Home » Editorial » Ekstremisme atas Nama Islam dan Pembakaran Gereja di Mesir

Kaum ekstremis Islam di Mesir menyerang toko yang menjual alkohol, juga gereja. Pemerintah dan kaum moderat bertindak.

Ekstremisme atas Nama Islam dan Pembakaran Gereja di Mesir

Kejatuhan Presiden Husni Mubarak di Mesir ternyata menimbulkan berbagai masalah baru. Salah satunya adalah kebangkitan kaum ultrakonservatif Muslim yang merasa leluasa untuk menyerang kaum minoritas Kristen. Bahkan ada tanda-tanda bahwa ekstremisme ini ditunggangi para pengikut Mubarak yang ingin menciptakan ketidakstabilan negara.

Satu peristiwa terpenting yang mencerminkan ancaman disintegrasi ini adalah serangan terhadap dua gereja di Kairo, 8 Mei 2011. Diperkirakan 15 orang tewas saat massa Muslim mengepung dan menyerang sebuah gereja di Kairo dan membakar sebuah gereja lainnya.

Ada kesimpangsiuran tentang penyebab kerusuhan. Namun umumnya media menyebut, penyerangan berlangsung setelah beredar kabar bahwa gereja St. Mena yang dikepung tersebut menahan dan menyembunyikan seorang wanita Kristen yang pindah masuk Islam setelah menikah dengan seorang pria Muslim. Kabar ini tidak pernah bisa dibuktikan. Tapi itu rupanya sudah cukup untuk membangkitkan kemarahan massa.

Kristen Koptik merupakan 10 persen dari penduduk Mesir dan selama berpuluh tahun hidup bersama secara harmonis dengan umat Islam. Ini tentu saja tak berarti hubungan antar Muslim dan Kristen senantiasa berlangsung damai.  Namun semasa pemerintahan Mubarak, kalaulah ada ketegangan, itu selalu diatasi dengan tegas.
 
Setahun terakhir ini, tanda-tanda ke arah perpecahan sudah semakin terlihat. Tahun lalu, seorang pria beragama Islam menembaki dan membunuh enam pengunjung gereja di Mesir Selatan. Januari tahun ini, sebelum kejatuhan Mubarak, 21 orang tewas akibat pemboman gereja di Alexandria.
 
Kebangkitan kaum Salafi –demikian kelompok ekstrem ini disebut di Mesir– seperti menemukan momentumnya saat Mubarak jatuh. Sebagaimana FPI di Jakarta dan Taliban di Afghanistan, mereka secara terang-terangan memerangi apa yang mereka pandang bertentangan dengan ajaran Islam. Sejumlah toko yang menjual alkohol diserang. Seorang pria yang mengencani pelacur dipotong telinganya oleh kelompok itu. Massa Muslim menghentikan kereta api pada April sebagai bentuk protes mereka atas penunjukan seorang gubernur beragama Kristen di daerah Qena.

Namun penyerangan gereja kali ini rupanya sudah dianggap tidak bisa ditoleransi.  Pejabat Perdana Menteri Essam membatalkan perjalanan ke Bahran dan Uni Emirat Arab dan segera memimpin langkah-langkah darurat untuk mengatasi krisis. Sejauh ini, sudah hampir 200 orang ditahan karena dianggap terlibat dalam aksi kekerasan tersebut. Mahkamah Agung Mesir menyatakan para tahanan itu akan diadili oleh pengadilan militer.

Solidaritas rakyat Mesir pun terbangun. Seusai shalat Jumat (13 Mei), ribuan demonstran tersebut berkumpul di Tahrir Square di Kairo menyerukan persatuan nasional. “Bila kalian menyerang seorang Kristen, kalian menyerang seluruh orang Mesir!” teriak salah seorang demonstran di podium.

Ahmad Muhanna, seorang demonstran yang mengenakan ikat kepala bertuliskan ‘tentara Muhammad’, berkata: “Kita dulu bersatu saat revolusi dan kini sisa-sisa rezim lama ingin menghancurkan negara ini!”

Dunia Islam internasional pun bereaksi. International Union for Muslim Scholars yang berpusat di Doha, Qatar juga meminta para pemimpin Mesir untuk memperkuat persatuan nasional, keamanan, stabilitas, kesejahteraan melalui proses keadilan, kemerdekaan, dan musyawarah.

Dalam pernyataan yang ditandatangani pimpinan mereka, ulama besar Dr. Yusuf al-Qaradawi (12 Mei 2011), organisasi tersebut mengutuk setiap tindakan yang akan membawa perpecahan sektarian yang mempengaruhi keamanan masyarakat. Mereka meminta seluruh umat Islam, Kristen, dan seluruh spektrum politik untuk berhati-hati atas konspirasi yang berusaha menghancurkan tujuan revolusi dengan menciptakan perpecahan dan masalah yang akan menghambat tercapainya tujuan revolusi.  

Organisasi juga menolak keras segenap penggunaan kekerasan oleh kelompok manapun dan mengimbau dilangsungkannya dialog sebagai basis tunggal untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada.***

Sumber Tulisan:
Asharq-com, Islamopedia Online, Agence-France Press, LA Times, Al Jazeera.

Sumber Foto:
1. http://www.wartanews.com
2. http://www.arabglot.com
3. http://www.eramuslim.com

Komentar