Home » Editorial » Kelompok Muslim Radikal itu Ada, Bukan Rekayasa
Saat ini ada semacam pengarahan opini publik bahwa radikalisme atas nama Islam adalah sebuah citra yang sengaja dibangun untuk menyudutkan umat Islam. Padahal, ada begitu banyak bukti bahwa itu memang ada.

Kelompok Muslim Radikal itu Ada, Bukan Rekayasa

Ada tuduhan bahwa radikalisme dalam beragama adalah sekadar rekayasa. Citra itu dianggap dengan mudah menyebar karena peran media massa yang dikuasai oleh kaum sekuler, liberal, kalau bukan kaum Nasrani. Berbagai media massa ini dituduh dengan sengaja membesar-besarkan masalah dan kalau perlu memanipulasi informasi untuk membangun gambaran tentang ‘ancaman Islam’.

Kasus kerusuhan Cikeusik dan Temanggung adalah dua contoh terakhir. Di kedua kasus tersebut aroma rekayasa memang terasa kuat. Misalnya saja, dalam kasus Cikeusik, kehadiran para pengunjuk rasa yang menggunakan pita biru dan pita hijau, adanya rekaman video yang meliput secara leluasa keseluruhan proses, rekaman salah seorang penyerang yang bertabik pada juru kamera, plus perilaku aparat keamanan yang terkesan sengaja membiarkan kerusuhan, lazim dijadikan bukti dugaan kuat bahwa penyerangan biadab itu bukan sesuatu yang berlangsung alamiah.

Namun setelah mengakui bahwa rekayasa memang ada, marilah kita bicara tentang pertanyaan utama: Apakah radikalisme atas nama Islam itu memang ada atau cuma rekayasa?

Masalahnya, kehadiran kelompok dan massa radikal yang membawa nama Islam dan memang dengan jelas menyerang dan menteror mereka yang dianggap sebagai ‘berbeda’ tidak hanya muncul dalam kedua kasus yang disebut tadi.

Kaum muslim radikal –kalau bisa disebut begitu– beroperasi di berbagai tempat secara terbuka selama beberapa tahun terakhir.

Orang harus tahu dan ingat bahwa penyerangan brutal terhadap Ahmadiyah bukan hanya berlangsung di Cikeusik. Di Lombok Barat dan Lombok Timur, berbagai permukiman Ahmadiyah –yang sudah berdiri sejak akhir 1950-an– diserang berulang kali sejak 1998 sampai 2010. Diduga, mayoritas penyerang datang dari luar wilayah tersebut. Sebagian jemaat Ahmadiyah kini tinggal di pengungsian di Transito, Lombok Barat, dalam kondisi menyedihkan. Sisanya mengungsi ke tempat lain.

Penyerangan ganas juga dilakukan terhadap permukiman, masjid, dan sekolah Ahmadiyah di Parung, Jawa Barat.
Tahun lalu saja, dari Oktober sampai Desember, massa radikal menyerang pemukiman dan masjid Ahmadiyah di desa Manis Lor, Kuningan; Cisalada, Bogor; Dusun Ketapang, Lombok Barat; Kampung Panjalu, Sukabumi; serta sebuah desa di Cianjur, Jawa Barat.

Bahkan mereka yang sekadar membela Ahmadiyah pun bisa menjadi sasaran, seperti apa yang terjadi pada kelompok masyarakat sipil Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Saat melakukan semacam upacara solidaritas terhadap Ahmadiyah di Jakarta, AKKBB diserang oleh massa bersenjata yang dikomandani Komando Laskar Islam di Jakarta (2008).

Dengan gambaran semacam itu, tentu sulit menerima tuduhan bahwa radikalisme atas nama Islam adalah sebuah citra yang dikonstruksi oleh media atau pihak-pihak lain yang anti-Islam.

Tentu sangat mungkin bahwa ada rekayasa dalam kasus Cikeusik dan Temanggung. Itu tak perlu dibantah. Namun rangkaian kekerasan itu sudah berlangsung di banyak tempat dengan melibatkan banyak komunitas selama bertahun-tahun, sehingga adalah lebih sahih untuk menduga bahwa memang ada gejala radikalisasi dalam pemahaman keislaman di Indonesia.

