Home » Editorial » Dua Agama, Allah yang Sama

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 9, Tahun I, September 2008 di Rubrik Laporan Utama)

Para pemuka Islam dan Kristen berusaha membawa umat ke arah titik-titik temu bersama.

Dua Agama, Allah yang Sama

Cerita ketidakrukunan kedua agama ini memang masih berlanjut. Ada saja mereka yang senang menggunakan kata-kata penuh murka dan curiga. Padahal keduanya berasal dari sumber yang Satu. Tak ada alasan untuk berseteru.

Bayangkanlah bila umat Islam dan umat Kristen dapat bersatu dalam keluarga umat manusia yang saling menyayangi, mengasihi, bekerjasama, membantu, dan melindungi.

Bayangkanlah betapa damai dan sejahteranya hidup dalam kesatuan umat beragama.

Mimpi itu yang kini sedang berupaya dibangun oleh komunitas tokoh, cendekiawan, intelektual, dan pemuka dua agama besar dunia – Islam dan Kristen – melalui proyek besar Common Word. Ada 138 tokoh Islam dan 300 tokoh Kristen dari berbagai negara bergabung di dalamnya.

Apa yang mereka lakukan berinti pada satu hal: berbicara dan berbagi. Istilah Common Word itu sendiri merujuk pada gagasan bahwa betapa di antara dua agama besar ini ada begitu banyak persamaan keyakinan yang seharusnya melampaui perbedaan-perbeaan kecil yang ada.

Common Word berasal dari sebuah konferensi yang diadakan di Yordania pada September 2007, atas dukungan didukung Raja Abdullah II. Dari sana, sebuah surat yang ditandangani 138 cendekiawan, ulama dan intelektual Muslim dikirim kepada — dan kemudian direspons — para pemimpin Kristen dunia. Surat-menyurat penuh nada hormat antara para pemuka itulah yang kemudian dituangkan dalam Common Word.

Yang terpenting dalam surat-menyurat itu adalah pernyatan bersama untuk membangun perdamaian berdasarkan kasih, mengingat kedua agama memiliki kepercayaan dasar yang sama tentang Allah Yang Esa dan tentang kasih kepada sesama manusia sebagai rancangan dasar Allah dalam semua hubungan.

Dalam kumpulan surat yang kini sudah diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia ini terbaca bagaimana para pemuka kedua agama percaya bahwa perdamaian di dunia ini tidak akan tercapai tanpa perdamaian dan kerjasama antara umat Islam dan Kristen. Dan ini seharusnya mudah dilakukan karena kedua agama mengajarkan kepercayan yang sama tentang kasih kepada Allah dan sesama manusia.

Di kedua agama, kewajiban untuk mengasihi sesama, bersikap adil, menolong kaum miskin, anak yatim ditetapkan tanpa batas kaum. Mengasihi sesama berarti mengasihi semua orang, tanpa membedakan agama. Yang harus dilawan adalah kezaliman, siapapun yang melakukannya. Kedua umat harus bersatu untuk melawan apapun yang menjauhkan umat manusia dari Tuhan.

Ada begitu banyak tokoh terkemuka yang menandatangani surat tersebut, antara lain: Dr. Akbar Ahmad, Dr. Hasan Hanafi, Anwar Ibrahim, Dr. Hossein Nasr. Dari Indonesia, wakilnya adalah Dr. Nasaruddin Umar. Jawaban dari para tokoh Kristen dan Katolik dimuat dalam harian The New York Times, 18 November 2007.

Pembakaran Gereja
Surat ini menjadi penting karena saat ini memang ada kekhawatiran serius bahwa konflik antar dua umat agama terbesar di dunia ini semakin memburuk. Contoh-contohnya dengan mudah ditemukan di skala global maupun nasional.

Kasus terakhir di Indonesia adalah apa yang terjadi akhir Juli lalu pada Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar (SETIA) di daerah Jakarta Timur. Kompleks sekolah itu diserang sehingga dua bangunan kampus hancur, sejumlah orang luka-luka, dan ratusan mahasiswanya harus divekuasi. Mereka sempat menginap beberapa hari di DPR, sebelum kemudian diungsikan ke kamp perkemahan Cibubur.

