Home » Editorial » Kebohongan Lain: Kalangan Islam Bulat, Ahmadiyah Harus Dibubarkan

Media online Suara Islam menurunkan berita berjudul: `Kalangan Islam
Bulat, Ahmadiyah Harus Dibubarkan'. Wakil NU dan Muhammadiyah membantahnya.

Kebohongan Lain: Kalangan Islam Bulat, Ahmadiyah Harus Dibubarkan

Suara Islam (24/03/2011) menulis judul itu untuk liputan mereka tentang pertemuan organisasi-organisasi Islam untuk membahas Ahmadiyah yang diselenggarakan Departemen Agama pekan lalu (22 dan 23 Maret 2011).

Lead beritanya berbunyi begini: “Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan ormas-ormas Islam sepakat bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat dan harus dibubarkan. Mereka juga mendesak agar Presiden SBY segera mengeluarkan Keppres pembubaran. Demikian terangkum dalam Dialog Nasional tentang Ahmadiyah pada hari kedua, Rabu (23/3/2011) di Kantor Kemenag, Jl MH Thamrin No. 6 Jakarta Pusat.”

Berita ini menjadi penting mengingat yang hadir bukan hanya organisasi-organisasi garis keras seperti FPI dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), tapi juga Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Kedua organisasi besar tersebut selama ini dikenal bersikap moderat. Para ulama kedua organisasi memang kerap menyatakan bahwa ajaran Ahmadiyah menyimpang dari arus utama ajaran Islam, tapi mereka tidak pernah menuntut pembubaran Ahmadiyah. Sikap mereka selama ini adalah mengakui perbedaan tanpa perlu meniadakan.

Narasumber utama tulisan SI adalah tokoh garis keras Rizieq Syihab. “Kita sepakat sebagai ormas Islam, Ahmadiyah ini hanya ada satu opsi saja, bubarkan! Tidak ada opsi lain,” ujar Rizieq sebagaimana dikutip SI.

Habib Rizieq juga mengatakan bahwa Ketua PBNU Slamet Efendi Yusuf menyatakan PBNU telah mengeluarkan putusan Ahmadiyah sesat. “Beliau (Slamet Effendy) mengeluarkan putusan dari PBNU sampai PWNU di berbagai daerah sepakat bahwa Ahmadiyah adalah sesat. Ahmadiyah ada di luar Islam,” katanya.

Menurut SI, penjelasan Rizieq tersebut mematahkan semua kabar yang berhembus selama ini yang mengatakan bahwa NU tidak menyesatkan Ahmadiyah dan tidak meminta untuk dibubarkan. “Melalui acara di Kemenag itu, kabar tersebut terbantahkan,” tulis SI.

Ditulis pula, Rizieq mengapresiasi klarifikasi Slamet Effendy. “Masyarakat juga diminta jangan percaya pada LSM-LSM yang mencatut nama PBNU dan mengatakan jika Ahmadiyah tidak sesat,” tulis SI lagi.

Bila berita ini benar, dampaknya tentu sangat penting. Selama ini tuntutan atas pembubaran Ahmadiyah hanya datang dari kelompok-kelompok garis keras. Menteri Agama, Suryadharma Ali, sendiri juga tampak memiliki pandangan serupa. Hanya saja, dapat dikatakan, organisasi-organisasi tersebut sebenarnya tak memiliki basis massa luas. Mereka tampak besar karena para pemukanya senang bersuara keras, dengan nada penuh ancaman, dengan jamaah yang terkesan tak sungkan-sungkan mengunakan kekerasan.

Harus diakui, ancaman dari organisasi-organisasi garis keras ini – yang didukung oleh sikap Menteri – berdampak serius. Semakin banyak pemerintah daerah yang mengambil keputusan yang menyudutkan Ahmadiyah, meskipun itu lazim dikritik sebagai bertentangan dengan Undang-Undang Dasar. Ketika terjadi gelombang kekerasan terhadap Ahmadiyah yang sampai memakan korban jiwa, publik sering terkecoh dengan gagasan bahwa itu semua terjadi karena kekeraskepalaan jamaah Ahmadiyah. Atau argumen lain: sebenarnya segenap huru-hara ini akan terselesaikan kalau saja permintaan `umat Islam’ agar Ahmadiyah dibubarkan dipenuhi.

