Home » Editorial » Hanya Karena Si Steven Menghina Gubernur NTB dengan Umpatan Rasis, Tidak Berarti Orang Tionghoa Rasis

Hanya Karena Si Steven Menghina Gubernur NTB dengan Umpatan Rasis, Tidak Berarti Orang Tionghoa Rasis

Kubu anti Ahok terus menyebarkan hujatan bernuansa rasis.

Yang terbaru adalah soal seorang pemuda Tionghoa bernama Steven Hadisurya Sulistyo yang terbukti menghina Gubernur NTB dengan ucapan-ucapan rasis.

Tempat kejadian perkaranya di Bandara internasional, Singapura.

Gara-gara menyangka Tuang Guru Bajang Muhammad Zainul Mujadi (Gubernur NTB) menyerobot antrian penumpang, si Steven dengan arogan memaki dengan ucapan rasis: “Dasar Pribumi, Tiko”.

Belakangan diketahui arti Tiko itu adalah tikus kotor, bahkan bisa memiliki arti “ti= babi” dan “ko= anjing.”

Tuan Guru Bajang sempat berencana mengadukan penghinaan tersebut ke pihak kepolisian, namun kemudian diurungkan setelah Steven secara resmi menyampaikan permintaan maaf di surat bermaterei.

Masalah menjadi berlanjut karena banyak pihak kemudian menggunakan kasus Steven ini sebagai contoh betapa rasisnya kaum Tionghoa terhadap kaum ‘pribumi’.

Media online portal-islam.id menulis: “INILAH SATU BUKTI YANG SANGAT JELAS MEREKALAH YANG RASIS DAN SUKA MENGHINA”.

Dan seperti biasa ini kemudian dikait-kaitkan dengan Pilkada DKI dan ancaman berkuasanya kum Tionghoa.

Ini tentu saja memalukan.

Bahwa Steven itu orang Tionghoa yang memuakkan, saya setuju. Tapi ketololan Steven tidak bisa ditimpakan pada semua orang Tionghoa.

Ada orang Tionghoa rasis. Ada yang tidak.

Sebgai contoh, saya paparkan di sini informasi soal warga Tionghoa lain, bernama dr. Lo Siauw Ging.

Dr. Lo adalah seorang dokter di Solo (di jalan Jagalan 27) yang tidak pernah menetapkan tarif pada pasiennya. Pada mereka yang tidak mampu, dr Siau tidak meminta bayaran. Dia bahkan bisa memberikan obat gratis. Dia akan mengatakan bahwa lebih baik uangnya digunakan untuk membeli makanan dan keperluan rumah tangga si pasien.

Bagi dokter yang sudah berusia 82 tahun ini, uang akan datang dengan sendirinya. Dia percaya kewajiban seorang dokter adalah menolong orang yang sakit. Baginya, seorang dokter tidak boleh menjadikan kekayaan sebagai tujuan hidup.

Hampir semua pasiennya bukanlah orang Tionghoa. Bagi dr. Lo, manusia adalah manusia, dan tidak boleh dibedakan atas dasar suku, agama, ras, ataupun status ekonomi.

Dr. Lo mengaku bisa melakukan ini semua karena orang-orang yang menginspirasinya. Ketiganya orang Tionghoa. Ketiga orang itu adalah: ayahnya (seorang pedagang), dokter Oen (seniornya) dan Gan May Kwee (istrinya).

Dr. Lo adalah contoh orang Tionghoa yang baik.

Tentu saja kita tak bisa mengatakan karena ada contoh dr. Lo, maka semua warga Tionghoa baik.

Ada warga Tionghoa rasis, ada warga Tionghoa baik.

Begitu juga ada Muslim baik, ada Muslim jahat.

Sebagai contoh: saya orang Minang. Dan saya akan keberatan kalau dikatakan orang Minang itu korup, hanya karena saat ini dua mantan pejabat asal Minang sedang dijadikan terdakwa korupsi: Irman Gusman dan Patrialis Akbar.

Saya orang Muslim. Dan saya keberatan kalau para ulama dianggap mesum hanya karena Rizieq Shihab diduga berzina dengan Firza.

Jadi marilah tidak membesar-besarkan kasus Steven dan umpatan ‘tiko’nya. Steven memang rasis. Tapi tidak bisa Steven dianggap sebagai wakil kaum Tionghoa.

Kita sebaiknya menggunakan prinsip: orang baik bersahabat dan bekerjasama dengan orang baik melawan orang jahat. Ras, etnik, dan agama sama sekali tidak menentukan.

Komentar