Ada banyak versi cerita berbeda beredar. Versi resminya, warga merasa kehadiran kampus tersebut mengganggu kenyamanan hidup permukiman yang sudah  padat. Tapi sulit untuk menghindari dugaan bahwa yang menjadi latar belakang adalah soal agama. Tahun lalu, sebenarnya sudah ada yang meminta agar sekolah teologi itu ditutup. Yang mengajukan tuntutan: Front Pembela Islam. Seusai kerusuhan pun, walikota Jakarta Timur sempat mengeluarkan pernyataan bahwa warga minoritas sebaiknya tahu diri.

Apalagi, kasus ini tak berdiri sendiri. Penyerangan terhadap gereja dan tempat peribadatan lain juga banyak terjadi beberapa tahun terakhir ini. Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) awal tahun ini melaporkan bahwa, antara 2004-2007, berlangsung 108 kasus penutupan, penyerangan dan perusakan gereja, terutama di wilayah Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Poso dan Bengkulu.

Di benak banyak orang, juga masih melekat kenangan pahit konflik berdarah di Maluku dan Poso. Memang, banyak pihak menganalisa bahwa kerusuhan itu bukanlah konflik horizontal yang bermotif agama semata-mata, tapi adalah konflik vertikal dan konflik politik. Apapun latar belakangnya, yang jelas konflik itu sudah terjadi dengan memakan korban nyawa ribuan orang dan menghancurkan bukan saja sarana fisik tapi juga hubungan mesra antar etnik dan agama yang terpelihara sebelumnya selama banyak generasi.

Di belahan dunia lain, konflik antar umat ini tak lebih sepi. Di Eropa, gerakan penolakan pembangunan masjid – yang memang tumbuh pesat — semakin lantang terdengar. Yang dilakukan bukan cuma protes damai tapi  penyerangan fisik, pelemparan bom, penghancuran. Di Austria dan Swiss bahkan ada upaya melahirkan undang-undang pelarangan pembangunan masjid baru.

Gagasan untuk mengusir orang-orang Islam dari Barat telah menjadi wacana yang lazim terdengar di parlemen-parlemen Eropa. Di negara sedemokratis Prancis, berjilbab menjadi hal terlarang di sekolah dan lembaga publik. Calon presiden AS, Barack Obama diserang habis-habisan karena bukan saja kedekatannya dengan komunitas Islam, tapi juga karena dalam dirinya mengalir darah ayahnya yang beragama Islam.

Para pemuka agama yang diharapkan mendamaikan jiwa umat, seringkali menjadi pihak yang justru memperburuk keadaan. Di Amerika Serikat, misalnya, ada Jimmy Swaggart, pendeta terkemuka yang suka sekali memaki Islam. Ia misalnya beberapa tahun lalu menggambarkan Nabi Muhammad sebagai seorang “maniak seks”. Dia juga meminta pemerintah AS mengusir saja semua mahasiswa Muslim.

Ada pula pendeta-pendeta semacam Jerry Falwell dan Pat Robertson. Falwell pernah menyebut Nabi Muhammad sebagai “teroris”, sementara Robertson menuduh umat Islam berhasrat membinasakan orang-orang Yahudi.

Pemuka agama yang senang menyerang agama lain ini ada dua sisi. Baik di gereja maupun di masjid, tak jarang ditemukan para pengkutbah – yang kadang berbicara melalui pengeras suara — menjelek-jelekkan umat beragama lain. Film kontroversial Geert Wilders, Fitna, misalnya, menyajikan cuplikan kutbah seorang imam masjid yang dengan yakin menyatakan Allah memerintahkan umat untuk membunuhi kaum non-Islam.

Di Indonesia, orang juga mudah orang memperoleh berbagai VCD dan publikasi berisikan debat teologis yang lazimnya memojokkan agama. Karena di Indonesia, yang mayoritas adalah umat Islam, maka yang lebih gampang dibeli adalah rekaman yang menyudutkan agama Kristen. Judul-judul rekamannya sangat provokatif: “Apakah Yesus itu Tuhan?”, “Islam Meluruskan Kristen”, atau “Penyaliban Yesus, Fakta atau Fiksi?”