Dalam konteks itulah, sikap organisasi-organisasi besar seperti NU dan Muhammadiyah menjadi sangat menentukan. Ketika FPI atau DDII atau FUI atau kelompok-kelompok lainnya menyatakan bahwa `umat Islam’ menuntut Ahmadiyah dibubarkan, pernyataan itu menjadi lemah seandainya dua organisasi raksasa itu tidak secara resmi mendukungnya.

Dengan demikian, bila apa yang dikabarkan Suara Islam adalah berita benar, implikasinya bagi hak hidup Ahmadiyah dan kebebasan beragama di Indonesia adalah sangat besar

Nyatanya, setelah dicek, Suara Islam bohong. Atau setidaknya wartawan media itu mengambil kesimpulan berlebihan.

Berita itu ditulis Suara Islam berdasarkan pernyataan Rizieq Syihab. Tak ada narasumber lain. Tentu saja Rizieq tidak bisa didaulat sebagai juru bicara untuk menyimpulkan sikap berbagai organisasi yang jauh lebih besar dari FPI. Tambahan lagi kalau dibaca secara cermat, Rizieq di tulisan itu sebenarnya hanya dikutip menyatakan “”Kita sepakat sebagai ormas Islam, Ahmadiyah ini hanya ada satu opsi saja, bubarkan! Tidak ada opsi lain.”

Pertanyaannya, ormas Islam yang mana yang dia maksud? FPI dan DII atau juga yang lainnya? Ini yang tidak disikapi dengan cermat oleh Suara Islam. Akibatnya meluncurlah kesimpulan dalam judul: “Kalangan Islam bulat, Ahmadiyah harus dibubarkan.”

Ketika dihubungi, wakil Sekretaris Jenderal PB NU Imdadurrahman, menyatakan bahwa NU tidak pernah mengeluarkan keputusan meminta pembubaran Ahmadiyah. Imdad mengakui ada perbedaan teologi antara NU dan Ahmadiyah, tapi itu tidak perlu disikapi dengan cara-cara yang melanggar hukum.

Tentang pernyataan Slamet Effendi Yusuf, Imdadurrahman menganggap bahwa itu bisa terjadi mungkin karena salah pengertian Rizieq atau media. Slamet memang adalah salah satu pimpinan NU yang lazim menjadi perwakilan NU di acara-acara dialog semacam itu. “Tapi tidak berarti bila ia menyatakan setuju Ahmadiyah dibubarkan, itu adalah sikap resmi NU. Bisa jadi itu hanya pernyataan pribadinya sendiri,” kata Imdadurrahman.

Wakil Ketua Divisi Litbang PB Muhammadiyah Piet Khaidir juga menyampaikan penjelasan serupa. Menurutnya, Muhammadiyah tidak pernah meminta Ahmadiyah dibubarkan. “Dalam Muhamadiyah, ajaran Ahmadiyah memang dianggap menyimpang dan berbeda, tapi kami tetap menghormati mereka yang mempercayainya,” ujar Khaidir. “Yang harus dikedepankan adalah dakwah, bukan pembubaran.”

Ia juga menyatakan saat ini Muhammadiyah merasa lebih baik energi dilimpahkan untuk secara bersama-sama berusaha mengatasi berbagai persoalan bangsa yang mendasar, seperti: kemiskinan, korupsi, kesenjangan dan hal-hal lain menyangkut kesejahteraan rakyat banyak.

Sikap NU dan Muhammadiyah ini sebenarnya dapat diduga. Muhammadiyah dan NU tidak pernah berseteru serius dengan Ahmdiyah sepanjang sejarah Indonesia bahkan sejak sebelum kemerdekaan. Sikapnya adalah saling menghormati. Agak mengherankan bila akibat munculnya gelombang radikalisasi Islam di Indonesia beberapa tahun terakhir ini, sikap mereka berubah.

Nyatanya ini memang cuma berita bohong. Mudah-mudahan tak banyak yang terlanjur percaya.

Sumber Foto: 

  1. tabligh.or.id
  2. adibsusilasiraj.blogspot.com
  3. indonesia.faithfreedom.org

Komentar