Radikalisasi ini melibatkan banyak pihak. Di situ, tentu saja, komunitas-komunitas yang mudah digerakkan untuk menyerang terutama mereka yang dipersepsikan berbeda. Di situ ada organisasi-organisasi bergaya fasis, seperti FPI, Laskar Pembela Islam, Majelis Mujahidin, Forum Umat Islam, dan sebagainya. Di situ ada tokoh-tokoh yang memang senang bersuara lantang. Seperti Rizieq Syihab. Bahkan, radikalisasi memperoleh justifikasi oleh sejumlah ulama di Majelis Ulama Indonesia yang secara konsisten meminta masyarakat untuk memahami aksi kekerasan tersebut dalam perspektif ‘ketertindasan umat’.

Kelompok-kelompok Islam radikal ini juga memiliki medianya sendiri. Di luar masjid dan pengajian, berbagai tabloid dan majalah serta media online lahir untuk membawa suara Islam radikal tersebut. Suara Islam dan Voice of al-Islam (VOA-Islam) adalah dua contoh terbaik. Melalui beragam saluran komunikasi inilah gagasan-gagasan radikal disebarluaskan.

Bahkan, para tokoh muslim radikal itu terkesan memang dengan sengaja membangun citra diri sebagai pihak yang tanpa ragu akan menggunakan atau menghalalkan kekerasan. Mereka membangun sikap umat untuk menerima bahwa melakukan teror dan kekerasan adalah bagian dari upaya menegakkan kebenaran Islam.

Wawancara dengan Habib Rizieq Syihab di Tabloid Suara Islam edisi 107 (18 Februari – 4 Maret 2011) menunjukkan itu.

Dalam wawancara tersebut, Rizieq menggambarkan bahwa kasus penyerangan terhadap Ahmadiyah di Cikeusik sendiri. “Di Cikeusik itu,” kata Rizieq, “kafir Ahmadiyah yang melanggar SKB, mereka merencanakan peristiwa, lalu mendatangkan preman dari Jakarta, mempersenjatai diri, melawan aparat kepolisian, melukai warga terlebih dahulu dan menantang masyarakat serta menyerangnya.”

Namun, setelah menyajikan tuduhan itu, Rizieq nyatanya tak menganggap aksi kekerasan yang mengorbankan nyawa itu sendiri sebagai sesuatu yang patut dikecam. Ia malah menggelorakannya. Dalam salah satu bagian wawancara, ia menyatakan bahwa apa yang terjadi di Cikeusik ini bisa terus membesar. Ketika ditanya apa yang akan terjadi seandainya Ahmadiyah tidak dibubarkan, Rizieq menjawab: “Jika hari ini, baru tiga kafir Ahmadiyah yang dibunuh, mungkin besok atau lusa akan ada ribuan kafir Ahmadiyah yang disembelih umat Islam.”

Yang penting dicatat, Rizieq tidak menyampaikan kemungkinan ini sebagai peringatan, melainkan lebih dalam nada ancaman. Katanya lagi: “Ingat, umat Islam sudah memiliki motivasi Ilahi untuk membela agama dengan ikhlas dan tulus, jika gugur maka mati syahid. Sedangkan si kafir Ahmadiyah jika gugur maka mati sangit. Hati-hati! Jangan sampai terjadi tragedi yang mengerikan!”

Soal sikap FPI, Rizieq mengatakan: “Dan kami FPI telah bersumpah dengan nama Allah SWT, akan terus berjuang sampai tetes darah terakhir untuk membubarkan kafir Ahmadiyah dari bumi Indonesia.”

Ketika ditanya soal kasus Cikeusik, Rizieq mengatakan bahwa penyerangan itu tak akan terjadi kalau saja presiden membubarkan Ahmadiyah. “Jadi jika ingin mengutuk kekerasan terhadap kafir Ahmadiyah, kutuk saja presidennya… Umat Islam yang dengan ikhlas berjuang membubarkan Ahmadiyah, mereka adalah mujahid yang diridhai Allah SWT dan Rasulullah SAW.”

Pernyataan-pernyataan ini dinyatakan secara terbuka. Sama terbukanya dengan pidato seorang petinggi FPI Sobri Lubis dua tahun yang lalu yang rekamannya tersebar secara luas melalui Youtube. Dalam pidato yang disambut bergemuruh oleh massa, sang ustaz dengan bersemangat berteriak: “Bunuh Ahmadiyah… Bunuh Ahmadiyah… Halal darah mereka”.

Muslim radikal itu memang ada. Bukan rekayasa. ***

Sumber Foto:  http://foto.detik.com

Komentar