Dalam suasana itu, membenci umat lain justru menjadi nampak seolah-olah normal. Dalam buku Gereja-gereja Dibakar, Adian Husaini misalnya berargumen bahwa pembakaran gereja di Indonesia bisa dipahami karena sejumlah hal. Menurutnya, gereja bukanlah sekadar merupakan tempat peribadatan melainkan merupakan sarana untuk melakukan kristenisasi. Dengan kata lain, gereja adalah sebuah sarana untuk melakukan pemurtadan. Dalam hal ini, mengingat Islam menetapkan hukuman mati atas mereka yang murtad, maka hukuman serupa mungkin bisa diterapkan pada mereka yang melakukan “pemurtadan”.

Penyebabnya: penyebaran agama?
Banyak pihak melihat bahwa, berada tepat di dasar konflik ini adalah adanya semangat penyebaran nilai-nilai kebenaran yang dipercaya masing-masing umat kedua agama. Para pimpinan gereja memang secara tegas memerintahkan penyebaran kabar Injil ke seluruh dunia, sementara para pemuka Islam juga percaya akan kewajiban mendakwahkan kebenaran Islam ke seluruh umat manusia.

Konflik ini misalnya bisa dilacak sampai ke Perang Salib. Selama sekitar 275 tahun (1095-1270), berlangsung rangkaian perang yang dimulai dengan kerisauan pemuka gereja akan ekspansi kekhalifahan Islam yang memang memasuki wilayah-wilayah Kristen. Sejak perang itu, rivalitas Islam dan Kristen seperti selalu mewarnai sejarah perdaban.

Belakangan ketegangan Islam dan Kristen ini kembali mengemuka dalam proses kolonialisme Barat di Dunia Ketiga, termasuk di negara-negara Islam. Penjajahan itu sendiri bisa jadi tidak didasarkan pada terutama hasrat penyebaran agama, kecuali dalam kasus  kolonialisme Spanyol yang memang mendapat tugas dari Kepausan di Roma untuk menyebarkan agama Katolik ke seluruh dunia. Namun pada kasus-kasus lain, keterkaitan antara politik, ekonomi dan agama pun terlihat. Setidaknya, pada masa kolonialisme ini berbagai lembaga misionaris Kristen tumbuh dan mendapat perlindungan pemerintahan kolonial.

Dengan latar belakang sejarah semacam itu, kecurigaan antar umat terpelihara. Sampai saat ini, isu Kristenisasi versus Islamisasi terus bertahan. Sayangnya seringkali ini dijustifikasi oleh kenyataan lapangan. Misalnya saja dalam tragedi Tsunami Aceh 2004, diketahui adanya badan-badan bantuan Kristen asing yang datang bukan hanya untuk misi kemanusiaan, namun juga menyebarkan ajaran Kristen. Sedemikian bermasalahnya, sampai-sampai pemerintah Indonesia saat itu meminta sejumlah lembaga bantuan itu meninggalkan Indonesia.

Contoh lain adalah kasus pembangunan Menara Doa Jakarta. Bangunan megah itu didirikan atas prakarsa seorang pendeta kontroversial, bernama Abraham Alex Tanuseputra. Ia dikabarkan sangat sukses melakukan pengabaran Injil, sampai-sampai Gereja Bethany yang dipimpinnya dalam 30 tahun terakhir telah membangun 1000 gereja di seluruh Indonesia.

Menara Doa di kawasan Kemayoran akan menjadi monumen keberhasilannya berikutnya. Menara senilai Rp. 2,7 tiriliun itu diharapkan menjadi bangunan tertinggi di dunia, dengan tinggi yang akan mencapai hampir 560 meter. Di gedung 17 lantai itu akan terdapat restoran berputar, mall, kafe, taman hiburan, hotel, ruang serba guna/konferensi yang bisa menampung sepuluh ribu pengunjung, ruang perkantoran, pameran,pusat pendidikan dan pelatihan, serta  pusat multimedia disertai pemancar siaran radio dan televisi.
 
