil bahwa tidak mungkin ada muslim yang menghalangi jalan ambulans, tidak sepenuhnya bisa diterima. Masalahnya umat Islam di Indonesia memang kadang bisa melakukan hal yang tidak manusiawi dan tidak masuk di akal. Sebagai contoh dalam Pilkada DKI, sebagian muslim memang menolak untuk mengurus jenazah  muslim yang mendukung Ahok. Kalau terhadap sesama muslim saja mereka bisa bertindak serendah itu, apalagi pada warga non-muslim.

Lagipula, sosok mbah itu sendiri memang tidak diniatkan sebagai tokoh yang mewakili umat Islam. Dia layak disejajarkan dengan tokoh Haji Muhidin dalam serial televisi “Tukang Bubur Naik Haji”. Tokoh-tokoh antagonis semacam ini memang lazim ditampilkan dalam sebuah karya fiksi  untuk membuka jalan bagi masuknya ajaran moral yang berseberangan dengan karakter tokoh antagonis itu..

Jadi agak mengherankan bahwa Dahnil yang seharusnya berpikiran terbuka tidak bisa menangkap gagasan inti video ini. Apalagi sampai menuduh bahwa pihak kepolisian dengan sengaja melakukan stigmatisasi massif terhadap umat Islam.

Tentu harus dicatat, yang memprotes video itu bukan hanya Dahnil. Yang juga mengecam video ini adalah Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain yang menganggap film ini mendiskreditkan umat Islam.

Tapi, Zulkarnain selama ini memang dikenal sebagai orangtua yang pandangannya picik dan sempit (dia misalnya pernah menyatakan bahwa Jawa bisa dijajah ratusan tahun karena “banyak manusia model jongos”). Dengan kata lain, dia tidak bisa dijadikan standard.

Masalahnya, kalau seorang Ketua PP Pemuda Muhammdiyah juga berpikiran sempit semacam ini, kita layak khawatir dengan masa depan organisasi ini, sekaligus masa depan umat Islam Indonesia.

(Ade Armando)

Komentar