Home » Editorial » Keberanian Dua Lukman

Keberanian Dua Lukman

Oleh Luthfi Assyaukanie*

Menjelang bulan puasa, ada dua isu yang membuat gempar sebagian kaum Muslim di Indonesia. Pertama, pernyataan Menteri Agama, Lukman Saifuddin, bahwa selama bulan Ramadhan kaum Muslim harus menghormati orang-orang yang tidak berpuasa. Kedua, pengumuman seorang aktor terkenal, Lukman Sardi, bahwa dirinya telah meninggalkan Islam dan masuk agama Kristen.

Dua isu itu mendapat reaksi keras dan menjadi pembahasan di forum-forum pengajian dan perdebatan di media sosial. Secara umum, sikap sebagian besar kaum Muslim “tidak nyaman” dan menganggap pernyataan Menteri Lukman sebagai sesuatu yang “janggal” dan tak pantas dilontarkan seorang tokoh Islam. Sikap yang sama ditunjukkan kepada Lukman Sardi dengan tingkat kegeraman yang lebih besar.

Tentu saja, tidak semua kaum Muslim bersikap antagonis dan menunjukkan kesempitan berpikir mereka. Ada sebagian kaum Muslim yang menyambut gembira pernyataan jujur menteri Lukman Saifuddin dan membela sikap berani yang diperlihatkan aktor Lukman Sardi. Majalah Madina Online secara tegas memberikan dukungan dan hormat kepada dua Lukman yang telah mencontohkan kejujuran dalam beragama (silahkan dibaca Menteri yang Tak Melarang Warung Beroperasi selama Ramadhan dan Pilihan Lukman Sardi Pindah Agama Harus dihormati, karena ‘Tidak Ada Paksaan dalam Agama’).

Apa yang dilakukan oleh dua Lukman merupakan contoh betapa bersikap jujur dalam beragama di negeri ini masih menjadi sesuatu yang mahal. Menyatakan sesuatu yang benar di tengah keyakinan publik yang keliru adalah sebuah tindakan berani yang tak semua orang sanggup melakukannya. Di hari-hari ketika kehidupan kita diancam oleh gerombolan kaum kolot, tindakan yang dilakukan oleh dua Lukman adalah sebuah contoh kepahlawanan.

Kalau mau jujur, apa yang dilakukan oleh dua Lukman sesungguhnya merupakan hal yang biasa saja dan sah secara agama. Islam secara tegas memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih keyakinan dan agamanya. Tidak ada paksaan dalam beragama. Kaum Muslim yang imannya kokoh tak akan pernah merasa terganggu dengan seorang yang keluar dari Islam, apalagi dengan sebuah rumah makan yang buka pada siang hari di bulan Ramadhan.

Di tengah masyarakat yang sakit dan berlebihan dalam beragama, menyatakan sesuatu yang benar kerap dianggap keliru dan dipandang sebagai sesuatu dosa. Tidak ada satu ajaran pun dalam Islam yang menganjurkan agar rumah makan harus tutup pada siang hari di bulan Ramadhan demi menghormati kaum Muslim yang berpuasa. Ajaran seperti ini hanya keluar dari orang-orang pengecut, lemah iman dan gila hormat.

Berpuasa adalah sebuah laku spiritual dalam kesunyian, bukan sesuatu yang harus dipertontonkan dan meminta orang lain agar menghormatinya. Hormat harus diberikan kepada manusia, baik yang berpuasa atau tidak. Orang yag merasa memiliki keistimewaan semata-mata karena dia berpuasa pasti ada yang salah dengan dirinya, ada yang keliru dengan mentalnya. Manusia yang tidak berpuasa memiliki hak yang sama untuk dihormati dengan manusia-manusia lain yang berpuasa.

Begitu juga, sikap antagonis kepada orang yang keluar dari Islam merupakan refleksi dari ketakutan akan kekurangan pengikut dan cermin dari kekhawatiran akan kualitas agama sendiri. Jika seseorang meyakini bahwa agamanya adalah yang terbaik, dia seharusnya tak merasa sedih atau galau jika ada orang yang meninggalkannya. Agama yang baik, sama seperti institusi apapun yang baik, tak akan pernah merasa kekurangan orang, tak akan pernah merasa galau dengan keluarnya satu atau dua orang.

Masalah riddah (atau murtad dalam bahasa Indonesia) memang masih menjadi isu besar di dunia Muslim. Di beberapa negara Muslim (yang terbelakang) seperti Bangladesh dan Pakistan, seorang Muslim yang menyatakan diri keluar dari Islam, akan terancam jiwanya. Jangankan keluar dari Islam, memiliki pendapat yag dinilai berbeda dari keyakinan utama Islam saja sudah dianggap keluar dari Islam (kafir), dan karenanya, darahnya halal.

Tak ada yang lebih primitif dari menghukum orang yang memilih sebuah keyakinan berbeda. Alquran dalam hal ini sangat modern. Jauh lebih modern dari sebagian penafsirnya yang berpikiran sempit dan berperilaku kolot. Kitab suci ini secara tegas dan jelas memberikan kebebasan bagi setiap manusia untuk memilih agamanya. Tidak ada paksaan dalam beragama.

Kita hidup di zaman modern, di mana nilai-nilai warisan abad pertengahan yang tak lagi dipandang layak harus ditinggalkan. Hukuman mati kepada pelaku riddah adalah bagian dari sisa-sisa doktrin abad pertengahan yang harus ditinggalkan. Bukan saja ia betentangan dengan Alquran sendiri, tapi juga bertentangan dengan nilai-nilai global yang dijunjung manusia modern.

Akhirnya, sekali lagi, apa yang telah dilakukan oleh Lukman Saifuddin dan Lukman Sardi merupakan contoh keberanian dan kejujuran dalam beragama. Tidak seharusnya kita mengecam doa tokoh itu. Sebaliknya, kita harus memberikan dukungan dan apresiasi yang tinggi kepada keduanya.

Di tengah ketakutan dalam beragama dan di tengah kemunafikan dalam mempertontonkan simbol-simbol kesalihan, apa yang dilakukan dua Lukman merupakan air segar penyejuk iman.

 

*Luthfi Assyaukanie adalah dosen di Universitas Paramadina.

Komentar