Di pihak sebaliknya, ada anggapan bahwa kelompok-kelompok politik Islam pada dasarnya tidak pernah sungguh-sungguh meninggalkan semangat mendirikan negara Islam yang mendiskriminasikan umat Kristen. Ini misalnya terlibat dengan lahirnya sejumlah peraturan daerah yang bersemangatkan syariah, seperti kewajiban mengenakan jilbab dan kewajiban mampu membaca Al-Quran di beberapa kota di Indonesia.

Begitu juga dengan berbagai kasus penghambatan pembangunan rumah ibadat bagi umat Kristen. Ditambah pula dengan penyebaran pengharaman pengucapan selamat Natal yang seolah-olah pernah dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia, itu semua membangun imej tentang adanya betapa tidak bersahabatnya kaum muslim terhadap umat Kristen.

Apalagi, di Arab Saudi yang kerap dibayangkan sebagai contoh negara Islam terbaik karena di situ terdapat kota-kota suci Islam, toleransi terhadap umat Kristen memang sangat rendah. Di negara itu, tak boleh ada gereja. Lebih dari itu: di sana, tidak boleh ada praktek peribadatan non-Islam. Akibatnya ribuan umat Kristen di sana tak bisa menjalankan kewajiban keagamaannya.

Ajaran yang Sama
Dengan latar belakang sejarah dan konteks kekinian yang sulit itu, para pemuka Islam dan Kristen itu berusaha, melalui Common Word, membawa umat ke arah titik-titik temu yang sama.

Pada tahap pertama yang berusaha dibangun adalah kesediaan untuk hidup berdampingan, menghargai keyakinan pihak lain serta menghormati hak orang lain untuk hidup sesuai dengan keyakinanya.

Namun, pada tahap berikutnya, jarak antara “kami” dan “mereka” pun seharusnya menyirna. Karena pada dasarnya, kedua umat percaya pada keyakinan pada Allah yang sama dan diwajibkan oleh Allah yang sama itu untuk saling mengasihi.

Islam dan Kristen adalah dua agama yang berasal dari sumber Yang Satu. Tak ada alasan bagi kedua umat untuk berseteru.


Komentar

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 9, Tahun 1, September 2008)

Islam dan Kristen berasal dari Allah yang sama, yang memerintahkan manusia untuk saling mengasihi. Bukan saling curiga.

Bayangkanlah bila umat Islam dan umat Kristen dapat bersatu dalam keluarga umat manusia yang saling menyayangi, mengasihi, bekerjasama, membantu, melindungi.

Dua Agama, Allah yang Sama

Bayangkanlah betapa damai dan sejahteranya hidup dalam kesatuan umat beragama.

Mimpi itu yang kini sedang berupaya dibangun oleh komunitas tokoh, cendekiawan, intelektual, dan pemuka dua agama besar dunia – Islam dan Kristen – melalui projek besar Common Word. Ada 138 tokoh Islam dan 300 tokoh Kristen dari berbagai negara bergabung di dalamnya.

Apa yang mereka lakukan berinti pada satu hal: berbicara dan berbagi. Istilah Common Word itu sendiri merujuk pada gagasan bahwa betapa di antara dua agama besar ini ada begitu banyak  persamaan keyakinan yang seharusnya melampaui perbedaan-perbeaan kecil yang ada.

Common Word  berasal dari sebuah konferensi yang diadakan di Yordania pada September 2007, atas dukungan didukung Raja Abdullah II. Dari sana, sebuah surat yang ditandangani 138 cendekiawan, ulama dan intelektual Muslim dikirim kepada — dan kemudian direspons — para pemimpin Kristen dunia. Surat-menyurat penuh nada hormat antara para pemuka itulah yang kemudian dituangkan dalam Common Word.

Yang terpenting dalam surat-menyurat itu adalah pernyatan bersama untuk membangun perdamaian berdasarkan kasih, mengingat kedua agama memiliki kepercayaan dasar yang sama tentang Allah yang Esa dan tentang kasih kepada sesama manusia sebagai rancangan dasar Allah dalam semua hubungan.

