Home » Editorial » Islam 15 Menit
(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 1, Tahun 1, Januari 2008 di Rubrik Laporan Utama)

Perupa Andy Warhol menyimpulkan dengan tepat zaman budaya pop: “Di zaman ini, setiap orang hanya bisa terkenal selama 15 menit.”Dalam ungkapan pendek ini, tercakup sebuah pemahaman akan sifat zaman ini: zaman yang riuh, serba cepat, semua saling berdesak untuk menjadi bermakna.

Islam 15 Menit

Lantas, bagaimana Islam di tengah segala keriuhan ini? Di wilayah budaya pop, Islam mengalami risiko yang sama dengan semua ide lain –hanya punya waktu 15 menit untuk menarik perhatian. Sayangnya, wilayah ini agaknya masih tertatih-tatih disusuri Islam.

Banyak keengganan, ketegangan, bermula dari kerancuan memahami budaya pop. Ada yang memahami budaya pop dalam produk-produknya, seperti musik, film, televisi, komik, junk food, minuman soft drink, celana jeans, dan sebagainya. Sebagian kelompok muslim menafsir lebih jauh: semua produk budaya pop yang sedang merajalela itu adalah hasil “konspirasi Yahudi” untuk merusak akhlak kaum muda dan masyarakat muslim.

Dari teori konspirasi ini, lahir sikap mencoba mensterilkan diri dari produk-produk budaya pop yang ada. Atau (alhamdulillah!) mencoba membuat produk-produk tandingan. Awal 2008 ini saja, akan beredar Ayat-ayat Cinta karya sutradara terbaik FFI 2007, Hanung Bramantyo. Juga, rencananya pertengahan tahun, film Kun Fa Yakun yang diproduksi oleh ustadz Yusuf Mansyur. Dari awal tahun, ustadz muda ini sudah melakukan roadshow untuk filmnya, menjual voucher menonton film itu kepada jamaahnya.

Namun dunia budaya pop adalah dunia yang sering tak dapat diramal. Betapa banyak yang jatuh bangun, mencoba menyiasati diktum “15 menit” itu, dan gagal. Ikon-ikon budaya pop yang masyhur saat ini, seperti Madonna atau Coca Cola, dianalisa mampu bercokol lama di benak masyarakat karena mereka mampu mereproduksi citra diri berulang-ulang.

Demikian juga Deddy Mizwar, yang menurut Garin Nugroho adalah sebuah metamorfosis. Dalam 33 tahun, Deddy berubah dari seorang aktor film hingga kini menjadi sutradara film-film Islam paling berhasil di Indonesia. Demikian juga musik-musik bernuansa Islam, mengalami metamorfosa dari tembang dan qasidah hingga Dhani Ahmad dan Opick. Seperti jilbab, yang pada pertengahan 1980-an adalah sesuatu yang terlarang menurut rezim Orba, politik identitas yang keras menurut kalangan harakah, dan kini telah jadi industri sinetron, seni panggung, juga fashion dan konveksi?

Apakah “Islam” juga harus selalu menciptakan diri agar bisa mengubah 15 menit hingga bertahun-tahun atau bahkan berabad-abad ke depan? Laporan Utama Madina nomor pertama ini mencoba menelusuri liku-liku budaya pop Islam di Indonesia, sebagian dari dinamika terkini perkembangan kultural dan sosial Islam. Telusur ini difokuskan pada bidang film, musik, sinetron dan industri televisi, serta dunia penerbitan. Sengaja, banyak wilayah budaya pop dan Islam yang dibiarkan terbuka, untuk sekarang.

Yang jelas, memang selalu ada risiko di wilayah ini. “Pop” dalam bahasa Inggris juga berarti bunyi gabus yang meletup lepas dari botol wine, atau bunyi gelembung sabun yang pecah. Dan bunyi itu hanya kurang dari 15 detik saja.***

Komentar