Home » Editorial » Dwi dan Wajah pejuang ‘Kafir’ di Mata Uang Rupiah

Dwi dan Wajah pejuang ‘Kafir’ di Mata Uang Rupiah

Oleh Ade Armando

Kenapa semakin banyak muslim terpelajar saat ini bermental pecundang?

Lihat saja kasus Dwi Estiningsih. Dia berpendidikan tinggi, mendapat gelar Master di bidang psikologi. Dia adalah caleg Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk daerah Yogyakarta, 2014.

Lucunya, dia mengecam uang baru Rupiah karena dari 11 pejuang Indonesia yang wajahnya ditampilkan, lima di antaranya adalah tokoh-tokoh non-muslim.

“Luar biasa negeri yang mayoritas Islam ini. Dari ratusan pahlawan terpilih 5 dari 11 adalah pahlawan kafir,” tulis Dwi.

Tapi yang lebih tolol adalah pernyataan Dwi berikutnya: “Iya sebagian kecil dari nonmuslim berjuang, mayoritas pengkhianat. Untung saya belajar sejarah,” tulisnya.

Dwi juga memprotes foto Cut Meutia di uang Rp 1.000 kertas yang tidak memakai jilbab. “Cut Meutia, ahli agama & ahli strategi. Bukan ahli agama bila tak menutup aurat,” tulisnya.

Ada banyak masalah dengan cara berpikir Dwi.

Cacat terbesar adalah meyakini orang nonmuslim pengkhianat. Dwi pasti tidak belajar sejarah, tidak baca buku sejarah, dan mungkin hanya mengandalkan kebohongan yang disebarkan guru di komunitasnya. Saya tak habis paham bagaimana seorang master bisa tiba pada kesimpulan seterbelakang ini.

Menganggap foto Cut Meutia pasti berjilbab adalah keserampangan lain. Tidakkah dia sadar bahwa gambar Cut Meutia yang ada selama ini memang yang digunakan dalam uang Rupiah baru itu? Tidakkah dia sadar bahwa gaya berjilbab seperti yang dikenakan Dwi saat ini baru menjadi populer beberapa puluh tahun terakhir ini? Di komunitas-komunitas muslim taat di Sumatra di masa lalu, sangat lazim yang dikenakan kaum wanita dewasa hanyalah kerudung yang tidak selalu menutup kepala dan sekadar diselempangkan.

Soal kuota pejuang muslim pun menggelikan. Bagi Dwi, masyarakat Indonesia dilihat sebagai harus dibelah antara kaum muslim dan kaum non-muslim. Dan Dwi dengan bodohnya menyamakan non-muslim dengan kafir – sesuatu yang mencerminkan kedangkalan pendidikan agama yang diperolehnya.

Dwi seperti tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa kafir mengandung makna pengingkaran terhadap Allah dan perintah-perintahNya, dan itu bisa saja dilekatkan kepada mereka yang mengaku beragama Islam ataupun non-Islam.

Dwi seperti tidak tahu atau pura-pura tidak tahu dengan ayat Al Quran sendiri yang menggambarkan dengan positif kaum Nasrani sebagai orang-orang soleh.

Dengan kicauannya, Dwi seperti mempertontonkan kebodohannya. Mudah-mudahan ini semakin membuka mata kita tentang arti penting pendidikan bagi umat Islam. Kalau yang berpendidikan tinggi saja begini sikapnya, bagaimana pula dengan yang lainnya?

Komentar