Dalam kumpulan surat yang kini sudah diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia ini terbaca bagaimana para pemuka kedua agama percaya bahwa perdamaian di dunia ini tidak akan tercapai tanpa perdamaian dan kerjasama antara umat Islam dan Kristen. Dan ini seharusnya mudah dilakukan karena kedua agama mengajarkan kepercayan yang sama tentang kasih kepada Allah dan sesama manusia.

Di kedua agama, kewajiban untuk mengasihi sesama, bersikap adil, menolong kaum miskin, anak yatim ditetapkan tanpa batas kaum. Mengasihi sesama berarti mengasihi semua orang, tanpa membedakan agama. Yang harus dilawan adalah kezaliman, siapapun yang melakukannya. Kedua umat harus bersatu untuk melawan apapun yang menjauhkan umat manusia dari Tuhan.

Ada begitu banyak tokoh terkemuka yang menandatangani surat tersebut, antara lain: Dr. Akbar Ahmad, Dr. Hasan Hanafi, Anwar Ibrahim, Dr. Hossein Nasr. Dari Indonesia, wakilnya adalah Dr. Nasaruddin Umar. Jawaban dari para tokoh Kristen dan Katolik dimuat dalam harian The New York Times, 18 November 2007.

Pembakaran Gereja
Surat ini menjadi penting karena saat ini memang ada kekhawatiran serius bahwa konflik antar dua umat agama terbesar di dunia ini semakin memburuk. Contoh-contohnya dengan mudah ditemukan di skala global  maupun nasional.

Kasus terakhir di Indonesia adalah apa yang terjadi akhir Juli lalu pada  Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar (SETIA) di daerah Jakarta Timur. Kompleks sekolah itu  diserang sehingga dua bangunan kampus hancur, sejumlah orang luka-luka, dan ratusan mahasiswanya harus divekuasi. Mereka sempat menginap beberapa hari di DPR, sebelum kemudian diungsikan ke kamp perkemahan Cibubur.

Ada banyak versi cerita berbeda beredar.  Versi resminya, warga merasa kehadiran kampus tersebut mengganggu kenyamanan hidup permukiman yang sudah  padat. Tapi sulit untuk menghindari dugaan bahwa yang menjadi latar belakang adalah soal agama. Tahun lalu, sebenarnya sudah ada yang meminta  agar sekolah teologi itu ditutup. Yang mengajukan tuntutan: Front Pembela Islam. Seusai kerusuhan pun , walikota Jakarta Timur sempat mengeluarkan pernyataan bahwa warga minoritas sebaiknya tahu diri.

Apalagi, kasus ini tak berdiri sendiri. Penyerangan terhadap gereja dan tempat peribadatan lain juga banyak terjadi beberapa tahun terakhir ini. Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) awal tahun ini melaporkan bahwa, antara 2004-2007, berlangsung 108 kasus penutupan, penyerangan dan perusakan gereja, terutama di wilayah Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Poso dan Bengkulu.

Di benak banyak orang, juga masih melekat kenangan pahit konflik berdarah di Maluku  dan Poso. Memang, banyak pihak menganalisi bahwa kerusuhan itu bukanlah konflik horizontal yang bermotif agama semata-mata, tetapi adalah konflik vertical dan konflik politik. Apapun latar belakangnya, yang jelas konflik itu sudah terjadi dengan memakan korban nyawa ribuan orang dan menghancurkan bukan saja sarana fisik tapi juga hubungan mesra antar etnik dan agama yang terpelihara sebelumnya selama banyak generasi.

Di belahan dunia lain, konflik antar umat ini tak lebih sepi. Di Eropa, gerakan penolakan pembangunan masjid – yang memang tumbuh pesat — semakin lantang terdengar. Yang dilakukan bukan cuma protes damai tapi  penyerangan fisik, pelemparan bom, penghancuran. Di Austria dan Swiss bahkan ada upaya melahirkan undang-undang pelarangan pembangunan masjid baru.

