Home » Editorial » Jangan Panggil Non-muslim Kafir!

Jangan Panggil Non-muslim Kafir!

Saat ini beredar pandangan bahwa penyebutan istilah ‘kafir’ terhadap umat non-muslim (terutama Kristen) adalah sesuatu yang normal dan memang sejalan dengan ajaran Islam.

Mereka yang berpandangan begitu lazim merujuk pada ayat-ayat Al Quran yang, menurut mereka, menunjukkan bahwa kaum non-muslim identik dengan kaum kafir.

Karena itu, kata mereka, kita sebaiknya membiasakan diri menggunakan kata kafir ketika menyebut non-muslim, dan kaum non-muslim sebaiknya tidak tersinggung dengan pernyataan itu.

Pandangan itu datang bukan saja dari kalangan awam tapi juga pemuka agama.

Penyebutan non-muslim sebagai ‘kafir’ itu bahkan dilakukan sejak anak masih menjalani pendidikan dasar dan diajarkan oleh para guru agama.

Saya menganggap ada sejumlah persolan besar dengan argumen itu.

Pertama, jelas pengidentikkan non-muslim dengan kafir tidak disetujui oleh semua ulama atau ahli Islam. Kaum ahli Islam di indonesia seperti Quraish Shihab, Mustofa Bisri, Ahmad Syafii Maarif, Nurcholish Madjid (alm.), Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat, Mun’im Sirry, Sumanto Al Qurtuby,  menganggap kafir itu bukan penamaan pada kaum non-muslim. Jadi ada banyak pihak yang berpendapat berbeda dengan anggapan bahwa non-muslim itu kafir.

Kedua, kalaupun Anda menganggap bahwa dalam Islam semua non-muslim adalah kafir, itu tetap bermasalah disampaikan di ruang publik, karena kata ‘kafir’ mengandung konotasi buruk.

Jadi dalam bahasa, ada makna denotatif, ada makna konotatif. Makna denotatif merujuk pada makna sesungguhnya. Makna konotatif merujuk pada makna sampingan, makna asosiatif yang diterima secara umum. Sebagai contoh, kata ‘babi’ sebenarnya memiliki makna denotatif yang netral, dan sekadar merujuk pada seekor hewan ciptaan Tuhan. Tapi orang akan tersinggung disebut ‘babi’, karena makna konotatifnya buruk.

Kata kafir bisa saja dianggap memiliki makna denotatif yang netral. Tidak ada makna negatif di dalamnya. Tapi di tengah masyarakat, kata kafir itu dimaknai sebagai sesuatu yang ‘buruk’ dan ‘rendah’. Apalagi di dalam Islam, ada pula ayat-ayat yang memerintahkan umat Islam memerangi kaum kafir. Jadi wajar, bila masyarakat menganggap kafir sebagai kaum yang ‘buruk’.

Dalam hal ini, umat Islam tidak bisa mengatakan bahwa ketika mereka mengucapkan kata ‘kafir’, mereka tidak bermaksud merendahkan. Yang penting bukanlah niat pihak yang mengucapkan. Yang penting, apa pemaknaan masyarakat terhadap kata itu secara umum. Jadi wajar kalau umat Kristen tersinggung bila disebut sebagai ‘kafir’.

Ketiga, kalaupun sebagian umat Islam memang menganggap semua orang non-muslim sebagai kafir, apakah itu layak diucapkan di depan umum? Dalam bermasyarakat, tidak semua hal yang kita percaya sebagai kebenaran layak diucapkan, terutama kalau itu bisa menyakiti perasaan orang lain.

Sebagai contoh, mayoritas umat Islam menganggap  Kitab Injil adalah kitab suci yang sudah diselewengkan. Tapi apakah itu pantas dibicarakan di depan publik yang di dalamnya ada umat Kristen?

Sebaliknya, mayoritas umat Kristen menganggap Nabi Muhammad adalah orang yang mengaku-aku sebagai Nabi (alias Nabi palsu) dan Al Quran itu bukan kitab suci melainkan buku karangan Nabi Muhammad. Tapi apakah pantas itu dibicarakan di depan publik yang di dalamnya ada umat Islam?

Karena itu marilah kita berharap agar para pemuka agama dan masyarakat umum berhenti menggunakan istilah ‘kafir’ pada umat non-muslim. Itu hanya akan menimbulkan perpecahan.

Lagipula, apa salahnya menggunakan kata ‘non-muslim’ untuk menyebut kaum ‘non-muslim’? Lebih netral dan tidak menyinggung perasaan orang.

Tapi tentu saja, pandangan ini hanya relevan bagi mereka yang menganggap umat Islam dan umat non-muslim adalah dua kaum yang bersaudara yang sebaiknya bersatu dalam kehidupan bermasyarakat. Bagi mereka yang menganggap non-muslim sebagai musuh, memang lain ceritanya.

(Ade Armando)

Komentar