Gagasan untuk mengusir orang-orang Islam dari Barat telah menjadi wacana yang lazim terdengar di parlemen-parlemen Eropa.  Di negara sedemokratis Prancis, berjilbab menjadi hal terlarang di sekolah dan lembaga publik.  Calon presiden AS, Barack Obama diserang habis-habisan karena bukan saja kedekatannya dengan komunitas Islam, tapi juga karena dalam dirinya mengalir darah ayah yang beragama Islam.

Para pemuka agama yang diharapkan mendamaikan jiwa umat, seringkali menjadi pihak yang justru memperburuk keadaan. Di Amerika Serikat, misalnya, ada Jimmy Swaggart, pendeta terkemuka yang suka sekali memaki Islam. Ia misalnya beberapa tahun lalu menggambarkan Nabi Muhammad sebagai seorang “maniak seks”. Dia juga meminta pemerintah AS mengusir saja semua mahasiswa Muslim.

Ada pula pendeta-pendeta semacam Jerry Falwell dan Pat Robertson. Falwell pernah menyebut Nabi Muhammad sebagai “teroris”, sementara Robertson menuduh umat Islam berhasrat membinasakan orang-orang Yahudi.

Pemuka agama yang senang menyerang agama lain ini ada dua sisi. Baik di gereja maupun di masjid, tak jarang ditemukan para pengkhotbah – yang kadang berbicara  melalui pengeras suara — menjelek-jelekkan umat beragama lain. Film kontroversial Geert Wilders, Fitna, misalnya, menyajikan cuplikan khotbah seorang imam masjid yang dengan yakin menyatakan Allah memerintahkan umat untuk membunuhi kaum non-Islam.

Di Indonesia, orang juga mudah orang memperoleh berbagai VCD dan publikasi berisikan debat teologis yang lazimnya memojokkan agama. Karena di Indonesia, yang mayoritas adalah umat Islam, maka yang lebih gampang dibeli adalah rekaman yang menyudutkan agama Kristen.  Judul-judul rekamannya sangat provokatif: “Apakah Yesus itu Tuhan?”, “Islam Meluruskan Kristen”, atau “Penyaliban Yesus, Fakta atau Fiksi?”.
   
Dalam suasana itu, membenci umat lain justru menjadi nampak seolah-olah normal. Dalam buku Gereja-gereja Dibakar, Adian Husaini misalnya berargumen bahwa pembakaran gereja di Indonesia bisa dipahami karena sejumlah hal. Menurutnya, gereja  bukanlah sekadar merupakan tempat peribadatan melainkan merupakan sarana untuk melakukan kristenisasi. Dengan kata lain, gereja adalah sebuah sarana untuk melakukan pemurtadan. Dalam hal ini, mengingat Islam menetapkan hukuman mati atas mereka yang murtad, maka hukuman serupa mungkin bisa diterapkan pada mereka yang melakukan “pemurtadan”.

Penyebabnya: penyebaran agama?
Banyak pihak melihat bahwa, berada tepat di dasar konflik ini adalah adanya semangat penyebaran nilai-nilai kebenaran yang dipercaya masing-masing umat kedua agama. Para pimpinan gereja memang seara tegas memerintahkan penyebaran kabar Injil ke seluruh dunia, sementara para pemuka Islam juga percaya akan kewajiban mendakwahkan kebenaran Islam ke seluruh umat manusia.

Konflik ini misalnya bisa dilacak sampai ke Perang Salib.  Selama sekitar 275 tahun (1095-1270), berlangsung rangkaian perang yang dimulai dengan kerisauan pemuka gereja akan ekspansi kekhalifahan Islam yang memang memasuki wilayah-wilayah Kristen. Sejak perang itu, rivalitas Islam  dan Kristen seperti selalu mewarnai sejarah perdaban.

Belakangan ketegangan Islam dan Kristen ini kembali mengemuka dalam proses kolonialisme Barat di Dunia Ketiga, termasuk di negara-negara Islam. Penjajahan itu sendiri bisa jadi tidak didasarkan pada terutama hasrat penyebaran agama, kecuali dalam kasus  kolonial¬isme Spanyol yang memang mendapat tugas dari Kepausan di Roma untuk menyebarkan agama Katolik ke seluruh dunia. Namun pada kasus-kasus lain, keterkaitan antara politik, ekonomi dan agama pun terlihat. Setidaknya, pada masa kolonialisme ini berbagai lembaga misionaris Kristen tumbuh dan mendapat perlindungan pemerintahan kolonial.

Dengan latarbelakang sejarah semacam itu, kecurigaan antar umat terpelihara. Sampai saat ini, isu Kristenisasi versus Islamisasi terus bertahan. Sayangnya seringkali ini dijustifikasi oleh kenyataan lapangan. Misalnya saja dalam tragedi Tsunami Aceh 2004, diketahui adanya badan-badan bantuan Kristen asing yang datang bukan hanya untuk misi kemanusiaan, namun juga menyebarkan ajaran Kristen. Sedemikian bermasalahnya, sampai-sampai pemerintah Indonesia saat itu meminta sejumlah lembaga bantuan itu meninggalkan Indonesia.

Contoh lain adalah kasus pembangunan Menara Doa Jakarta. Bangunan megah itu didirikan atas prakarsa seorang pendeta kontroversial, bernama Abraham Alex Tanuseputra. Ia  dikabarkan sangat sukses melakukan pengabaran Injil, sampai-sampai Gereja Bethany yang dipimpinnya dalam 30 tahun terakhir telah membangun 1000 gereja di seluruh Indonesia.

Menara Doa di kawasan Kemayoran akan menjadi monumen keberhasilannya berikutnya. Menara senilai Rp. 2,7 tiriliun itu  diharapkan menjadi bangunan tertinggi di dunia, dengan tinggi yang akan mencapai hampir 560 meter. Di  gedung 17 lantai itu akan terdapat restoran berputar, mall, kafe, taman hiburan, hotel, ruang serba guna/konferensi yang bisa menampung sepuluh ribu pengunjung, ruang perkantoran, pameran,pusat pendidikan dan pelatihan, serta  pusat multimedia disertai pemancar siaran radio dan televisi.
 
Di pihak sebaliknya, ada anggapan bahwa kelompok-kelompok politik Islam pada dasarnya tidak pernah sungguh-sungguh meninggalkan semangat mendirikan negara Islam yang mendiskriminasikan umat Kristen. Ini misalnya terlibat dengan lahirnya sejumlah peraturan daerah yang bersemangatkan syariah, seperti kewajiban mengenakan jilbab dan kewajiban mampu membaca Al-Quran  di beberapa kota di Indonesia.

Begitu juga dengan  berbagai kasus penghambatan pembangunan rumah ibadat bagi umat Kristen. Ditambah pula dengan  penyebaran pengharaman pengucapan selamat Natal yang seolah-olah pernah dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia, itu semua membangun imej tentang adanya betapa tidak bersahabatnya kaum muslim terhadap umat Kristen.

Apalagi, di Arab Saudi yang kerap dibayangkan sebagai contoh negara Islam terbaik karena  di situ terdapat kota-kota suci Islam, toleransi terhadap umat Kristen memang sangat rendah. Di negara itu, tak boleh ada gereja. Lebih dari itu: di sana, tidak boleh ada praktek peribadatan non-Islam. Akibatnya ribuan umat Kristen di sana tak bisa menjalankan kewajiban keagamaannya.

Ajaran yang Sama
Dengan latarbelakang sejarah dan konteks kekinian yang sulit itu, para pemuka Islam dan Kristen itu berusaha, melalui Common Word,  membawa umat ke arah titik-titik temu yang sama.

Pada tahap pertama yang berusaha dibangun adalah kesediaan untuk hidup berdampingan, menghargai keyakinan pihak lain serta menghormati hak orang lain untuk hidup sesuai dengan keyakinanya.

Namun, pada tahap berikutnya, jarak antara “kami” dan “mereka” pun seharusnya menyirna. Karena pada dasarnya, kedua umat percaya pada keyakinan pada Allah yang sama dan diwajibkan oleh  Allah yang sama itu untuk saling mengasihi.

Islam dan Kristen adalah dua agama yang berasal dari sumber yang Satu. Tak ada alasan bagi kedua umat untuk berseteru.*

Komentar